Giga termangu di tempat tidur. Ucapan Ariel seolah-olah suara malaikat yang terus terngiang di telinga. "Hah?" serunya kemudian sampai ponsel tergelincir dari pegangan. "Gue juga sayang sama lo, Riel. Tapi nggak bisa kencan kita batal gitu aja. Tetap nggak bisa!" Giga terkejut waktu mengambil lagi ponselnya. "Udah dimatiin ternyata."
Giga sudah berniat menghubungi balik Ariel tapi tidak jadi. Ia justru kembali merebahkan badan di ranjangnya lalu senyum-senyum sendiri. Ia baru sadar bahwa ucapan Ariel tadi benar-benar seperti mukjizat dari sang pencipta.
"Gue nggak tahu lo lagi ngelindur atau habis dapat mimpi apa," gumam Giga sambil mulai memejamkan mata. "Tapi gue juga sayang sama lo, Riel. Sayang banget malah. Tapi lo pasti nggak tahu."
***Setengah Normal***
"Biarin aja lah, Ma. Kita tinggal pergi aja kayak biasa," bisik Lita.
"Ya udah, nanti belanjaan kamu langsung simpan di lemari, ya? Kalau nggak ya jangan langsung dipakai. Tunggu besok-besok biar Ariel nggak curiga kalau kita habis belanja lagi," sahut Rika tak kalah pelannya.
Ariel yang baru dari kamar mandi tak sengaja mendengar bisik-bisik itu dari pintu dapur. Mereka mulai lagi, pikirnya. Ini bukan kali pertama Ariel memergoki mereka menyembunyikan sesuatu sejak kondusifnya suasana rumah. Meski tidak separah dulu, tapi sudah ada dua minggu ini Lita dan ibunya kembali ke kebiasaan semula. Mulai dari memasak hanya yang Lita suka, setiap minggu berbelanja tapi Ariel tak dibelikan apa-apa, jatah uang saku pun mulai perlu digunakan untuk menutupi kebutuhan kelas lagi.
Namun kali ini Ariel memilih untuk diam. Ia biarkan saja ibu dan kakaknya bertingkah apapun di belakang daripada ia harus bersitegang seperti kejadian lalu. Meskipun kadang sedih dan kesal tapi Ariel tahu memberontak hanya akan memperburuk keadaan. Paling tidak ia tahu Rika masih punya rasa peduli padanya meski tak sebesar pada Lita.
"Kirain kamu nggak jadi pergi, Riel. Syukurlah kalau akhirnya keluar juga." Tiba-tiba Lita sudah berdiri di muka pintu kamar Ariel.
"Aku nggak jadi pergi, kok. Nunggu rumah aja nggak apa-apa." Ariel yang sedang memilih pakaian di lemari cuma menengok sebentar.
"Lho, terus itu ngapain teman kamu datang? Katanya kalian mau jalan," kata Lita heran.
"Teman aku yang mana?" Ariel masih lebih memilih menyibukkan diri pada baju-baju daripada mempedulikan kakaknya.
"Itu lho, yang anaknya cakep. Kata Mama namanya Giga."
Bluukkk!
Dua baju Ariel langsung jatuh dari gantungan lemari mendengar Lita menyebut nama itu.
***Setengah Normal***
"Pokoknya lo nggak boleh ninggalin gue sendiri. Lo harus janji," pesan Ariel sesampainya di festival seni taman kota. Pada akhirnya Giga berhasil membawanya pergi biarpun sempat ricuh sebentar di rumahnya.
"Yaelah, Riel. Ngapain juga gue ngajak pergi kalau akhirnya gue ninggalin lo sendiri?" jawab Giga, sok tak habis pikir.
Ariel tetap mendecak berkali-kali. Kalau saja Rika dan Lita tak ikut memaksanya ikut anak itu, mungkin sekarang ia sedang tiduran santai di depan TV.
"Gue kan udah bilang nggak mau pergi!" sembur Ariel begitu melihat Giga telah berada di ruang tamunya.
"Kita tetap pergi. Buruan ganti baju. Lo nggak mungkin kan ke acara festival pakai handuk kimono gitu?" sahut Giga, lagaknya sungguh-sungguh tak peduli. "Omong-omong, kalau habis mandi lo kelihatan lebih cantik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Setengah Normal
Novela Juvenil(SELESAI) Karena selalu memusuhi cowok-cowok yang menyukainya dan mencatat nama mereka dalam buku daftar hitam, Ashariel Josephine sering dianggap kurang normal oleh teman-teman sekolahnya. Orangnya pelit, cueknya kelewatan, mukanya hampir selalu da...
