Jingga akhirnya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah nya saja karena tadi Dafira tiba-tiba di minta Ibu nya untuk ke rumah tante nya yang ada di Bogor.
Sepi lagi. Hanya itu yang dia rasakan saat sampai di rumah. Senja sedari tadi belum membalas pesan nya. Mungkin dia sedang di jalan mengantar Bunda nya ke suatu tempat, pikir Jingga.
Jingga membaringkan tubuhnya setelah tadi dia berganti pakaian dan makan seadanya. Di saat-saat seperti ini dia pasti langsung teringat bagaimana dulu dia hidup bahagia bersama keluarganya yang lengkap. Ya, sebelum badai itu datang.
Ahh Jingga benci saat harus menelan sakit itu lagi. Sendirian di rumah hanya akan membuat nya semakin dalam mengingat masa lalu. Sampai akhirnya dia putuskan untuk berjalan-jalan ke Mall guna menghilangkan kebosanan nya.
****
Jingga baru saja sampai di depan sebuah pusat perbelanjaan yang megah. Dia nekad pergi sendiri karena teman-temannya punya agenda masing-masing. Toh jalan-jalan sendirian tidak buruk juga, pikirnya.
Sepanjang toko yang berjejer, Jingga hanya lihat-lihat saja. Tidak ada yang menarik perhatian nya sedari tadi. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke sebuah toko buku bermaksud mencari bahan bacaan yang bagus.
Jingga menekuri setiap rak dan membaca-baca singkat buku yang ada disana. Matanya menjelalah mencari kali saja ada buku yang mau dia beli.
"Kak kalau yang ini bagus engga isinya?" Tanya seseorang dengan suara yang terkesan manja.
Jingga merasa tidak asing dengan suara itu. Tapi dia mengabaikan nya saja, toh banyak suara yang mirip-mirip kan.
"Iya bagus." Jawab orang yang ditanya gadis tadi.
Kali ini perasaan Jingga tidak enak. Pasalnya dia kenal betul dengan suara pria tadi. Suara yang selalu membuat hatinya hangat.
Dengan langkah ragu, Jingga berjalan perlahan mencari sumber suara tadi. Hatinya sudah berdebar tidak karuan takut takut kemungkinan terburuk akan terjadi.
Dan benar saja, Suara itu milik Senja dan.. Mega?
Sontak Jingga merasakan perih yang teramat sangat saat melihat Mega yang berdiri sangat dekat dengan Senja sambil mengoceh ini itu dengan suara yang dibuat semanja mungkin.
Jingga lemas, tangan nya tanpa sadar menjatuhkan buku tebal yang tadi di pegang nya. Seketika semua perhatian tertuju padanya, termasuk dua orang di hadapan nya saat ini yang memandang ke arah Jingga dengan tatapan berbeda. Senja yang menatap kaget ke arah Jingga, sedangkan Mega tersenyum puas.
Jingga tersenyum miring dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Jadi ini yang di bilang nganter Bunda?" Tanya Jingga sinis. Kepalanya ia tundukan, tidak ingin lebih sakit lagi kalau harus menatap dua orang di depannya.
"Ngga, lo salah paham." Ucap Senja berusaha menggapai Jingga yang ada di depannya. Tapi Jingga justru melangkah mundur, berusaha menjauh dari Senja.
Jingga mengangguk anggukan kepalanya, "Iya, aku salah paham. Aku pikir Kakak beneran engga akan tergoda dengan muslihat murahan dari cewek ini. Ternyata..."
Cukup sudah, Jingga gagal menahan air matanya agar tidak jatuh. Luruh sudah pertahanan nya hanya karena dua makhluk di hadapan nya ini.
"Ngga, please ini engga kaya apa yang lo pikirin." Senja berujar sangat pelan, dia masih sadar dimana posisi mereka saat ini dan tidak ingin menarik perhatian dari pengunjung lain.
Jingga mengacungkan tangannya ke arah Senja, isyarat agar Senja menghentikan langkah nya.
"Sayangnya aku engga sebodoh itu." Ucap nya seraya berbalik dan melangkah keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA DAN JINGGA (COMPLETE)
Novela JuvenilJika jatuh cinta adalah sebuah pilihan, maka Jingga memutuskan untuk memilih jatuh kepada Senja. Karena dia yakin Senja akan menangkapnya, tidak akan membiarkan dia terjatuh sendirian. Semburat orange yang muncul di penghujung sore, datang sekilas n...
