Part 35, Little Queen

878 53 1
                                        

Apa yang dilihat olehnya sekarang adalah hal yang sudah ia duga sejak pertama mendapati dirinya lolos tes beasiswa di Ohio University-Colombus America Serikat. Dia tau bahwa ini menjadi hal yang tidak mudah saat dirinya menjalin hubungan dengan Jingga. Walaupun dia bahkan hampir lupa pernah mendaftar dan tiba-tiba mendapati kabar lolos, ia tetap saja memikirkan bagaimana ekspresi yang akan dia dapat saat Jingga mengetahui perihal ini.

Dan begini lah yang ia dapat, tidak jauh dari apa yang dia pikirkan. Senja masih membiarkan Jingga dengan segala pemikiran nya dan kemudian mulai merengkuh gadis itu saat isakan kecil mulai terdengar.

Jingga tidak menolak, dia hanya bisa menahan isakannya agar tidak terdengar berlebihan. Dia benamkan sepenuhnya wajah nya di dada Senja, tidak peduli jika baju kekasihnya itu akan basah.

"Aku udah duga kamu akan seperti ini, aku ngerti banget. Tapi aku kasih tau kamu karena engga mau kamu tau dari orang lain." Kata Senja seraya membelai halus rambut Jingga.

Jingga masih terisak dan memeluk Senja semakin erat.

"Aku ikut tes ini jauh sebelum aku kenal dan deket kamu. Tepatnya saat kelas XI awal, waktu itu aku iseng ikut tes karena aku tertarik untuk masuk ke fakultas komunikasi nya. Tapi engga di sangka ternyata aku lolos. Aku cukup bingung buat ngambil atau engga, karena aku juga ragu ninggalin Bunda dan tentunya ninggalin kamu. Tapi ini juga demi masa depan aku, aku ingin yang terbaik untuk semua orang yang aku sayang."

Jingga mulai menguraikan pelukan mereka, "Kalau mau ambil komunikasi kan di sini juga banyak yang bagus. Kenapa engga ngambil di ITB?"

Senja menghela nafas. Gadis nya belum mengerti.

"Lulusan luar negeri akan lebih di perhitungkan di dunia kerja, Queen."

"Tapi itu jauh kak, gimana sama... Aku?" suara Jingga semakin lirih.

Senja mendekat dan merengkuh kepala Jingga untuk bersandar di bahu nya.

"Kita akan tetap kaya sekarang, Queen. hanya saja nanti pas aku beneran ambil beasiswa ini kita harus belajar bertahan dalam jarak yang terpisah jauh."

Isakan yang tadi sudah reda mulai terdengar lagi. Jingga merasa hati nya tidak sanggup membayangkan akan berpisah dari Senja.

"Tapi aku janji setiap libur semester aku akan pulang kesini. Keluarga ku engga semiskin itu sampai engga bisa biayain aku pulang setiap semester, Queen." Kelakar Senja untuk mengurai kesedihan kekasihnya.

Jingga masih terisak tapi tidak sekencang tadi, hatinya sedikit lega walau masih terasa takut dengan keadaan yang akan dia hadapi nantinya. Ia teringat ucapan kakak nya, Jemmy, bahwa Jingga harus jadi orang terdepan yang mendukung apapun keputusan Senja.

Jingga mendongak dan mendapati Senja yang tengah menatap nya sambil tersenyum.

"You are my Little Queen, And it will always be like that. You are my first love, Queen."

Jingga tersenyum dan mengangguk pelan.

"Aku percaya sama kakak, aku percaya kakak bisa jaga hati kakak buat aku."

"Im promise"

Jingga menegakan duduk nya, "Kakak lagi belajar bahasa Inggris ya? Mentang-mentang mau lanjut ke luar negeri ngomong nya jadi pake bahasa inggris gitu."

Senja menaikan sebelah alisnya kemudian tertawa.

"Kamu ini.. Apa salahnya kalau aku ngomong pake bahasa inggris, Queen?"

"Ya engga apa-apa sih, cuma kan aku jadi kesel karena inget kakak mau pergi jauh."

