"Syukurlah. Gue harap hubungan lo sama Mama dan kakak lo terus membaik ke depan," ucap Yovie paginya di sekolah. Semalam mereka telah mengobrol banyak di telepon, dan saat ini mereka kembali membicarakannya di dekat perpustakaan.
"Kemarin gue udah lihat kakak lo secara langsung," Yovie berkata lagi.
"Mbak Lita?" Ariel mengerling. "Cantik, ya?"
Yovie tertawa kecil. "Kakak lo emang cantik," ucapnya. "Tapi bukan itu yang mau gue bicarain. Ini soal karakternya."
Ariel langsung memasang telinga baik-baik mendengar perkataan itu.
"Dia kelihatannya orang yang supel, pintar ngomong, dan gampang berbaur dengan siapa aja. Beda sama lo yang banyak diam. Gue rasa itu jadi salah satu alasan kenapa Mama dan kakak lo bisa begitu akrab. Mereka punya kesamaan dalam sikap dan beberapa hal. Nggak heran kalau selama ini kesannya lo diabaikan. Menghadapi orang yang punya karakter mirip dan sepaham pastinya lebih mudah dan menyenangkan."
Butuh waktu sebelum Ariel bisa mangut-mangut. Memang benar, banyak yang bilang jika Rika dan Lita sangat mirip. Tak hanya dari segi fisik, tapi juga dalam tingkah laku dan kemampuan. Sedangkan Ariel, orang sering menyebut wajahnya mirip dengan sang ayah. Terutama dalam bentuk hidung dan bola mata.
"Kemarin, lo sama Giga ngapain aja?" Tiba-tiba Yovie mengganti topik. "Sesorean dia nemenin lo, kan?"
Garis bibir Ariel sedikit melengkung. "Kami cuma duduk-duduk di halte," ia menuturkan. "Saya nggak banyak bicara, jadi dia terus ngoceh sendiri sampai nyanyi-nyanyi nggak jelas. Katanya biar ada suara, nggak sepi-sepi aja."
"Kadang gue suka heran lo bisa akrab gitu sama dia," Yovie berceletuk. "Kalian udah lama temenan, ya?"
"Belum selama itu, sih." Ariel berpikir sebentar kala Yovie memandangnya. "Mungkin baru setahun, bisa jadi malah belum ada. Giga emang orangnya sok akrab dari awal, jadi ya... eh, ngomongin soal Giga, saya jadi ingat sama ucapan Kak Yovie kemarin. Itu maksudnya gimana? Soal saya yang nggak benar-benar mengenal Giga, saya belum juga paham sampai sekarang."
Yovie tersenyum. "Nggak sih, gue cuma penasaran aja," ucapnya. "Apa lo nggak pernah ngerasa sesuatu gitu kalau lagi sama dia? Misalnya lo selalu senang, nyaman, terus kalau dia nggak muncul sehari aja, lo bakal bingung nyariin dia."
Ariel menatap Yovie takjub. "Emang ada yang salah kalau saya ngerasain semua itu sama Giga?" ujarnya bingung. "Ya biarpun dia sering bikin saya kesel tapi saya tetap seneng kok temenan sama dia. Ada saat di mana Giga marah, bahkan pernah juga dua kali dia jauhin saya. Kalau nggak salah, saya juga udah pernah ceritain ke Kak Yovie."
"Oh, iya juga." Yovie menyadari. "Terus waktu itu apa yang lo rasain?"
"Tentu aja, saya kepikiran sepanjang hari. Rasanya nggak tenang, kebingungan, nggak bisa dibikin santai aja." Ariel berterus terang. "Akhirnya saya cariin Giga, temui secara paksa, terus minta dia jelasin apa salah saya sehingga menjauh kayak gitu. Habis itu kami temenan lagi dan rasanya hidup saya kembali tenang."
"Kalau dipikir-pikir, bukannya lo sama kayak cewek yang saking sukanya sama seorang cowok sampai lo nggak bisa hidup tanpa dia?" kata Yovie setengah menggoda. "Lo nggak ngerasa kalau sebenernya lo suka Giga apa?"
"Kalau nggak suka, tentunya dari awal saya nggak mau temenan sama dia," jawab Ariel enteng saja.
"Maksud gue bukan suka yang kayak gitu," Yovie menggaruk pelipis. "Suka yang gue maksud di sini adalah seperti sukanya cowok-cowok yang pernah nyatain cinta ke lo. Jadi yang mau gue tanyain, lo punya perasaan semacam itu nggak buat Giga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Teen Fiction(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
