Part 43- Bencana

864 52 0
                                        

Jingga baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar sana. Dengan segera Jingga membuka pintu setelah menggulung rambutnya dengan handuk ke atas.

"Ada apa kak?" Tanyanya saat melihat Jemmy tersenyum simpul di depan pintu.

Jingga mengernyit, tidak biasanya kakaknya ini senyum-senyum sendiri tidak jelas seperti sekarang. Karena wajah Jemmy lebih sering menampakan raut serius.

Jemmy masih tersenyum saat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi kasur Jingga. Jingga hanya mengikutinya dengan bingung, lalu duduk di samping kakaknya itu.

"Kakak habis menang tender?" Tanya Jingga lagi, mulai penasaran.

Jemmy menggeleng, masih dengan senyum di wajah tampannya. Sedangkan Jingga mulai kesal dengan sikap aneh kakaknya ini.

"Terus kenapa? Jangan bikin aku emosi deh kak." Sungutnya.

Jemmy menoleh ke arah Jingga lalu tertawa.

"Kok jadi emosi sih, Dek? Kan kakaknya lagi seneng." Katanya santai.

Jingga hanya memutar bola matanya malas lalu melenggang ke depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya.

Jemmy tersenyum lagi, lalu mengikuti Jingga yang sudah duduk di depan meja rias. Jemmy berdiri di belakang adiknya, dan dengan lembut membantu Jingga mengeringkan rambutnya.

Dan, Jingga semakin bingung dengan perilaku kakaknya itu.

"Kakak kenapa sih?" Tanya Jingga.

Dia menghentikan gerakan tangannya kakaknya yang masih sibuk mengusap rambutnya.

Lagi, Jemmy tersenyum lagi. Lalu setelahnya sebuah kalimat membuat mata Jingga membulat.

"Kakak Jadian sama Syelon, Dek." itu dia.

Jingga memutar tubuhnya menghadap ke Jemmy, di tatapnya dengan lekat wajah tampan kakaknya itu. Setelah dua tahun, benarkah?

"Seriously?" Tanya Jingga masih tidak yakin.

Jemmy tersenyum, lalu mengangguk lagi.

"Kok bisa?"

Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Jemmy memutar tubuh Jingga menghadap cermin dan melanjutkan mengeringkan rambut Jingga, namun Jingga kembali memutar tubuhnya menghadap Jemmy.

"Ih jawab dulu kak, Kok bisa?"

Jemmy menghiraukannya dan kembali memutar tubuh Jingga. Kali ini Jingga menurut saja.

"Dia cewek yang setia, Dek, sangat gigih. Dua tahun.. Dua tahun dia engga pernah berhenti ngebuktiin ke kakak kalau perasaannya itu engga main-main. Kamu tau, dia bahkan pernah dapat perlakuan kurang menyenangkan dari karyawan di kantor kakak."

Jingga menaikan sebelah alisnya, tapi tidak bertanya. Dia membiarkan kakaknya melanjutkan ceritanya.

"Kejadiannya udah lama sih, waktu kakak baru masuk kantor beberapa hari. Dia dateng ke kantor bawain makan siang buat kakak, tapi begitu sampe kantor dan ketemu receptionist dia malah di usir cuma karena dia ngaku pacar kakak."

Jingga mengangkat dua alisnya, sedangkan Jemmy terkekeh geli mengingat kejadian itu.

"Dia kekeuh bilang kalau dia pacar kakak, tapi dengan penampilannya yang masih make seragam sekolah jelas aja orang-orang engga percaya. Sampai receptionist itu manggil satpam buat ngusir Syelon, tapi Syelon tetep bilang kalau dia pacar kakak. Dan kakak yang waktu itu baru keluar buat makan siang, kaget ngeliat dia di seret-seret satpam."

"Ih masa sih? Kok kurang ajar banget Satpam kantor kakak berani nyeret cewek?" Sela Jingga kesal.

Jemmy tersenyum, masih tetap mengeringkan rambut Jingga dengan handuk di tangannya.

"Iya, respon kakak waktu itu juga sama kayak kamu sekarang. Pas lihat itu, kakak marah. Kakak langsung lari dan refleks nonjok satpam yang nyeret Syelon itu. Kakak bahkan engga sadar kalau udah jadi pusat perhatian. Pas ngeliat Kakak, Syelon langsung lari terus meluk kakak, dia ngadu kalau orang-orang engga percaya dia pacar kakak. Kakak sempet kaget, karena posisinya kami belum ada hubungan apa-apa waktu itu, tapi kakak engga ambil pusing dan narik dia ke ruangan kakak. Dia ketakutan banget waktu itu, tapi di tengah takutnya dia masih sempet minta maaf karena ngaku-ngaku jadi pacar kakak waktu itu. Sebenarnya dari situ kakak mulai tertarik sama dia, tapi ego kakak masih bilang kalau umur kami jauh, jadi engga mungkin bisa."

Jemmy menyudahi kegiatannya, dan mulai menyisir rambut Jingga.

"Terus apa yang bikin kakak pada akhirnya mutusin buat nerima semua usahanya?"

Jemmy seakan menerawang, lalu kembali tersenyum.

"Hati kakak bilang, kalau kakak juga punya perasaan yang sama kayak apa yang Syelon rasain. Itu alasannya."

Jingga tertegun, lalu tersenyum lebar. Dia sangat bahagia, kakak dan sahabatnya kini bahagia. Dia tidak akan lagi melihat Syelon sedih karena di acuhkan.

"Kakak dan Syelon dua orang yang penting buat aku, jadi kalian jangan saling nyakitin ya. Karena nantinya aku juga akan sakit."

Jemmy menatap adiknya, lalu memeluk dengan penuh sayang.

"Buat kakak, Kamu tetap prioritas utama, Jingga. Kamu hal paling berharga yang kakak punya."

Jingga mengangguk dalam pelukan Jemmy, dia bersyukur memiliki kakak yang begitu mencintai dan menjaganya. Juga Ayah yang selalu memerhatikannya meski dari jauh. Dan yang terpenting adalah, Senja-nya yang kini sedang menempuh pendidikan di tempat jauh namun masih selalu menjadi Moodboster nya.

Benar-benar hidup yang indah dan sangat Jingga syukuri.

****

Sudah pukul 9 malam, Dan dari satu jam yang lalu Jemmy pamit untuk mengunjungi Syelon.

Jingga hanya sendirian di rumah, dia menyibukan diri dengan menonton televisi karena masih belum mengantuk. Sedangkan dari sore tadi, Senja belum juga membalas pesan-pesannya.

Ting tong

Jingga yang tengah sibuk memasukan cemilan ke dalam mulutnya mendadak diam saat bel rumahnya di tekan seseorang dari luar sana. Dia menerka sebentar, siapa yang datang malam-malam begini. Jelas itu bukan kakaknya, lalu siapa? Jingga sedikit takut, karena bagaimana pun dia hanya sendirian di rumah. Dengan langkah pelan dia berjalan ke arah pintu.

Sesampainya di depan pintu, Jingga sempat ragu untuk membukanya atau tidak. Tapi setelah mengumpulkan semua keberaniannya, akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintunya.

Jingga menghela nafas lega saat yang ia lihat di depan pintu adalah Bintang. Tapi untuk apa Bintang datang ke rumahnya malam-malam begini.

"Kak Bintang, aku kira siapa.. "

Bintang tidak merespon, dia hanya menatapi Jingga dengan pandangan yang Jingga sendiri tidak tau artinya.

"Kakak kenapa?" Tanya Jingga heran.

Terlihat Bintang berdiri dengan gelisah, matanya bergerak kesana kemari dan wajahnya penuh keringat.

"Ada apa kak? Kakak sakit? Ayo masuk dulu.."

Bintang menahan lengan Jingga saat Jingga sudah akan masuk ke dalam rumahnya. Dia menggeleng, lalu menarik nafas begitu dalam.

"Kamu.. lihat berita hari ini?" Tanya Bintang dengan suara bergetar.

Jingga mengernyitkan keningnya.

"Berita apa?"

Bintang semakin gelisah, dia beberapa kali membasahi bibirnya yang terasa kelu dan kering.

"Apartemen yang Senja tempati di Amerika terbakar, Ngga. Dan lebih dari setengah penghuninya, engga selamat"

*****

SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang