Belakangan ini banyak yang komplain kenapa ceritanya kepotong. Kayak paragrafnya pada putus, malah ada yang keulang-ulang. Itu yang error dari wattpadnya. Bukan dari aku ya. Biasanya setelah aplikasi diperbarui (atau juga logout terus login) bisa baca normal lagi. Sebagai patokan bab yang kamu baca lengkap apa nggak, setiap akhir bab pasti kuberi tanggal nulisnya. Kalo ada yang masih bingung boleh nanya.
-----
"Udah setengah lima lebih lho, Lit. Masa dia belum juga sampai rumah?" keluh Rika mengetahui jarum jam telah bergeser banyak dari terakhir kali ia melihatnya.
"Tapi Ariel nggak mungkin pulang ke rumah Oma. Di sana kan lagi ada Om Tama. Baru masuk teras palingan Ariel juga udah disuruh keluar." Lita tampak berpikir. Kakak dari ayahnya memang sangat keras dan membenci keluarga mereka. Padahal rumah utama Josephine diserahkan kepada pria itu jika Diana tidak ada.
"Terus kemana coba? Tadi Mama udah hubungi orangtua Maya. Mereka bilang Maya udah tiba di rumah sekitar jam setengah tiga." Rika menatap ponsel lagi. "Anak itu pasti marah banget kali ini. Kamu, sih."
"Ya mau gimana lagi? Udah kejadian juga," Lita menghela napas berat. "Apa kita cari Ariel ke sekolah aja, Ma? Siapa tahu dia ada pelajaran ekstra dadakan atau nonton pertandingan basket."
"Ariel biasanya ngirim pesan kalau ada apa-apa. Tapi ya udah, ayo kita coba susul dia." Rika mengambil kontak mobil dari nakas kecil di sudut ruang tengah lantas berjalan menuju garasi.
"Kira-kira nanti Ariel mau nggak pulang bareng kita?" tanya Lita di tengah perjalanan mereka menuju sekolah Harapan.
Rika yang memegang setir menoleh sedikit, "Kalau nggak pulang sama kita terus dia mau kemana? Ariel kan jarang mau main ke rumah teman. Lagian adik kamu itu pendiam, nggak suka bergaul sama banyak orang. Teman terdekatnya juga cuma Maya, kan?"
"Iya, sih," sahut Lita setuju. Adiknya memang tipe orang seperti itu. "Loh, Ma!" Tiba-tiba ia berseru waktu mobil ibunya melewati gerbang kediaman utama Josephine. "Itu bukannya Papa? Ngapain Papa di rumah Oma?"
"Apa?" Rika terkejut sampai-sampai mengerem mobil mendadak.
"Aduh, Ma. Hati-hati!" sontak Lita membentak karena kaget. "Sebaiknya kita mundur dikit lalu belok aja. Mumpung jalanan juga sepi," katanya sambil menoleh, bersiap memberi aba-aba.
Menuruti kemauan sulungnya, Rika memundurkan mobil perlahan-lahan. Matanya tak lepas dari spion meski sudah diberi arahan.
"Mereka nggak lagi ribut, kan?" Rika bertanya sebelum membuka pintu. Ia memutuskan memarkirkan mobil di depan gerbang saja. Ia tak ingin ada percekcokan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
"Nggak tahu juga. Tadi aku lihat Papa sama Om Tama lagi ngobrol di situ." Lita menunjuk jalan semen lurus di gerbang bagian dalam. Namun orang-orang yang dimaksud sudah tidak ada.
Deru motor mendekat tiba-tiba datang saat mereka hendak memasuki gerbang. Rika yang lebih dulu menoleh mengernyit. Seorang anak cowok berseragam SMA Harapan dengan motor sport berwarna merah hitam berhenti di belakangnya.
"Sore, Tante." Cowok itu lalu menyapa sambil membuka kaca helmnya.
"Eh?" Rika terkejut. "Kamu... kamu temannya Ariel yang waktu itu nganterin pulang bukan? Kakak kelasnya?" katanya ragu-ragu.
“Iya, Tante. Saya Yovie." Dan ia pun membenarkannya.
"Aduh, hampir aja Tante lupa. Kamu sendirian aja?" Rika memperhatikan belakang punggung Yovie dengan bingung.
"Iya, saya bawa surat dari sekolah. Pak Soleh, wali kelas saya yang hari ini memimpin rapat minta bantuan saya buat ngasih surat ini, atas nama Ibu Diana. Hari ini ada rapat besar yang menyangkut para donatur dan pihak yayasan." Yovie menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Ficção Adolescente(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