Senja mendekat dan mengecup pelan kening Jingga.

"Walaupun jauh, kita kan bisa komunikasi lewat WhatsApp, Line, atau skype. Aku akan ngabarin kamu setiap hari nya, sayang."

Jingga mengangguk dan tertunduk dengan wajah yang merona.

"Iya wajib hukumnya kakak ngabarin aku, engga boleh deket-deket sama cewek bule disana. Jangan genit-genit. Jangan--"

Cup

Jingga tertegun dengan mata membulat sempurna saat Senja tiba-tiba mengecup singkat bibir nya.

"Siap laksanakan semua perintah Ratu" Kata Senja sembari tersenyum lebar dan mengelus kepala Jingga.

******

Tidak ada yang Senja lakukan sedari pulang dari rumah Jingga. Dia hanya merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menggenggam surat kelolosan tes beasiswa nya. Dia bingung bagaimana harus memberi tau Bunda dan Abang nya perihal ini.

Bukan masalah ekonomi, karena keuangan keluarga nya sudah sangat membaik berkat kerja keras Bintang di bantu pamannya. Yang jadi pusat pikiran nya adalah bagaimana reaksi Bunda saat tau bahwa dia akan melanjutkan kuliah nya di luar negeri, hari ini dia sudah mendapati respon yang membuat nya kualahan dari gadisnya, Jingga. Dan dia tidak siap kalau harus mendapatkan respon yang sama dari Bunda nya.

Dengan langkah berat akhirnya Senja memutuskan untuk keluar kamar dan menemui Bunda nya.

Terlihat wanita paruh baya itu tengan duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah buku. Senja mendekati nya dan duduk tepat di sampinh Bundanya.

"Bunda.. " Panggil Senja

Bunda menoleh dan tersenyum ke arah anak bungsu nya, "Iya Sayang, ada apa?"

Senja terdiam sebentar lalu memberikan kertas yang sedari tadi dia pegang ke arah Bunda nya.

Bunda nya terlihat bingung namun tetap membuka dan membaca kertas itu.

"Senja dapat beasiswa ke luar negeri?" Tanya Bunda nya dengan lembut.

"Iya bun."

Bundanya tersenyum lalu mengusap kepala Senja dengan lembut.

"Bunda akan dukung apapun kemauan Senja." Kata nya.

Senja tertegun mendapati respon dari Bunda nya yang di luar dugaan. Dia kira Bunda nya tidak akan beda jauh dengan Jingga yang kaget dan sedih dengan apa yang di kabarkannya.

"Bunda ngizinin Senja ambil beasiswa itu?" Tanya Senja memastikan.

"Kenapa Bunda harus engga izinin? Apalagi kondisi keuangan keluarga kita kan sekarang sudah hampir seperti dulu, jadi InsyaAllah Bunda bisa ngebiayain biaya hidup kamu selama disana. Lagipula setelah kamu lulus nanti kan, kamu bisa bantu kakak mu mengurus perusahaan Ayah."

Senja tersenyum lega dan berhambur memeluk Bundanya. Hal sederhana yang sudah jarang dia lakukan semenjak beranjak dewasa.

"Abang pasti senang saat tau kamu lolos tes beasiswa ini, Dek." Ujar Bundanya.

Senja mengangguk, "Iya Bun, nanti saat abang pulang biar Senja sendiri yang kasih tau."

Bunda nya tersenyum dan meminta Senja untuk tidur di pangkuannya.

Anak bungsu nya ini sudah sangat besar bahkan sudah akan pergi jauh melanjutkan pendidikannya. Anak yang dulu selalu manja padanya hanya karena iri melihat Abangnya begitu dekat dengan Ayahnya. Anak yang sedari dulu lebih keras kepala dari Bintang. Anak yang kini tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan, lesung pipi yang di warisi dari Ayahnya membuat dia semakin terlihat manis. Anaknya Senja Raka Gustiar, pemberian indah terakhir dari mendiang suami nya.

*****



SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang