[ON GOING, Baby]
"Ketika kita mencintai seseorang dan apa yang kita rasakan di awal fase mencintai itu adalah rasa sakit dan kepahitan, percayalah, bahwa di akhir nanti rasa manislah yang akan kita cecap sebagai penyembuhnya."
Tetapi apakah benar se...
Jangan lupa voment dan doanya, ya.. Kalau ada typo bertebaran tolong mention. Ditunggu kritik dan sarannya :)
Happy reading! 🌹
Gemercik air sejak dua puluh menit lalu terdengar dari arah kamar mandi, tetapi sepertinya orang tersebut belum berkeinginan untuk segera menuntaskan aktifitasnya di dalam sana.
Suara air yang keluar dari shower perlahan mengecil dan berhenti, seiring dengan bel dari arah pintu berbunyi.
Seorang gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan cepat melangkah ke arah pintu untuk menengok siapa yang membunyikan bel kamar apartemennya. Matanya beralih ke arah intercom yang sengaja dia matikan, tetapi tangannya berkendak lain. Langsung membukakan pintu tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui siapa yang ada di baliknya.
Seketika tubuhnya membeku karena begitu terkejut dan tak menyangka melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Yang datang ke apartemennya.
"Ino?" beonya dengan suara lirih.
Marv memerhatikan sekilas gadis di depannya itu. Menggunakan bathrobe dengan rambut yang masih basah, jelas sekali itu menandakan kalau Sasa baru saja selesai mandi atau mungkin tengah mandi ketika dia menekan bel.
"Pagi, Nona," sapanya bersikap seperti pelayan di hotel. "Saya ingin mengantarkan sarapan untuk Nona," tambahnya dengan nada geli bercampur sopan.
Kontan Sasa tertawa mendengarnya, setelah tawanya berhenti, dia bersidekap dengan gaya angkuh. "Tapi gue gak pesen sarapan apa pun."
"Ya ..., gimana, ya, Nona." Marv bersikap pura-pura bingung, kemudian mengaku dengan nada malu yang dibuat-buat. "Saya sendiri, sih, yang mau ngasih."
Sasa kembali tertawa, merasa kalau apa yang Marv ucapkan itu begitu menggemaskan. Dengan spontan telapak tangannya mendorong lembut dada Marv yang terasa keras di balik telapaknya, membuat laki-laki itu terdorong pelan ke belakang dan ikut tertawa kecil.
Sasa segera memersilakan Marv untuk masuk, melupakan petanyaan yang ingin dia utarakan. "Kalo mau minum ada di kulkas. Gue mau ganti baju dulu," ujarnya pamit sebentar untuk ke kamar.
Marv duduk di kursi dengan tangan terlipat di dada, dia merespon Sasa dengan menganggukkan kepalanya, berkata tanpa kata kalau dia akan menunggu di sana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah Sasa pergi ke dalam kamar, meninggalkannya sendirian di dapur. Marv mulai sibuk mengeluarkan bungkusan yang tadi dibawanya, bubur ayam khas Jakarta.
Di Solo jarang sekali ada penjual bubur ayam, biasanya hanya sekedar bubur tanpa suiran ayam dan kuah sayur kuning, yang Marv tidak tahu tepatnya apa nama sayur itu. Untunglah dia masih bisa menemui penjual bubur ayam, yang kebetulan penjualnya sering lewat di depan rumahnya setiap pagi dan menjadi langganannya karena rasanya yang sangat lezat.