11. Sebuah Peringatan

180 22 15
                                        

_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______

Jangan lupa voment dan doanya, ya..
Happy reading!

Kalau ada typo bertebaran tolong mention.
Kutunggu kritik dan sarannya :)
🌹

Dengan bertopang dagu dan mata yang terarah ke arah papan tulis, Sasa memikirkan kembali sesuatu yang mengganggunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dengan bertopang dagu dan mata yang terarah ke arah papan tulis, Sasa memikirkan kembali sesuatu yang mengganggunya. Akhir-akhir ini entah kenapa perasaannya tidak enak. Dia merasa kalau ada sesuatu yang janggal dan aneh, tetapi dia tidak tahu apa pastinya. Pikirannya terus berputar menebak-nebak, tetapi sebuah seruan keras menariknya ke dunia nyata.

"Wih. Pagi, Sasasa'yaaang!"

Hanya ada satu orang yang memanggil Sasa dengan cara dan nada menggelikan seperti itu. Dialah Marse Gilang Gemilang. Sasa menoleh ke arah pintu di mana laki-laki itu berada, dengan cengiran lebarnya.

Gilang cukup terkejut mendapati Sasa sudah berada di dalam kelas dan saat ini tengah melamun. Sendirian.

"Kok murem gitu wajahnya?" kali ini Marv berkomentar.

Tumben sekali, batin Sasa.

Icha yang datang bersama dua laki-laki itu segera mendekat dan merangkul Sasa. "Lo lagi gak punya duit?" celetuknya asal. "Lo tinggal bilang gue. Gak usah malu segal-"

Sasa segera memotong. "Gue kehabisan sampo lagi, Chut, dan kutu gue semalem lahiran."

"Jadi, lo sedih?" wajah Icha menampakkan keprihatinan yang dibuat-buat, hingga rasanya Sasa ingin ketawa melihatnya.

"Campur aduk rasanya."

Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ternyata sama-sama kurang separo," gumamnya lirih yang ternyata masih bisa didengar oleh Sasa dan Icha.

Beeh, bakalan kenyang nih kayanya, ringisnya dalam hati.

Sasa dan Icha maju ke arah Gilang yang berjalan semakin mundur. Tangan Sasa mulai berusaha merangkul Gilang yang bertubuh tinggi, Icha bersidekap dengan lutut kanan yang menekan lutut Gilang hingga kaki laki-laki itu menekan tembok di belakangnya.

"Lo bilang apa tadi?" suara Sasa terdengar halus, tetapi Gilang tahu di dalamnya terdapat sebuah ancaman baginya. Jadi, dia memutuskan untuk tertawa kecil untuk mengembalikan suasana yang nyaman.

Sasa dan Icha terus menekan Gilang. Sedangkan Marv hanya memerhatikan dengan tangan yang berada di kantong celananya, berat tubuhnya dia tumpukan di atas meja, hanya sebagian dan sisanya dia tumpukan di kakinya. Matanya memicing tajam ketika menangkap sesuatu yang janggal. Setelah yakin dengan apa yang dia lihat dan pikirkan, dia bangkit dengan tegak.

Bittersweet MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang