53. Menjadi Nyata

2.6K 389 190
                                        

Beberapa anak terang-terangan berseru kaget. Ariel membuang napas pelan. Ia berharap tak pernah mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut Giga. Sayangnya volume lagu yang ia putar kalah kencang dari Giga yang berbicara keras tepat di sebelahnya.

"Makanya, buat cowok-cowok yang suka sama Ariel, gue saranin lebih baik kalian mundur dari sekarang. Gue ngasih peringatan ini demi keselamatan kalian. Kalau nggak mau hal buruk beneran kejadian, jangan coba-coba deketin apalagi nyatain cinta sama dia. Kecuali kalau kalian emang nggak takut celaka."

Jeda cukup lama. Semua anak begitu serius merenungi ucapan Giga sampai cowok itu kembali berbicara.

"Kan, nggak semua orang punya nasib sebagus gue. Kalau gue, dari dulu selalu bisa lolos dari keapesan. Gue ini orangnya penuh keberuntungan. Jadi biarin gue terus deket sama Ariel karena bagi gue, hal-hal buruk kayak gitu nggak mempan. Biarin gue sama Ariel tetap jadian. Buat yang belum tahu kabar, kami udah pacaran sejak sebelum gue kecelakaan. Kami nggak pernah putus, kok. Kemarin cuma habis break, tapi sekarang udah baikan. Ya kan, Sayang?" Serta merta Giga mengelus-elus puncak kepala Ariel membuat seisi bus melongo. Bahkan Ariel sendiri ikut terbengong-bengong diperlakukan begitu rupa.

"Kenapa muka kalian pada cengo gitu, sih?" Giga lalu tertawa. "Ayolah, guys. Barusan gue cuma bercanda. Yang bener aja. Gue nggak pernah percaya tuh sama kutukan-kutukan yang nggak jelas asal muasalnya. Apalagi apaan tuh tukang bawa sial. Nenek moyang gue nggak ngajarin para keturunannya buat percaya sama rumor nggak mutu mana jadul kayak gitu," ujarnya bosan.

"Tapi kan kemarin lo beneran ngalamin kecelakaan, Ga." Seorang coba memprotes.

"Terus kenapa? Kecelakaan bisa menimpa siapa aja, kan? Lagian gue bukan satu-satunya korban dalam kejadian nahas itu, kok," jawab Giga santai namun pasti. "Sebelum gue ditabrak, waktu itu truknya udah nabrak motor lain dulu yang jalan persis di depan gue. Pengendaranya cowok, masih SMA juga. Dia meninggal sesaat setelah sampai rumah sakit. Yang perlu kalian tahu, cowok itu nggak ada hubungannya dengan Ariel sama sekali. Kenal juga nggak. Habis nembak apalagi."

Sekali lagi keheningan menyapu penumpang bus dari segala sisi. Sampai-sampai Pak Sopir pun ikut menyimak perkataan Giga.

"Tapi baguslah kalau kalian pada percaya rumor bodoh itu. Jadi gue nggak perlu cemas ada cowok lain yang bakal ngerebut Ariel dari gue. Lagian gue juga bakal bikin perhitungan buat siapa-siapa yang berani gangguin Ariel apalagi nyoba deketin dia. Gue yang bakal bawa sial buat mereka-mereka," tandasnya kian membungkam semua orang di sana.

"Kira-kira udah cukup penjelasan gue, ya? Sebarin terus rumornya kalau kalian mau. Gue nggak keberatan, sih." Giga kembali duduk, meniup panjang udara, kemudian ia mencomot sebelah headset dari telinga Ariel untuk dipasang pada telinganya sendiri. Saat Ariel menoleh, cowok itu cuma tersenyum sambil cepat membuang muka ke jendela.

***Setengah Normal***

"Gue udah denger dari Maya. Semalem dia nelpon gue terus ngasih tahu semuanya," ujar Giga. Ia sengaja mengikuti Ariel hingga tiba di 11 IPS 1 meski selama dari bus tak sekalipun mereka berbicara.

"Jangan dengerin omongan orang yang bahkan nggak bener-bener lo kenal. Gue ngerti kalau apa yang pernah lo alami bikin lo trauma, tapi nggak seharusnya lo merasa bersalah cuma karena dituduh sembarangan. Kalau lo terus ketakutan, akibatnya hal kayak gitu jadi beneran kejadian."

Ariel yang sedari tadi tak menunjukkan respons pelan-pelan memandang pada Giga yang berdiri di samping mejanya.

"Gue pernah baca artikel tentang pengendalian alam bawah sadar. Di situ tertulis, apa yang seseorang pikirkan bisa mempengaruhi sesuatu yang sedang dia jalani. Makanya kita dianjurkan untuk selalu berpikir positif. Efek dari pikiran itu sangat besar." Cowok itu tak heboh meski umpan balik telah didapatnya.

Setengah NormalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang