"Arieeelll!" Maya berteriak sewaktu melihatnya memasuki gerbang SMA Harapan. "Tungguin gue, Rieel!" Ia yang berada tak jauh di belakang berlari menyusulnya.
"Lho, kok baru aja sampai sih, May?" sapa Ariel. "Lo kan biasanya datang lebih pagi daripada gue."
"Gue nggak naik bus kok, Riel. Gue dianterin Papa," jawab Maya dengan napas agak berantakan.
"Ooh," Ariel membulatkan mulut. "Lo bangun kesiangan pasti, ya."
"Nggak juga," geleng Maya. "Cuman, kayaknya gue bakal lebih sering diantar-jemput orang rumah mulai hari ini. Biasalah, Papa kalau udah pulang protektifnya nggak ketulungan." Ia berujar sedih sampai akhirnya melihat sosok Giga. Bola matanya yang sempat redup langsung kembali berbinar-binar. "Riel, lo berangkat sama siapa?"
Ariel melirik singkat cowok di sebelahnya, tahu akan maksud Maya. "Ini teman baru gue. Lo pasti udah tahu siapa namanya."
"Hah? Teman baru?" Maya memekik dengan wajah suka cita. "Seriusan, Riel? Gue... juga mau jadi temannya."
"Tenang aja. Teman gue kan teman lo juga. Denger," kemudian Ariel berpaling pada Giga. "Mulai hari ini lo jadi teman Maya. Mau jadi teman gue berarti juga mau jadi temannya. Lo harus baik-baikin Maya kayak dia baik-baikin gue. Paham?"
"Sip." Cowok itu mengangguk sambil menunjukkan dua jempolnya. "Halo, Maya. Kenalin, gue Giga. Anak 10 IPS 1. Karena lo sahabat Ariel, jadi mulai hari ini hingga ke depan lo bakal jadi sahabat gue juga. Moga lo nggak keberatan ketambahan gue sebagai teman."
"Aaakkk, tentu aja nggak. Gue sama sekali nggak keberatan. Sumpah!" Maya heboh sendiri usai berjabat tangan dengan Giga. "Betewe gue ke kelas duluan aja deh, Riel. Gue mau cerita sama temen-temen soal satu harapan gue yang udah jadi nyata. Hahaha. Dah, Giga. Sampai ketemu lagi yaa!"
Dengan setengah jingkrak-jingkrak Mayapun pergi lebih dulu menuju kelasnya. Melihat hal itu senyum Ariel hampir tercipta. Sikap Maya yang ceria dan enerjik selalu saja mampu menghiburnya. Di rumah maupun di kediaman neneknya, Ariel tak pernah menemukan sosok sehangat dia. Anak itu selalu bisa mencerahkan harinya di kala sedih ataupun berputus asa.
"Maya lucu juga, ya. Bener kata anak-anak di kelas gue," ujar Giga yang ternyata ikut mengamatinya. "Anaknya rame. Heran lo temenan dari kecil sama dia tapi nggak ketularan cerianya."
"Setiap orang udah dilahirin dengan karakter yang beda-beda," sahut Ariel cuek saja. "Tapi paling nggak, waktu di dekat Maya gue bisa ngerasain atmosfer keceriaannya. Itulah yang bikin gue gampang senyum dan ketawa kalau lagi sama dia."
Giga mangut-mangut. "Kalau gitu, apa lo bisa ngerasain atmosfer tertentu juga pas lagi sama gue?"
"Tentu aja," jawab Ariel tanpa pikir panjang. "Sejak pertama kali ketemu lo, gue udah bisa ngerasain adanya hawa-hawa yang kurang beres dari diri lo."
"Hawa kurang beres?" Giga membeo. Wajahnya tak terima.
"Ada kalanya gue berpikir lo ini semacam manusia bertopeng," Ariel melanjutkan penuturannya. "Saat lihat dari jauh, gue kayak lihat cowok pendiam yang pintar, kalem, cocok misal jadi ketua OSIS atau siswa teladan. Terutama pas rambut lo ditata rapi ke depan."
Giga langsung melirik ke atas, seolah sedang mengamati gaya rambutnya sendiri. Kadang-kadang ia memang menyisir rambutnya begitu jika sedang bosan dibelah pinggir.
"Tapi ternyata lo bukan orang semacam itu. Lo bahkan tergolong cowok yang suka iseng sama orang. Daripada jadi murid teladan, aslinya lo lebih cocok masuk dalam kategori murid setan," lanjut Ariel. "Kayaknya lo juga sadar diri kalau muka lo ini bisa menipu banyak orang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Teen Fiction(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
