23. Tidur yang Nyenyak

119 23 12
                                        

_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______

Happy reading!

🌹


Langit mulai menggelap, terlihat muram karena matahari telah meninggalkannya sejak dua jam yang lalu dan kini kedudukan sang matahari digantikan sepenuhnya oleh bintang-bintang yang bertebaran dengan kerlip riang mengitari bulan yang terlihat bijaksana di tempatnya.

Seharusnya sang langit lebih merasa bergembira di kelilingi bulan dan bintang-bintang malam ini, tetapi alih-alih langit lebih memilih untuk tetap bersama matahari ketika di siang hari. Selalu tidak siap meninggalkan matahari demi menyambut bulan dan bintang yang cantik. Menurutnya matahari jauh lebih cantik.

Layaknya langit, Marv juga merasakan yang sama, muram. Perasaan itu selalu dirasakannya kala hari beranjak malam. Dia tidak siap, selalu tidak siap. Dan jika disuruh memilih, dia akan memilih waktu siang yang berkepanjangan. Tidak peduli bagaimana udara siang membakar dirinya. Rasa sepi dan tidak nyaman selalu menghantuinya ketika di malam hari.

Dia dan Icha tidak berhasil merayu para sponsor dan alumni yang meminta mereka agar didatangkan penyanyi dunia di acara ulang tahun sekolah nanti dan dengan berat hati besok dia dan Icha akan merundingkan masalah tersebut dengan pihak sekolah, yang sama sekali tidak mengetahui mengenai persoalan ini.

Dering ponsel menyelamatkan Marv dari rasa sepi yang mulai merangkak secara perlahan di dalam kamarnya yang sengaja ditemaramkan saat malam. Marv tidak tahu, haruskah dia merasa terkejut, senang atau rasa yang lainnya saat mendapati yang menghubunginya ternyata adalah Sasa. Tiba-tiba menghubunginya di malam hari adalah persoalan yang lain lagi.

"Halo?" sapanya dengan suara rendah.

Terdengar dengungan yang Marv tangkap sebagai kebimbangan dari arah Sasa, yang membuatnya mengernyitkan dahi, sebelum akhirnya suara yang lebih jelas dan mantap menyapa telinganya. "Lagi ngapain?" tanya Sasa dengan suara khasnya, lembut dan sedikit serak-serak basah. Suatu hal yang cukup mengejutkan bagi Marv bahwa seorang gadis bisa mempunyai suara yang seperti itu. Menarik.

"Lagi nge-game. Ada apa?"

"Bisa ke sini?" tanya Sasa setelah jeda lima detik dalam keraguan.

Marv bingung dengan kalimat yang cukup ambigu itu. "Ke sini ke mana?" tanyanya meminta penjelasan.

"Ke apartemen," kata Sasa menjelaskan, seperti yang Marv harapkan. "Apartemen gue."

Rasa pening di kepalanya sedikit bertambah karena bingung. Marv melirik jam yang terletak di dinding kamarnya, yang menunjukkan kalau saat ini pukul tujuh lewat lima belas menit, malam. Kemudian Marv kembali fokus ke ponselnya yang masih menempel di telinganya dan bertanya dengan hati-hati. "Ngapain?"

Terdengar helaan napas panjang yang berasal dari seberang, Sasa. "Ada hal yang aneh di sini. Gue ngerasa ada sesuatu yang aneh dan mulai janggal sehabis gue pulang sekolah tadi."

"Kamu bisa jelasin apa itu?" pinta Marv. Dan selagi Sasa menjelaskan padanya, Marv sibuk mengenakan pakaiannya.

"Sejak pulang sekolah ada terus orang yang dateng ke apartemen, entah itu ngirimin makanan, bunga, baju, tas. Padahal gue sama sekali gak ngerasa beli semua itu dan gue enggak kenal orangnya. Aneh, kan?"

Bittersweet MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang