Part 9, Penggemar Baru

1.4K 73 2
                                        


Jingga berlari kecil menghampiri keempat sahabatnya yang sudah sibuk memasukan barang-barang ke dalam bagasi bus. Dia sedikit terlambat hari ini karena semalam dia begadang berchat ria dengan Senja sampai tengah malam.

"Huuuuh" Jingga menetralkan nafasnya yang terengah engah.

"Tumben lo telat?" Tanya Tia yang lebih dulu sadar akan kedatangan Jingga.

"Gue.. Kesiangan bangun." Jawab Jingga yang masih kesusahan bernafas.

"Yaudah buru masukin ransel lo, bentar lagi kita berangkat." Ucap Syelon.

Mereka berlima masuk kedalam bus yang khusus di peruntukan bagi seluruh dewan kerja, baik itu dewan kerja Pramuka, PMR ataupun Paskibra.

Ya sebenarnya walaupun mereka terlihat biasa saja di sekolah dan bukan bagian dari anak-anak hits, tapi mereka mempunyai ketertarikan tersendiri untuk menjadi kaka dewan, karena menurut mereka akan sangat menyenangkan bisa mengerjai adik-adik kelasnya saat ada perkemahan seperti ini. Jingga adalah Dewan kerja dari ekskul Paskibra, itulah kenapa kulitnya tidak seputih Syelon yang hanya dewan PMR. Sedangkan Tia, Rena dan Dafi adalah dewan dari ekskul pramuka.

Mereka duduk di bangku panjang paling belakang. Dan Mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Dafira yang mulai hanyut dengan ponselnya, Tia dan rena yang bersiap untuk tidur karena jam tidurnya terpotong sebab harus pagi-pagi berangkat ke sekolah, sedangkan Jingga dan Syelon yang kompak mendengar lagu dari earphonenya.

Tidak ada yang istimewa dari perjalanan mereka, sepanjang perjalanan hanya di isi dengan riuh suara beberapa anak atau selentingan guyonan receh dari dewan-dewan lain. Jingga dan teman-temannya hanya menyimak sesekali.

****

"Waaah akhirnya sampai juga!" Seru Dafira sambil meregangkan tangannya.

Sedangkan keempat sahabatnya masih sibuk mencari ransel yang bertumpuk di bagasi.

"Biar gue bantuin."

Ucapan itu sukses membuat Jingga kaget dan reflek menoleh ke sumber suara. Sosok yang membuatnya kesiangan pagi ini, tengah tersenyum dengan manis di depannya kini.

"Ransel lo yang warna apa?" Tanya Senja, matanya menoleh ke arah tumpukan ransel-ransel di bagasi.

Jingga mengerjap, lalu ikut menoleh ke arah bagasi. "Itu yang itu kak warna cream." Tunjuknya pada satu ransel yang terhimpit di paling bawah.

Senja mengernyit, lalu meringis menyadari dia harus membongkar semua tumpukan karena tas Jingga berada paling bawah.

"Wah itu sih musti bongkar semua tumpukannya. Tunggu ya."

Jingga hanya memperhatikan Senja yang mulai sibuk menarik satu persatu ransel yang menghimpit ranselnya. Sesekali keringat kecil muncul di pelipisnya, membuat Jingga begitu terhipnotis untuk terus menajamkan pandangan nya. Entah dari mana pikiran untuk mengelap keringat itu muncul, yang jelas Jingga tidak boleh merealisasikan pikiran ngaconya itu jika dia masih ingin hidup tenang sampai lulus nanti.

"Nah ini ransel lo kan?" Ucap Senja menyerahkan satu ransel berukuran besar kepada Jingga.

Jingga mengangguk cepat, "Ah iya kak ini ransel aku. Makasih ya kak, maaf jadi ngrepotin kakak."

"Engga kok, gue juga secara engga langsung jadi bantuin yang lain karena ransel lo ada paling bawah." Ujar Senja jenaka.

Jingga meringis mendengar ucapan Senja, walau dia tahu Senja hanya bercanda tapi tetap saja dia merasa bersalah. Maka dengan segera dia merogoh saku celananya dan menyerahkan benda yang tadi sempat melintas di otaknya.

SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang