_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______
Happy reading!
🌹
Tiga tahun lamanya. Sudah tiga tahun mereka, Olivia dan Marv, tidak pernah bertemu lagi dan itu dimulai tepat setahun sebelum acara kelulusan SMP. Lalu, mengapa sekarang mereka dipertemukan kembali di saat Marv sudah menyiapkan sebuah ruangan eksklusif di hatinya untuk seorang gadis?
Jangan tanyakan seistimewa apa sosoknya hingga Marv harus menyiapkan ruangan khusus seperti itu untuk ditempati oleh-nya.
Marv merenung dan terus merenung, sampai akhirnya memori akan masa lalu tiba-tiba terputar di kepalanya. Sebuah suara feminin muncul. Memaksa ingatannya untuk kembali ke masa lalu. Pada masa-masa patah hati untuk yang pertama kali dalam hidupnya. Pada kejadian menyakitkan itu.
"Sebaiknya kita berakhir. Aku lebih milih tawaran Papi buat pindah sekolah ke luar negeri, dibanding kita. Kita berdua tau kalo apa yang terjadi di antara kita itu nggak ada artinya sama sekali. Nggak ada alesan buat kita berdua untuk terus bersama."
Suara feminin itu milik Olivia. Itulah kalimat yang diucapkannya, dengan entengnya. Setelah itu, apa yang dilakukan Olivia? Gadis itu melangkahkan kakinya menjauh dan semakin jauh dari Marv. Dari kehidupan Marv.
Ingin sekali rasanya Marv tertawa keras-keras atas 'permainan' ini. Permainan waktu dan semesta. Olivia benar-benar ingin mempermainkan dirinya. Kalau tidak, mengapa gadis itu memilih sekolah di sini padahal dahulu dia memilih, dengan kurang akalnya, meninggalkan kisah mereka berdua demi menempuh pendidikan di luar negeri?
Yang dapat Marv lakukan hanyalah tertawa dalam hati dengan perasaan perih saat memikirkan semua itu.
Dia sudah nyaman. Bahkan Marv sudah bersiap untuk memulai kisah barunya dengan Sasa. Dan sekarang ...
Suara Pak Hardik yang nyaring, yang sedang menjelaskan materi kembali terdengar di telinganya. Mengembalikan fokus Marv yang sebelumnya terbagi. Dengan terang-terangan Marv menoleh ke arah Sasa yang tengah menatap lurus ke papan tulis, padahal papan tulis itu kosong. Pak Hardik bukanlah guru yang suka menulis di papan tulis.
Kemarin, bel masuk menyelamatkan Marv dari sosok Olivia yang mendadak muncul di kantin. Karena bunyi bel itulah, Marv mempunyai alasan logis untuk segera meninggalkan gadis itu dan menenangkan dirinya sendiri selama perjalanan lima menit ke kelas.
Sesampainya di kelas, Marv mendapati Sasa dan Icha kompak tidak mengikuti pelajaran sampai mata pelajaran hari itu berakhir. Dan juga Gilang menjadi lebih pendiam daripada biasanya.
Sejak hari itu. Sejak kehadiran Olivia di SMA LD, di kehidupannya, entah ini hanya perasaannya saja ataukah memang benar seperti itu. Marv merasa bahwa Sasa mulai menjaga jarak dengannya.
Apakah jarak itu tercipta karena kedatangan Olivia? Kalau memang benar seperti itu, kehadiran Olivia adalah di luar kehendaknya. Marv sendiri sama sekali tidak mengharapkan hal itu terjadi.
Marv bertekad hari ini juga dia dan Sasa harus berbicara. Tak peduli kalau mungkin saja Olivia kembali mengganggunya saat istirahat nanti.
Tidak, Marv merasa waktu yang tepat untuk mereka berbicara adalah sepulang sekolah nanti. Di danau. Marv akan mengajak Sasa ke sana.
✳️✳️✳️
"Kamu ada waktu?"
Tergantung, waktu untuk apa dulu. "Kenapa emangnya?" Sasa balik bertanya tanpa menatap lawan bicara. Tangannya masih sibuk membereskan buku-buku yang tergeletak di atas mejanya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Saat ini, hanya ada Marv dan Sasa di dalam kelas karena yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu, termasuk Icha dan Gilang. Sasa menyuruh keduanya untuk tidak perlu menunggunya. Tanpa Sasa duga, Marv yang sudah keluar kelas bersama Gilang ternyata kembali lagi ke dalam dua menit kemudian. Dan saat ini laki-laki itu tengah mengajaknya berbicara. Setelah sekian lama.
