Part 51, Pernikahan (Ending)

1.1K 71 8
                                        


__________

Sudah sejak satu jam yang lalu, Jemmy hanya duduk memandangi adik kesayangannya yang sedang di rias khas  pengantin. Rasanya, ada yang berat di hatinya. Melepas gadis tercintanya untuk hidup jauh darinya, bukanlah hal yang mudah karena semenjak Ibunya meninggalkan dan ayahnya harus pergi, Jemmy dan Jingga terbiasa hidup hanya berdua saja.

Hari ini, adalah hari pernikahan Jingga dan Bintang. Sebuah awal dari hidup Jingga dengan seseorang yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. Bukan hanya Jingga, tapi semua orang juga tidak menyangka akan hal itu.

"Kakak engga mau nemuin Syelon di depan?" tanya Jingga, menatap kakaknya dari cermin.

Jemmy tersenyum lalu mengangkat bahunya.

"Kakak masih bisa ngeliat Syelon kapan aja, tapi kamu? Setelah ini kamu jadi istri orang, akan sulit buat ketemu kamu nantinya." Kata Jemmy

Jingga mengangkat kedua alisnya lalu mendengkus.

"Kan masih bisa ketemu setiap hari kalau kakak mau, tinggal dateng ke rumah Kak Bintang aja atau aku yang pulang kesini."

Jemmy tersenyum lagi. Adiknya itu tampak baik-baik saja seperti calon pengantin pada umumnya. Tapi dari penglihatannya yang lain, dia bisa melihat Jingga masih ragu dengan keputusannya.

"Apa kamu baik-baik aja?" Tanya Jemmy tiba-tiba.

Jingga langsung menatap kakanya dari cermin, membiarkan penata rambutnya tetap menyelesaikan tugasnya.

"Aku tentu harus baik-baik aja kak. Ini keputusan ku." jawabnya mantap.

Tampak Jemmy menghela nafas pelan lalu berdiri dan berjalan ke arah Jingga.

"Apapun itu, lakukan apapun tapi dengan satu syarat. Kamu harus bahagia." Ucapnya lalu menepuk pundak Jingga pelan dan berjalan keluar.

Jingga terpekur, dia bahkan tidak menyadari saat penata rambutnya sudah selesai mengemas rambutnya menjadi kian cantik.

Jingga terdiam. Masih duduk di atas kursi meja riasnya. Perkataan Jemmy membuat nya bertanya, Apakah dia bahagia? Benarkah keputusannya ini bukan hanya untuk lari dari kenyataan?

"Jingga.."

Panggilan itu membuatnya harus tersadar dan kembali ke dunia nyata.

Disana, di ambang pintu Dafira berdiri dengan dress peach selutut dan rambut yang di sanggul.

Jingga tersenyum dan memutar arah duduknya ke arah Dafira.

"Lo udah siapkan? Semua orang udah nunggu di bawah." Kata Dafira sambil berjalan ke arah Jingga.

"Lo cantik banget, Ngga. Engga nyangka diantara kita berlima lo duluan yang nikah." Lanjutnya lagi.

Jingga terkekeh sambil merapikan kebaya panjang berwarna putih yang di kenakannya. Rambutnya di sanggul dengan manik2 khas pengantin di sisi sisinya.

Sesaat perasaan Jingga tidak nyaman saat Dafira menatapnya dengan tatapan yang intens.

"Lo engga lagi bohongin diri lo sendiri kan, Ngga?" Tanya Dafira, pelan.

Jingga langsung terdiam. Ada apa dengan semua orang? Kenapa harus selalu pertanyaan seperti ini di saat dia sudah ada di ujung keputusannya?

"Apa lagi yang gue bisa? Nangisin Senja sepanjang hidup gue? Berharap Senja datang dan nunggu dia sampe gue tua?" Tanya Jingga dengan senyum miris di wajahnya.

"Gue tau kalian semua khawatir sama gue, tapi Kak Bintang adalah laki-laki yang baik. Engga akan susah buat jatuh cinta sama dia, apalagi kalau status gue nanti jadi istrinya. Lo engga usah khawatir Daf, gue akan baik-baik aja. Gue akan bahagia." Ucapnya meyakinkan.

SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang