[39] : Everything Becomes More Clear

90 10 1
                                        

Mereka tersenyum melihat Ketua PASGARDA Putri, dan percaya bahwa penurunan drastis memang bisa terjadi kepada seluruh tentara, namun tentu setiap tentara berbeda, mereka punya cara mereka masing-masing untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Selanjutnya."

Mereka berlatih hingga semuanya terbagi untuk mencoba senapan baru ini. Hingga mereka tak sadar mereka berlatih hingga jam menunjukkan pukul 16.20 WIB, karena mereka juga mulai berlatih dalam jam sesi kedua dengan terlambat.

Setelah latihan dibubarkan oleh Geovano, para prajurit berbondong kembali ke kamar asrama mereka masing-masing.

"Raka!" Raka pun menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya, lalu dia pun tersenyum tipis

"Kenap Rad?" tanya Raka, kepada Radinka yang berada di depannya saat ini

"Thanks," jawab Radinka dengan kaku, lalu kemudian dia menggaruk tengkuknya

"For what?" tanya Raka menaikkan sebelah alisnya, ada apa Radinka tiba-tiba mengatakan terima kasih kepadanya

"Yang tadii, makasih udah belain gue sampe segitunya," jawab Radinka tersenyum manis kepada Raka yang sekarang hanya diam sambil menatapnya dengan intens

"Lo gak usah berterima kasih sama gue, itu emang udah jadi kewajiban gue mulai sekarang," ujar Raka sedikit canggung mengatakannya, entah mengapa sekarang hati Radinka menghangat

"Sekali lagi terima kasih," jawab Radinka kembali tersenyum

"Oh iya, gue juga mau ngomongin sesuatu sama lo," lanjut Radinka dengan serius

"Sesuatu yang serius?" tanya Raka berhenti melangkah, Radinka mengangguk kecil

"Kita ngomongin di taman." Raka menatap ke arah Radinka, dan Radinka membalas dengan anggukan lagi

Sesampainya mereka di taman, mereka duduk di salah satu bangku, jika orang lain melihat mereka berdua, orang tersebut pasti beranggapan bahwa dua orang ini sedang berpacaran.

"Gue dapet surat, gue temuin surat ini di bawah pintu kamar asrama gue," ujar Radinka lalu memperlihatkan secarik kertas yang terlipat

"Lo dapet surat ancaman?" tanya Raka memegang kedua bahu Radinka, namun kemudian Radinka menggeleng

"Gue rasa, orang ini mencoba buat memperingatkan kita, nih lo baca sendiri." Radinka pun menyerahkan surat itu kepada Raka, seolah menyuruh Raka untuk membaca tulisan di dalamnya

Raka membaca dengan seksama surat itu, beda dengan Radinka yang sedang berkonsentrasi menatap wajah Raka yang sedang serius ini.

Bahkan gue baru sadar, kalo Raka seganteng ini. Batin Radinka mulai memuja-muja wajah Raka

"Gue setuju sama lo, dia mencoba untuk memperingatkan kita. Gue rasa kita harus lebih waspada mulai sekarang." Raka mengangkat kepalanya, dia melihat Radinka yang sedang memperhatikannya. Untuk sesaat tatapan kedunya terkunci

Shiit. Dia cantik banget. Batin Raka melihat Radinka yang menatap ke arahnya dengan wajah polos

"Hey Rad, back to the earth," ujar Raka sambil menepuk tangannya di depan wajah Radinka

"Hah iyaa kenapa?" tanya Radinka seperti orang linglung

"Udah puas memuja wajah tampan gue?" tanya Raka menggoda Radinka

"Gak usah kepedean lo," jawab Radinka memutar bola matanyas malas, sebenernya ia sudah malu setengah mati

"Rad? Lo sakit? Kok pipi lo merah?" tanya Raka dengan wajah polosnya, sontak Radinka langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya

Bangkit! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang