43.2 Berakhir Kecewa

95 8 16
                                        

_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______

Halo, bertemu lagi dengan Sasa dan Marv di malam Minggu.

😊

Happy reading!

🌹


Sasa memandang kepergian Marv. Bertanya dengan hati yang terluka, mengapa Marv tidak menghampirinya, mengapa Marv justru berpaling darinya.

Dia ingin Marv tetap di sana, bersamanya. Melindunginya dari bahaya yang mengancam, yang berada tepat di depan mata. Membantu Sasa menghadapi dan mendapatkan solusi terbaik untuk permasalahan ini.

Dan juga, mengatakan pada Mlorris bahwa Sasa adalah miliknya, bahwa Sasa sudah ada yang memiliki -walaupun kenyataannya adalah fiksi- sehingga Mlorris tidak memiliki alasan untuk menjadikan Sasa miliknya. Apalagi dengan cara yang begitu, bisa dibilang, di luar akal.

Marv berjalan semakin jauh, jalannya tertatih, pakaian putih dengan sedikit corak biru mudanya, pakaian khusus pasien, masih menempel di tubuhnya. Marv pasti sudah mendengar semua pembicaraan antara dirinya dan juga Mlorris. Dan karena itulah, Marv, yang sudah menyusulnya ke sana, memilih kembali pergi, bukannya menghampiri Sasa.

Kalau pun memang benar perkataan Mlorris lah yang menjadi penyebabnya, pikir Sasa, harusnya Marv tidak pergi begitu saja.

Jika Sasa yang berada di posisi Marv, dia akan memilih untuk mendekat dan tetap tinggal, melindungi dan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Bukannya memilih pergi layaknya seorang pengecut.

Hati Sasa tahu, walaupun ragu, bahwa perasaan mereka saling bertaut. Bahwa Marv mencintai dirinya, walaupun mungkin cinta Marv sendiri tidak sebesar cintanya.

Kalau, sekali lagi, cinta Marv sebesar cinta Sasa pada laki-laki itu, Marv tidak akan pergi -untuk yang kedua kali- menyerah dan merelakan Sasa dimiliki oleh orang lain. Jika, sekali lagi, cinta Marv pada Sasa besar, tak terhingga, pastilah Marv tidak akan pernah rela kehilangan Sasa, bukan? Seperti Sasa yang tidak akan pernah rela kehilangan Marv.

Apalagi kehilangan tepat di depan mata, untuk yang kedua kalinya, setelah Leon.

Hati Sasa berdebar-debar, bimbang antara ya dan tidak. Ya, menyusul Marv dan tidak, jangan menyusul Marv. Dia marah, itu jelas. Dia kecewa, itu pasti. Namun, hati kecilnya masih berbaik hati dan memaafkan kesalah Marv, lagi.

Sasa baru saja akan berlari menyusul saat Marv berbelok ke arah pintu keluar, tetapi Mlorris dengan cepat mencegahnya.

"Mau ke mana?"

"Ke mana aja boleh," balas Sasa dengan nada ketus.

"Tawaran saya tadi bagaimana?" desak Mlorris.

Sasa memandang Mlorris dengan pandangan marah.

Menikah atau paling tidak jadilah kekasih saya. Itu adalah tawaran 'damai' yang benar-benar memuakkan yang pernah Sasa tahu dan terima.

Dasar licik!

"Apa nggak ada tawaran bermutu lainnya?"

"Sayangnya tidak. Kesabaran saya sudah habis, Sha. Jadi pacar saya, atau Papa kamu akan mengetahui permasalahan ini, yang akan berujung ke pengadilan, segera."

Mlorris menyadari bahwa Sasa bertambah marah seiring kata yang keluar dari bibirnya. Dia ingin tahu sampai mana batas maksimal Sasa. "Ah, jangan lupakan juga nasib kamu dan Dio."

"Dasar bereng-" Sasa berhenti, teringat akan Marv yang pernah mengatakan pada guru Agama mereka saat ditanya apa pendapatnya mengenai wanita yang suka berkata kasar, 'Saya tidak akan menjadikan wanita yang suka berkata kasar sebagai masa depannya kelak'.

Bittersweet MemoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang