"Cieee... fans fanatiknya Kak Yovie!"
"Cieee... yang barusan ngintip kakak kelas mandi!"
"Gila, oi...!"
Sepanjang istirahat kedua sampai jam pulang tiba, pada setiap kesempatan ada saja lontaran yang diucapkan anak-anak sekelas terhadap Ariel. Hampir semua orang mengejek sekaligus menggodanya. Tentu saja semua itu gara-gara Ellan. Malah-malah tampaknya berita tersebut sudah tersebar ke kelas-kelas lain.
Hal itu terbukti kala Ariel menuju gerbang, berpasang-pasang mata memandangnya sinis juga tak lazim. Bisikan-bisikan yang mengatakan Ariel telah menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya normal juga terdengar dari suatu gerombolan.
"Arieeel!" Suara bernada tinggi mendadak terdengar di antara hiruk-pikuk yang ada.
"Riel, temenin gue makan, yuk. Asli, gue lapar banget!" Cewek berambut panjang melebihi punggung mendekat serta merta menarik pergelangan tangan anak itu. "Gue tahu lo pasti males diajak jalan, jadi kita ke kantin aja. Siang-siang gini makan bakso kayaknya enak banget, deh."
Jika orang lain akan direspon datar dan dingin, maka tidak dengan cewek itu. Ariel justru tersenyum. Ia bahkan menurut saja saat arah langkahnya diputar menjauhi gerbang. "Nggak pakai lama, ya?" syaratnya di tengah jalan.
"Siip. Gue janji cuma bentar."
Dialah Maya, teman baik Ariel yang sering disangka pasangannya. Maya anaknya cantik juga riang. Ia sangat ramah sehingga disukai banyak orang. Meskipun Maya dan Ariel akrab, tapi sikap keduanya di sekolah benar-benar berkebalikan. Bola mata Maya selalu bersinar penuh kegembiraan. Sedang bola mata Ariel gelap, misterius, seolah ada dunia lain di balik tatapannya.
Kedua gadis itu sudah berteman sejak kecil. Kebetulan rumah mereka berada di jalan yang sama. Namun pada waktu kelas 4, keluarga Maya pindah ke luar kota. Mereka baru bertemu lagi setelah masuk SMP.
Ada beberapa alasan kenapa anak-anak SMA Harapan mengira kedua cewek itu berpasangan. Selain karena keduanya dikenal jomblo padahal banyak yang suka, sikap Ariel di depan Maya amatlah berbeda.
Ariel akan banyak senyum dan bahkan bisa tertawa-tawa saat bersama cewek itu. Ia jadi terlihat ceria seperti kebanyakan remaja normal seusianya. Sudah tentu hal tersebut menimbulkan berbagai prasangka. Ariel hampir tak pernah menunjukkan wajah seperti itu di hadapan anak lain sejak masuk SMA.
"Lo kayak nggak makan tiga hari aja. Pelan dikit kenapa?" Ariel berkomentar waktu menyaksikan sahabatnya melahap bakso begitu cepat. "Gue nggak bakal rebut mangkok lo, kok."
"Gue sudah bilang kalau gue lagi lapar," jawab Maya usai menyeruput kuahnya. "Dari tadi siang gue nggak ada waktu beli makan gara-gara remidi ulangan Bahasa Inggris sama Matematika."
"Kayaknya makin hari otak lo makin bebal aja," kata Ariel dengan senyum meledeknya.
Maya tertawa. "Lo nggak lapar?" katanya kemudian. "Buruan deh, Riel. Pesan sekalian. Rasa bakso dan kuahnya lebih enak daripada biasanya."
Ariel mencebik. "Itu karena lo lagi lapar, makanya jadi kerasa gitu."
"Nggak. Gue serius," bantah Maya. "Coba aja buktiin."
Meski kurang percaya tapi Ariel berakhir maju ke meja penjaga kantin juga. Beberapa anak kelas 12 baru selesai memesan saat Ariel tiba.
"Bu, kalau beli bakso kan satu porsinya biasa dapat mie satu gulung sama bakso enam butir," kata Ariel pada Ibu kantin.
"Iya, benar. Emang kenapa, Dik?"
"Kalau saya mau pesan tapi mienya cukup dikasih setengah gulung sama baksonya tiga butir aja gimana, Bu? Boleh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Teen Fiction(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
