_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______
Happy reading!
🌹
"Ceritain tentang diri kamu," pinta Marv, dengan lembut, di suatu sore yang cerah di taman sekolah.
Sasa mengulurkan tangannya dan refleks Marv menerima uluran tangan itu. "Nama gue Sasa."
Dengan pelan Marv meremas tangan Sasa karena gemas. "Aku tahu. Bukan itu maksudku," katanya, "diri kamu, SPP."
Sasa tertawa kecil, dia tahu apa sebenarnya maksud dan keinginan Marv. Dia hanya menggodanya. "Apa yang pengen lo tahu dari diri gue?" pancingnya dengan alis terangkat.
"Semuanya."
Singkat, jelas, tegas.
"Apa itu harus?"
"Ya."
"Kenapa?"
Marv terlihat menarik napasnya. "Karena aku mau."
"Cuma itu alesannya?" tanya Sasa dengan nada tidak percaya karena itulah jawaban yang keluar dari mulut Marv. Bukan "Karena aku mau kita mengenal lebih dekat" seperti yang Sasa inginkan.
"Gue anak tunggal," mulai Sasa pada akhirnya, berusaha mengusir perasaan tidak enak yang timbul di hatinya. "Mama meninggal waktu gue SMP. Itu saat-saat paling berat buat gue dan Papa. Berat rasanya harus ninggalin Papa sendirian di rumah di Jakarta, tapi mau gimana lagi, Papa yang pengen gue tinggal di sini. Untuk saat ini cuma satu keinginan gue ..."
"Apa itu?"
"Papa bisa nemuin wanita lain selain Mama. Mereka saling mencintai, menikah, bahagia. Gue pengen Papa menikah lagi biar beliau enggak sendirian, lagi." Sasa menoleh ke arah Marv. "Apa keinginan gue ini bener?" tanyanya, meminta pendapat.
"Aku tahu, kamu pasti tahu apa yang terbaik buat Papa kamu. Apa pun itu."
Sasa dengan berani mencoba untuk membeberkan rencananya yang selama ini dia pendam sendirian. "Sebenernya gue punya rencana buat ... jodohin Papa."
"Jod- apa?" tanya Marv dengan wajah terkejut. Kemudian kepalanya menggeleng samar antara rasa tidak percaya dan menolak gagasan tersebut. "Jangan konyol."
Tiba-tiba Sasa merasa jengkel. "Konyol?"
"Maaf," Marv buru-buru berkata, "bukan begitu maksud aku. Gini, gimana kalau misalnya kamu yang ada di posisi itu, dijodohin sama orang tua kamu?"
"Ya, enggak mau lah!" tolak Sasa bersungut-sungut.
"Nah! Begitu juga dengan Papa kamu. Beliau pastinya keberatan dengan gagasan kamu itu. Takutnya Papa kamu merasa dipaksa dan tertekan. Biarin Papa kamu nemuin wanita yang beliau cintai dan inginkan. Tugas kamu sebagai putrinya adalah mendukung, menyemangati mendoakan, dan menghormati apa pun keputusan yang akan Papa kamu ambil nantinya."
Sepertinya Sasa memang benar-benar menceritakan ke orang yang tepat. Hal itu membuatnya senang. Keputusan yang memang patut disyukuri. Anggukan kepalanya menandakan bahwa dia sangat setuju dengan saran Marv barusan.
"Punya saran?" tanya Sasa, berharap jawabannya adalah ya.
"Tentang Papa kamu?" Marv kembali melanjutkan tanpa menunggu jawaban dari Sasa. "Kasih aja kode."
"Kode?"
"Iya, biasanya 'kan cewek suka kasih kode-kode tuh, kenapa enggak dipake aja?"
Sasa sadar betul kalau Marv sedang mengejek sekaligus menyindir, tetapi dia lebih memilih untuk tidak menanggapinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Memories
Roman pour Adolescents[ON GOING, Baby] "Ketika kita mencintai seseorang dan apa yang kita rasakan di awal fase mencintai itu adalah rasa sakit dan kepahitan, percayalah, bahwa di akhir nanti rasa manislah yang akan kita cecap sebagai penyembuhnya." Tetapi apakah benar se...
