(SELESAI)
Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***Setengah Normal***
Air mata Ariel jatuh berlinangan. Entah kenapa ia harus membaca lanjutan tulisan Giga di buku daftar hitamnya yang tanpa sengaja masih ia pegang dari rumah. Ariel masih berdiri di dekat UGD seorang diri waktu seorang menyentuh punggungnya dari belakang secara tiba-tiba.
"Ariel?" sebut orang itu. Suaranya agak asing. "Kamu ngapain di sini?"
Ariel menutup bukunya dulu sebelum menengok. Rupanya Stevan, tunangan Maya. "Kak," Ariel menatap laki-laki itu dengan dada begitu sesak. "Giga..."
"Giga sudah dipindah ke ruang rawat biasa beberapa waktu yang lalu," ujar Stevan membuat Ariel mengerjap. "Tadi aku nyuruh Maya nungguin kamu di depan dulu sementara aku nyari tahu ruangannya. Kalian nggak ketemu apa?"
Ariel tak mampu menjawab, hanya membalas tatapan Stevan dengan ekspresi kaku. Lalu yang meninggal di dalam siapa? Itu adalah yang ingin Ariel tanyakan, tapi Stevan sudah lebih dulu memalingkan wajah ke pintu kaca di depan, tepat saat satu keluarga tadi keluar dengan raut penuh duka.
"Huhuhu... ini pasti kesalahan. Anak kita nggak mungkin pergi lebih dulu. Iya kan, Pa? Kita pindahin Dirga ke rumah sakit lain aja sekarang."
"Ma, mau gimanapun kita tetap nggak bisa mengubah takdir. Tugas kita sekarang adalah doain Dirga semoga diterima di sisi-Nya," tenang sang anak laki-laki sambil merangkul ibunya.
"Tapi adik kamu, Han..."
"Aku juga sedih kayak Mama, tapi apa yang terjadi sama Dirga udah takdir. Mau nggak mau kita harus menerima. Kita harus ikhlas, Ma." Anak itu lalu berpaling pada ayahnya yang hanya menunduk tanpa bisa menghentikan deraian air mata. Ia menepuk-nepuk punggung sang ayah meski ia sendiri tampak begitu terluka.
"Kasihan. Keluarga mereka, cowok seumuran kamu, kecelakaan di lokasi yang sama dengan Giga," ujar Stevan sambil mengajak Ariel pergi. Sejenak ia melirik Yovie yang rupanya sudah berada di sekitar mereka sejak tadi. "Kalau lihat kondisinya, rasanya emang udah nggak mungkin bisa ditolong lagi."
Cowok berusia 21 tahun itu mengangguk. "Kebetulan aku sama Maya habis dari pom bensin, terus kami dengar ada ramai-ramai teriakan orang," kisahnya. "Ternyata ada truk nerjang jalan dari arah berlawanan. Kata si sopir truk remnya blong. Dia nggak bisa mencegah waktu truknya ugal-ugalan nabrakin motor anak itu dan Giga. Mereka sampai kelempar dari motor masing-masing, dan masih harus ketabrak mobil lain yang lewat dari belakang."
"Terus gimana keadaan Giga?" tanya Ariel lagi, cemas tak terkira.
Stevan mengangkat bahu. "Tadi aku ketemu kakaknya sebentar. Dia nggak ngasih banyak informasi, cuma ngasih tahu nomor kamar Giga sebelum pergi ke ruangan dokter."
"Riel, lo main lari aja sih? Gue kan tadi belum selesai ngomong. Kayak lo tahu di mana ruang rawat Giga aja," omel Maya begitu Ariel kembali dengan Stevan dan Yovie.