Part 57

1.1K 45 0
                                        

Di dalam satu komunitas, segala sesuatu menjadi tanggung jawab bersama.
Aku mencintai seseorang di dalam satu komunitas, apakah menjadi tanggung jawab bersama?

**
Setelah liburan setengah semester kuliah, Ferrel memutuskan untuk pulang ke Jakarta untuk berkumpul dengan keluarganya dan menemui Fella walaupun statusnya bukan lagi sebagai pacarnya.

Ferrel sama sekali tidak memberi kabar bahwa dirinya akan pulang ke Jakarta, apalagi saat ini dirinya sudah didepan rumah Fella.

Ia mengetuk pintu rumah Fella perlahan, hingga datangnya sesosok wanita yang ia tunggu-tunggu setelah beberapa bulan lamanya.

Ferrel tersenyum, sedangkan Fella sangat kaget dengan kedatangan Ferrel.

"Ngapain lo kesini?" Kalimat yang diucapkan Fella setelah beberapa bulan tidak bertemu dengan Ferrel. Sungguh, bukan kalimat ini yang Ferrel tunggu.

"Lo gak seneng gue ada disini?" Tanya Ferrel.

Fella menatap sinis kearah Ferrel.

"Sama siapa aja lo selama liburan?" Tanya Ferrel.

"Berdua, kenapa? Ada urusannya sama lo?" Tanya Fella tajam.

"Sama cowok yang lo post di instagram? Yang katanya anak kepsek?" Tanya Ferrel tajam.

"Gak ada urusannya sama lo, mending lo pulang karena kehadiran lo disini gak dibutuhkan." Ucap Fella membalikkan tubuhnya ingin meninggalkan Ferrel

"Masih perawan kan lo?" Tanya Ferrel yang membuat Fella memberhentikan langkah kakinya.

Fella menatap tajam Ferrel, "Sebesar rasa cinta seseorang pun gak pantes nanya hal seperti itu."

"Dan gue, bukan cewek yang suka ganti-ganti pasangan."

"Dan lo tau bahasa kasarnya?"

"GUE BUKAN PELACUR YANG HARUS LO LONTARKAN PERTANYAAN SEPERTI TADI."

Ferrel terdiam dengan perkataan yang dilontarkan Fella, ia sangat menyesal mengatakan hal seperti itu. Karena ia merasa emosi dengan respon Fella saat kedatangannya tidak disambut.

"Setelah putus sama lo, gue gak pernah deket sama cowok. Deby hanya teman gue, kalo lo mengganggam gue sama dia itu berlebihan, itu bukan urusan lo."

"Karena disini lo sama gue udah gak ada ikatan hubungan apapun. Dengan hormat, gue minta lo pergi dari hadapan gue." Lanjut perkataan Fella.

"Gue minta maaf, gue kebawa emosi."

"Minta maaf bukan sekedar dari mulut, tapi dari hati. Memaafkan memang mudah, tapi melupakan perkataan lo tadi gue rasa butuh waktu yang cukup lama."

"Disaat gue akan melupakan perkataan lo tadi, begitu juga gue akan melupakan tentang lo. Dimana masa SMA gue begitu abu dan pilu."

Setelah mengucapkan perkataan itu, Fella memasuki rumahnya dan menutup pintunya dengan kencang.

Ternyata lo lebih dari seorang bajingan. Persis kayak abang lo.

PhilophobiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang