_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______
🇮🇩 Sebelumnya, aku mau ngucapin Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, wahai teman-teman Indonesiaku, di manapun dirimu beradaaaaaaa. Part ini kupersembahkan untuk Indonesia tercinta .... 🇮🇩
Jangan lupa voment dan doanya, ya..
Kalau ada typo bertebaran tolong mention.
Ditunggu kritik dan sarannya :)
Happy reading!
🌹
Seluruh warga negara Indonesia hari ini tengah bersuka cita merayakan Kemerdekaan Indonesia yang ke-73, yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.
Hal itu juga dilakukan oleh seluruh siswa-siswi dan guru di SMA Lovely Darling, yang pagi ini melaksanakan upacara bendera. Dengan penuh khidmat upacara bendera pun berlangsung, yang kemudian ditutup dengan doa agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi kedepannya.
Tidak lengkap rasanya merayakan tujuh belasan tanpa adanya lomba yang diadakan karena itulah para anggota OSIS SMA LD menyiapkan acara lomba untuk diikuti para siswa-siswi di sekolah tersebut.
"Lo mau ikut lomba apa?" tanya Sasa pada Gilang yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Apa aja yang penting menang," jawab Gilang asal, dengan kekehan pelan keluar dari mulutnya.
Wajah Sasa berubah jengkel. "Lo gak bisa gitu, ya, serius dikit aja?"
Gilang melempar kepalanya ke belakang dan tertawa. "Banyak juga bisa, kok. Diriku udah serius. Selalu serius malahan" tandasnya, dengan masih tertawa.
"Gila." Sasa menggeleng-gelengkan kepala. "Sarap," katanya lagi, yang malah membuat laki-laki itu semakin tebahak.
Tawa Gilang berhenti mendadak, setelah itu berganti dengan suara batuk yang lumayan keras. Semua itu karena ulah Icha yang baru saja datang menyusul keduanya. Karena Icha dengan kejamnya menyumpal mulut Gilang yang tengah terbuka lebar dengan lontong yang berukuran sedang, makanan yang baru saja dibelinya saat di kantin.
"Lo mau ikut lomba apa?" tanya Icha kemudian, dengan ringan, seakan dia baru saja tidak menyiksa anak orang.
Sasa menjawab di sela-sela tawanya melihat kejadian barusan. "Gue mau lomba make up-in orang, kalo ada ...," terdengar suara Gilang yang masih terbatuk karena tersedak, wajahnya memerah. Sasa merasa terhibur melihatnya, tetapi dia juga merasa begitu kasian. "Minum ..., minum," perintahnya, sambil menyodorkan botol minuman yang untungnya dia bawa. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Gilang.
Sesaat setelah batuknya reda, Gilang bergulir ke arah Icha dengan tatapan nyalang, yang sayangnya dibalas tatapan tanpa dosa oleh Icha. Karena merasa kesal, dia pun menjitak kepala Icha cukup keras, merasa puas saat wajah orang yang dijitaknya itu meringis kesakitan.
Sasa membiarkan dua orang sahabatnya itu menjitak satu sama lain, tawanya pecah ketika melihat Icha yang menjambak rambut Gilang dan dibalas laki-laki itu dengan cubitan di pipi, berujung saling tarik menarik.
Marv yang sejak tadi memerhatikan dari jauh, melangkah mendekat ke arah ketiganya dan mereka belum menyadari kehadiran dirinya di sana.
"Lang, jangan malu-maluin."
Sasa, Icha, dan Gilang dengan kompak menoleh ke arahnya setelah dia mengatakan itu. Orang yang sejak saling tarik-tarikkan, memilih untuk mengakhiri 'kegiatan' tersebut, mengikhlaskan rambut yang acak-acakan serta pipi yang memerah. Sama-sama terasa kebas. Icha dan Gilang memicingkan mata, membuat Marv bertanya-tanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Memories
Teen Fiction[ON GOING, Baby] "Ketika kita mencintai seseorang dan apa yang kita rasakan di awal fase mencintai itu adalah rasa sakit dan kepahitan, percayalah, bahwa di akhir nanti rasa manislah yang akan kita cecap sebagai penyembuhnya." Tetapi apakah benar se...