"Aku pengen ngajak kamu ke danau."
Tangan Sasa yang sejak tadi bergerak refleks berhenti mendengar pernyataan tersebut. Kali ini matanya menatap mata Marv lurus-lurus, sedikit kernyitan terlihat di dahinya.
"Kalo kamu keberatan, kita bisa ngobrol di sini, " kata Marv cepat-cepat, kemudian menambahkan pilihan lain, "atau di taman. Di mana aja yang kamu mau. Yang bikin kamu nyaman nantinya."
Sasa tersenyum tipis, lalu bertanya. "Emangnya mau ngomongin apa sampe harus nyari tempat yang nyaman?"
Marv merasa cukup kelimpungan mendapat pertanyaan tersebut. Ya, memangnya mereka akan membicarakan apa sampai harus mencari tempat yang nyaman terlebih dahulu? Mereka mungkin hanya akan membicarakan ini dan itu.
Dan dia tidak tahu pasti apa jelasnya dari kata ini dan itu tersebut.
Dengan perlahan Marv menyahut, sedikit menekankan bagian akhir. "Kita akan ngomongin tentang kita."
Sasa merasa kalimat tersebut kurang tepat, tetapi dia memilih untuk diam. Apa yang Marv maksud dengan kalimat 'tentang kita' benar-benar membuatnya berdebar sekaligus penasaran.
Baru saja dia ingin mengiakan dan menyarankan taman sebagai tempat untuk mereka berdua mengobrol nantinya, sebuah suara tiba-tiba saja muncul dari arah pintu. Membuat keduanya menoleh ke pintu. Sasa menutup rapat bibirnya yang tadinya akan terbuka. Amat rapat hingga terbentuklah garis lurus di sana.
"Hai, Maby. Mau pulang?" tanya Olivia dengan ceria pada Marv. Wajah tanpa dosanya tercetak sangat jelas.
Sasa bertanya-tanya dengan heran. Tidak adakah rasa tidak enak hati dalam diri gadis itu, walaupun hanya sedikit saja?
Marv bergerak pelan, merasa benar-benar berada dalam keadaan yang tidak nyaman. Semakin tidak nyaman kala Olivia memutuskan untuk bergerak lebih ke dalam, mendekat dan berdiri di sampingnya. Ketidaknyamanan itu terlihat dari gesturnya. Hal itu tertangkap oleh mata Sasa, tapi tidak oleh Olivia.
Sasa tersenyum pedih di dalam hati. Otaknya memerintahkan kakinya untuk bergerak membawanya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Membiarkan dua sejoli yang dipertemukan kembali oleh sang waktu untuk saling menghadirkan kembali rasa yang dulu pernah ada.
Seakan baru menyadari keberadaan Sasa di sana, Olivia menyapa dengan ceria. "Halo, Kakak!"
Sasa memaksa wajahnya untuk menghadirkan satu senyuman. "Halo," sapanya balik. Tanpa mau menunggu lagi, dia pamit pada Marv dan juga Olivia.
Tiga langkah dari pintu, Sasa mendengar apa yang diucapkan Olivia pada pemilik-hatinya-yang-sayangnya-tidak-akan-pernah-bisa-dia-miliki-sendiri.
"Kita pulang bareng, ya, Maby? Boncengan. Tangan aku meluk kamu dari belakang, kayak dulu yang sering aku lakuin tiap naik motor sama kamu."
"Ya."
Hanya sebatas itulah air matanya mampu bertahan untuk terus tetap tenang di tempatnya. Dengan menahan isak tangisnya sendiri, Sasa berjalan cepat meninggalkan sekolah.
✴️✴️✴️
Well, kalau kamu adalah Sasa, apa yang seharusnya kamu lakukan?
Patah hati rasanya kayak gimana, sih? Lupa soalnya, wkwk.
Sampai ketemu di part selanjutnyaaaa!
STAY HAPPY, By ....
:)
_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Memories
Fiksi Remaja[ON GOING, Baby] "Ketika kita mencintai seseorang dan apa yang kita rasakan di awal fase mencintai itu adalah rasa sakit dan kepahitan, percayalah, bahwa di akhir nanti rasa manislah yang akan kita cecap sebagai penyembuhnya." Tetapi apakah benar se...
