"Woi, bengong melulu!" Ellan yang mendapati Ariel termenung seorang diri di halaman rumah Rubby menyerui. Pesta baru saja selesai, para undangan tampak berhamburan keluar dengan ramai. Mereka saling tertawa dan berbincang dengan orang sekitar, namun tidak dengan Ariel. "Mau pulang bareng siapa lo?"
"Ya pulang bareng Giga lah. Emang siapa lagi?" Kenji menyahut karena Ariel tak kunjung memberi jawaban.
"Tapi gue males pulang sama Giga rasanya," ujar Ariel mengejutkan keduanya. "Gue mau pesan ojek online atau nyari taxi aja. Kalau nggak gue biar minta dijemput sama Mbak Lita."
"Eh, apa-apaan lo? Ngapain repot-repot mesan ojek segala?" Ellan menyemprot. "Kakak lo pasti capek udah kerja seharian, masa masih lo suruh jemput kayak orang kurang kerjaan. Lo ini bodoh apa gimana?"
"Iya, gue emang bodoh. Gue ini bukan apa-apa. Gue bodoh, besar kepala pula."
Tak hanya Ellan dan Kenji, Sam yang dari tadi asyik bermain ponsel langsung melihat ke arah Ariel dengan kaget karena ucapannya. Giga yang baru datang dan mendengar pun ikut keheranan. Tak biasanya Ariel bersikap pasrah seperti kebanyakan lakon utama cewek dalam drama.
"Lo kenapa, Riel? Kok lo ngomongnya kayak gitu?" tanya Giga sambil maju membarenginya.
"Rahasia," sahut Ariel tanpa mau menatapnya. "Oi, setan. Gue pulang bareng lo aja, deh. Tapi gue duduk di belakang sama Kenji. Lo sama Kisanak di depan. Yang mana mobil lo?"
Semua orang melotot waktu Ariel berkata seperti itu tiba-tiba. Terutama Giga.
" Lo kan pulang sama gue, Riel. Ngapain lo mau nebeng dia?" protesnya segera.
"Sori, Ga. Gue nggak bisa pulang sama lo." Ariel menolak dengan rautnya yang khas.
"Kenapa?"
"Nggak tahu," Ariel terus saja berpaling ke samping. "Males aja."
"Lo marah?" Giga jelas tahu ada sesuatu yang terjadi pada anak itu. "Gue bikin salah apa? Ariel?"
Karena didesak akhirnya Ariel mau memandang cowok itu juga. "Lo nggak salah apa-apa, kok," ujarnya tenang. "Gue yang salah. Biarin gue merenungi dulu kesalahan gue apa aja."
"Maksud lo kesalahan...."
"Yang itu mobil gue!" seru Ellan, memutus percakapan keduanya. "Kalau gitu buruan! Keburu tambah malam, nih!" ajaknya pada Ariel.
"Gue nggak marah sama lo. Gue cuma lagi kesel sama diri gue sendiri. Duluan ya, Ga," kata Ariel sebelum mengikuti Ellan dan Kenji menuju mobil yang diparkir di pojok dekat tembok pagar. Sam juga menyusul setelah beberapa lama hanya mengawasi Giga yang tampak resah dan kebingungan.
***Setengah Normal***
"Sulit buat gue percaya Giga nggak ada rasa sama lo," ucap Yovie kala Ariel bercerita. Istirahat pertama baru saja tiba dan mereka sudah bercakap-cakap di dekat gedung perpustakaan. "Tapi yah, gue cukup tahu yang namanya Rubby. Dia adik kelas Sam dari SMP. Kelihatannya dia anak yang baik."
"Itu terserah Kak Yovie buat percaya apa nggak. Giga sendiri yang bilang di depan Rubby dan teman-temannya kalau bagi dia, saya cuma sahabat baik." Ariel mengembungkan pipi lantas mengembus udara. Bagaimanapun ia tak bisa menyembunyikan kekecewaan di wajahnya. Masih terbayang jelas bagaimana kemarin Giga mengatakan kenyataan itu sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Coba waktu itu saya dukung Maya aja. Biarpun di antara kami nggak ada yang dipilih, paling nggak hubungan kami tetap baik-baik aja. Sekarang saya kehilangan dua-duanya. Maya nggak mau lagi ketemu saya, terus saya juga nggak nyaman lagi temenan sama Giga. Saya pasti lagi kena azabnya. Azab nggak mau bantuin sahabat dan karma orang besar kepala."
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Dla nastolatków(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
