"Kami percaya bahwa kalian semua adalah para putra-putra terbaik Indonesia. Kami percaya kalian dapat memberikan perubahan yang sangat baik."
Demi apapun sekujur tubuh Radinka mendadak berkeringat dingin dan kaku mendengar penjelasan menteri pertahanan mereka. Jantungnya berdetak kian cepat setiap menitnya.
"Lalu. Satu pemberitahuan lagi. Perihal pelaksaan ekspedisi merah putih ini."
Semuanya diam tanpa suara. Hanya ada keheningan yang mendominasi.
"Kami semua sepakat bahwa ekspedisi merah putih akan dilaksaan lusa hari Rabu pukul 22.00 WIB."
Deg!
Tak disangka, sama seperti dugaan Radinka dan yang lainnya.
Ternyata beneran. Batin Raka
Para prajurit yang berada di ruangan rapat sontak menoleh ke arah kanan dan kiri. Mereka terkejut, karena pelaksanaan ekspedisi akan dilaksanakan semendadak itu.
"Dimohon untuk seluruh prajurit menyiapkan seluruhnya. Mental, dan fisik. Siapkan senjata terbaik kalian. Untuk besok patroli evakuasi tetap dilakukan seperti biasa, sekali lagi mohon disiapkan untuk semuanya."
"Dengan begitu rapat ini dibubarkan. Untuk jadwal keberangkatan akan diberitahukan nanti lewat alat komunikasinya masing-masing."
"Selamat malam semuanya. Beristirahatlah yang cukup. Satu lagi, esok kalian diberikan waktu untuk pulang dan menginap di rumahnya masing-masing."
🔫🔫🔫
Jakarta Pusat, 2 Oktober 3024
Pukul 09.00 WIB.
"ANJAY AWAS CHINTYA MINGGIR NGALANGIN LO NJING!" teriak Daffa emosi
Chintya langsung menggeser tubuhnya dan bergidik ngeri mendengar teriakan histeris Daffa. Ya, mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka berhadapan dengan para zombie, karena esok hari merupakan hari persiapan keberangkatan misi.
Dor! Dor! Dor!
"jatuhin granat coba arah jam 2," kata Raka mengambil keputusan
"Serius, gak akan kenapa napa?" tanya Radinka menatap serius ke arah Raka
"Gapapa, udah gak ada yang ngevakuasi disitu." Raka meyakinkan Radinka, Radinka pun mengangguk lalu melemparkan granat
Seketika beberapa zombie terpental dan mati akibat granat yang dilemparkan oleh Radinka. Namun, setelah dia lihat dengan penglihatan tajamnya ternyata masih ada saja zombie yang tidak mati.
"WHAT? GAK MATI!" teriak Chintya terheran-heran melihat kekuatan zombie tersebut
Dor!
Dor!
Nindia dan Fadia dengan cepat menembak zombie-zombie yang masih hidup dan berdiri tegak dibawah.
Tiba tiba saja dari arah selatan melambung peluru udara berwarna merah, menandakan kondisi darurat dan memerlukan bantuan.
"Ok. Kita bergerak sekarang!" Raka memakai penutup wajahnya lalu disusul yang lainnya, mereka pun segera menuruni tangga gedung dan menuju motornya masing-masing
Dor!
Nadine menembakkan peluru udara berwarna hijau, menandakan mereka siap melaksanakan tugas.
Radinka dengan santai memakai sistem otomatis pada motornya, sedangkan dirinya mengisi peluru pada senjata cadangannya.
"Rad, jangan gitu bahaya! Kebiasaan!" Raka berbicara lewat eye one voicenya, sedangkan orang di tanya diam dan langsung mengendarai notornya dengan siap
KAMU SEDANG MEMBACA
Bangkit! [END]
Science-Fiction─────── Part 1 - Tomorrow Never Dies Part 2 - Legends Never Die ─────── Menyerahkah kamu? Menyerahkah kamu pada situasi ini? Masa yang kian berubah Masa yang terus berkembang Kian canggih akan teknologi Yang mungkin akan menjadi penghancur Ayah. Ib...
![Bangkit! [END]](https://img.wattpad.com/cover/81318421-64-k873463.jpg)