Jingga berjalan gontai menenteng kantung plastik berlogo lebah di tangannya. Dia baru saja pulang dari minimarket untuk membeli persediaan yang mulai menipis di rumah nya. Maklum karena dia hanya tinggal dengan kakak nya yang masih sibuk masalah kuliah, membuat dia harus mengurus dirinya sendiri.
Jingga mengeratkan sweater nya karena dia merasakan udara yang semakin dingin, langkah nya semakin di percepat agar segera sampai rumah. Tapi langkahnya terhenti saat pandangan nya terkunci pada seseorang yang duduk di taman sendirian. Salahkan kebiasaan kepo nya yang muncul tiba-tiba, hingga akhirnya dia melangkah mendekat.
Dia berhenti tepat di samping kursi taman. Nampaknya orang di sampingnya belum menyadari keberadaan Jingga yang sedang memandang heran ke arah nya.
"Dingin loh kak, ngapain sendirian malem malem disini?"
Benar saja, orang yang duduk di taman itu berjengkit kaget saat mendengar suara Jingga yang tiba-tiba.
Dia hanya memandangi Jingga dengan bingung, tatapan nya seakan bertanya lo siapa?
Jingga tersenyum canggun dan menggaruk alisnya bingung.
"Maaf ngagetin, aku cuma penasaran kenapa Kakak anteng banget duduk disini padahal udara udah dingin banget." Jelas Jingga.
Pria dihadapannya mengangguk dan tersenyum, "Aku suka suasana malam hari. Lebih tenang." Katanya pelan.
Jingga hanya manggut manggut dan tanpa di persilahkan, dia duduk di kursi taman. tapi ada yang aneh, Saat dia duduk di kursi taman ternyata dia hanya duduk sendirian karena pria yang di sapanya tadi ternyata duduk di.. Kursi roda?
"Kaki Kakak... Kenapa?" Tanya Jingga ragu. Dia takut pertanyaannya menyinggung pria di sampingnya.
Tapi Lelaki itu justru tersenyum, "Kaki aku lagi di pinjem Allah buat di perbaiki." Kelakarnya.
Jingga ikut tersenyum lalu memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Bagaimanapun mereka hanya orang asing.
"Aku Jingga, Kalau Kakak siapa?" Tanya Jingga, dia menghadapkan tubuhnya ke arah pria itu.
"Panggil aku Bintang." Jawab pria itu tersenyum lebih lebar. Dia tahu gadis yang mengajaknya bicara ini punya sikap supel dan menyenangkan. Buktinya dia tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran gadis bernama Jingga itu yang tiba-tiba muncul.
Jingga mengangguk mengerti. "Kakak belum mau pulang? Udah malem loh kak."
"Harusnya aku loh yang ngomong gitu. kamu perempuan engga baik jam segini masih di luar."kKata Bintang sambil tersenyum geli.
"Oh tadi aku abis dari minimarket niat nya juga mau langsung pulang. Tapi tadi pas liat Kakak duduk sendirian aku jadi iseng nyamperin. Maklum ya Kak, aku ini emang kepk anaknya. Lagipula aku kira Kakak hantu karena malem-malem duduk sendirian." Jelas Jingga ngaco.
Bintang tergelak mendengar kepolosan Jingga saat berbicara. Gadis ini benar-benar bisa bersikap santai padahal baru pertama bertemu. Bagaimana kalau ternyata Bintang orang jahat? Ah orang jahat mana yang duduk di kursi roda, pikir Bintang.
"Pengen nya sih gitu, jadi bisa nakut-nakutin kamu. Tapi sayangnya aku manusia tulen." Jawab Bintang santai.
"Ngaco aja, aku engga takut tau." Sungutnya sok berani. "Tapi Kakak ngapain disini malam-malam?"
Bintang mengangkat bahunya, "Kan tadi pas pertama udah di jawab."
"Kurang yakin aja sama jawaban nya." Kata Jingga acuh.
Bintang tersenyum dan mengayuh kursi roda nya sedikit. Matanya menerawang jauh ke depan.
"Entahlah. Bisa dibilang aku lagi melarikan diri dari dunia. Atau lebih tepatnya dari tatapan iba semua orang." Ucap Bintang pelan, tapi masih bisa didengar jelas oleh Jingga.
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)
Roman pour AdolescentsJika jatuh cinta adalah sebuah pilihan, maka Jingga memutuskan untuk memilih jatuh kepada Senja. Karena dia yakin Senja akan menangkapnya, tidak akan membiarkan dia terjatuh sendirian. Semburat orange yang muncul di penghujung sore, datang sekilas n...
