Satu minggu berlalu dari hari dimana Jingga mengetahui alasan sebenarnya yang membuat Senja tiba-tiba menyakiti nya.
Kini Jingga yang lebih intens menghindar dari setiap sudut yang berkemungkinan terdapat adanya Senja. Dia sudah bertekad bahwa dia tidak ingin luluh lagi, setidaknya untuk saat ini.
Bahkan saat beberapa kali Senja dengan terang-terangan mendatangi kelasnya atau rumahnya pun Jingga selalu memberikan respon acuh dan tidak peduli. Walaupun sebenarnya tidak.
Seperti saat ini,
"Ngga, lo engga cape lari terus dari gue?" Senja terduduk di sebuah bangku di depan kelas Jingga karena lelah di acuhkan sejak 15 menit yang lalu.
"Kaka engga cape ngejar aku terus?" Jingga balik bertanya tanpa memandang ke arah Senja.
"Siapa juga yang ngejar lo?" Ujar Senja santai.
Jingga sontak menoleh dengan menautkan kedua alisnya.
"Setiap gue datengin lo, gue engga pernah lari kok, jalan santai doang gue. Jalan aja gue cape apalagi kalau ngejar." Kelakarnya.
Jingga mendengus dan melipat tangannya di dada, "Engga lucu." Cibirnya.
Berbanding terbalik dari raut kesal Jingga, Senja justru terkekeh. "Udahan kali marahnya, kan gue udah kasih penjelasan kenapa gue sampai ngelakuin itu. Gue juga udah ngaku salah ke lo, gue engga akan muluk dengan minta lo balikan sama gue, cukup lo maafin gue aja, Ngga."
Jingga terdiam, ada sisi hatinya yang tidak rela saat Senja bilang bahwa dia tidak berharap Jingga mau kembali padanya. Padahal sikap Jingga yang seperti ini juga hanya karena dia ingin lebih di perjuangkan agar nantinya Senja akan berpikir ulang untuk menyakiti nya lagi.
"Tolong bilang, apa yang harus gue lakuin supaya lo mau maafin gue?" Tanya Senja memelas. Wajahnya sarat akan permohonan.
Jingga masih diam, dia sebenarnya ingin sekali berkata bahwa dia sudah memaafkan Senja sejak saat itu, tapi tekad nya yang ingin melihat seberapa besar Senja berjuang demi maaf nya mengukuhkan hati nya untuk tetap bersikap seperti ini.
"Jingga gue___"
Triiiiingggg
Bel masuk berbunyi dan sontak membungkam mulut Senja yang hendak berkata untuk meyakinkan Jingga lagi.
"Aku masuk dulu." Pungkas Jingga singkat.
Senja hanya mampu menghela nafas lelah saat Jingga mulai melangkah masuk ke dalam kelas. Senja menyugar rambutnya frustrasi. Kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Itu sebagai hukuman bagi setiap orang yang mengambil keputusan tanpa berpikir lebih panjang ke depan.
****
Jingga mengetuk-ngetukan tangannya di atas meja. Tatapan nya kosong kedepan walaupun guru di depannya tak henti menjelaskan materi pelajaran yang sedang berlangsung.
Dafira yang duduk di sampingnya sudah berkali-kali menyenggol tangannya agar Jingga memutuskan lamunannya, tapi nihil.
"Jingga Lasvenna."
Seruan itu membuat Dafira hanya mampu meringis mendapati sahabatnya tidak juga bergeming.
"JINGGA LASVENNA"
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)
Teen FictionJika jatuh cinta adalah sebuah pilihan, maka Jingga memutuskan untuk memilih jatuh kepada Senja. Karena dia yakin Senja akan menangkapnya, tidak akan membiarkan dia terjatuh sendirian. Semburat orange yang muncul di penghujung sore, datang sekilas n...
