Mulmed : Giga
***Setengah Normal***
"Jadi lo nggak mau naik bus barengin gue, nih?" Giga berkata saat keduanya meninggalkan taman bebas. Pertandingan basket telah selesai beberapa waktu sebelumnya. Kelas 11 IPA 1 keluar sebagai juara.
"Rumah nenek gue dekat. Jalan kaki beberapa menit sampai," ujar Ariel ringkas.
"Ya udah," Giga menyaku kedua tangannya. "Omong-omong sampai kapan lo mau mantengin layar HP?" katanya sambil melirik Ariel. "Tenang aja, videonya nggak bakalan ilang kok sampai lo tiba di rumah nanti."
"Sebelum gue menemukan apa yang gue cari, gue belum bisa berhenti," ujar Ariel tak peduli.
"Emangnya apa sih yang lo cari?" heran Giga. "Lo naksir sama Yovie?"
Ariel melepas pandangan dari ponsel sejenak. "Gue lagi penasaran sama orang ini," ujarnya.
"Penasaran?" Giga menatap sangsi.
"Orang kayak lo nggak bakalan ngerti." Ariel berkata cuek lalu fokus pada video lagi.
Giga di sebelah terkekeh. Lagak Ariel sok sekali. Ia merasa direndahkan tapi di saat yang sama juga merasa geli.
Tanpa mereka ketahui, tak jauh di belakang Yovie dan beberapa teman sekelasnya juga sedang berjalan pulang.
"Daripada kelamaan jomblo, mendingan lo gebet salah satu adik kelas. Cewek-cewek yang datang buat suporterin lo kayaknya pada lumayan." Sam, sambil memainkan bola basket di tangan menggoda Yovie. "Mantan biarlah berlalu. Lo pasti bisa dapetin cinta baru."
"Banyak omong." Yovie menepis kasar bola yang Sam sodorkan hingga tak sengaja bola itu terbang ke depan.
Dukkk!
Dan berakhir membentur kepala seseorang.
"Aduh!" Ariel yang sedang sibuk menonton layar terkejut kala sesuatu menghantam atas tengkuknya secara tiba-tiba. Handphone yang sedang ia pegang sampai hampir saja lepas dari tangan.
"Mampus! Kena orang." Melihat hal itu Sam langsung ribut menyikut Yovie. "Cewek lagi."
Refleks Giga menoleh mendengar suara benturan dari samping. Mendapati Ariel menunduk dengan muka kesakitan, ia segera mencari tahu apa yang terjadi. "Lo kena bola?" Ia bertanya tapi agaknya tak didengar. Ariel sudah keburu membalikkan badan.
Giga pun mengikuti tindakan cewek itu. Begitu menghadap belakang, ia langsung melihat Yovie sedang mendekat.
"Sori," ucap cowok itu yang bisa Giga dengar. "Gue nggak senga..." ucapan Yovie terputus menyadari siapa yang telah dilemparinya bola. "Ariel?"
Ariel yang tatapannya sudah sedingin es gara-gara merasa terganggu cuma diam. Matanya memicing Yovie tajam.
"Ehm, sori, Riel. Gue beneran nggak sengaja," ucap Yovie dengan raut tak enak. "Lo baik-baik aja?" Ia coba bertanya meski Ariel tak tampak ingin menjawabnya.
"Halah. Cuma kena bola nggak bakal gegar otak kali, Yov." Sam berceletuk. Ia maju untuk mengambil bola basketnya yang mendarat di dekat sepatu Ariel.
Sam baru saja berhasil meraih bola itu saat telinganya tak sengaja mendengar suara-suara dari ponsel yang Ariel pegang. Ia mengenali itu sebagai suara Yovie dan suaranya sendiri. Merasa heran, Sam cepat berdiri lantas mengamati apa yang tengah diputar layar.
"Eh!" Cowok itu langsung berseru. "Video apaan tuh? Kok gue lihat Yovie ada di situ?"
Tahu privasinya diusik, Ariel menatap Sam lekat-lekat. Keberadaan cowok itu sama sekali tak menarik minatnya. Lagipula melihat Sam cuma akan mengingatkan Ariel pada uangnya yang pernah jatuh dan diambil olehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Fiksi Remaja(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
