34. Kita Ini Apa?

105 19 17
                                        

_______❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤_______

Happy reading!

🌹

Apa masih ada harapan untuknya? Tak ada, kata bagian hatinya yang pesimis.

Ada, bantah bagian hatinya yang optimis. Ya, pasti ada. Bukankah Tuhan selalu memberikan harapan bagi setiap insan yang mempunyai harapan lagi berusaha?

Sasa memasuki hotel dengan berlari karena tiba-tiba saja hujan turun dengan deras ketika dia baru keluar dari taksi. Dia mengangguk pelan dan sesekali melempar senyum pada petugas hotel yang menyapanya dengan ramah.

"Selamat malam, Miss," sapa seorang petugas hotel yang berada di depan lift padanya.

Sasa membalas sapaan itu. "Selamat malam."

Di dalam lift ternyata hanya ada dirinya seorang. Sasa merapikan rambutnya yang kusut dan sedikit basah serta menepuk-nepuk pelan pipinya yang terasa dingin. Empat lantai sebelum menuju kamarnya, ada seseorang yang bergabung dengannya di dalam lift.

Orang itu melangkah masuk dan menekan nomor yang sama dengan lantai kamar Sasa. Itu artinya mereka bertetangga, tetapi kalau memang mereka bertetangga, mengapa dia tidak pernah bertemu satu kali pun dengan orang tersebut. Mungkin orang baru. Ya, itu alasan yang cukup masuk akal.

Sasa ingin menyapa, bersopan santun karena ternyata mereka bertetangga, tetapi dia tidak berani karena orang itu terlihat ... terlihat sedikit aneh. Dan menakutkan. Tubuhnya sedikit bergetar karena merinding. Ah, mungkin ini efek karena dia kedinginan, pikirnya.

Sasa hampir bergerak ke pojok, tetapi untunglah lift berdenting dan pintu terbuka dengan segera, 'membebaskan' dirinya dari kungkungan kurungan besi itu, bersama orang itu. Dengan langkah cepat, yang hampir seperti berlari -ya ampun kenapa dia harus berlari?- Sasa secepat mungkin ingin masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci rapat pintunya. Tubuhnya dia sandarkan di pintu dan tangannya menutup mulutnya yang hampir saja berteriak terkejut.

Bukan hanya karena dia mendapati siapa yang bersamanya di lift tadi, tetapi juga dia melihat sesuatu yang tak terduga yang tergeletak di depannya dengan posisi duduk menghadap ke arah pintu, seakan mengucapkan selamat datang padanya. Boneka hitam dengan mata putih. Ya, bola matanya putih, semua. Jantungnya berdentum-dentum keras.

Walau tubuhnya kembali gemetar Sasa tetap memberanikan diri untuk melangkah maju, mengambil boneka itu. Sebelum tangannya sempat menggapai tubuh boneka tersebut, Sasa tersentak mundur ketika sebuah suara muncul dari benda di depannya itu.

"Halo, Sha." Suara seorang pria, dalam dan sedikit serak. Tunggu. Suara itu sama seperti ... Sasa berusaha mengingat-ingatnya, kemudian matanya membelalak. Suara itu persis seperti suara seorang pria yang dia temui di perjalanannya ke halte bus ketika dia pulang sekolah waktu itu. Suara dan kalimatnya sama persis. Dan orang yang bersama dengannya di dalam lift tadi adalah orang itu.

Sasa melihat dengan sedikit cukup jelas wajah orang itu ketika melangkah keluar, walaupun tertutup sebagian oleh masker, tetapi dia mengenali matanya saat mereka berdua tidak sengaja melihat satu sama lain secara sekilas. Matanya seperti milik Marv dan dia ingat om-om yang dia temui ketika pulang sekolah waktu itu juga memiliki mata yang sama.

Dia berpikir seperti itu bukan karena sejak tadi dia terus memikirkan pemuda yang bernama Marv sehingga membuatnya cukup sinting untuk menyamakan semua mata orang yang dia lihat hari itu terlihat sama seperti bola mata Marv. Tentu saja tidak.

Bittersweet MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang