Bab 8

1.4K 66 0
                                        

"Jadi nih kita buat kejutan ulang tahun si ulet?" Tanya Alvi. Matanya menatap Regas namun yang ditatap malah sibuk melamun. "Woy Regas! Denger gak sih gue ngomong apa?"

"Kira-kira gue ngasih apa ya sama Terra?"

"Kasih aja emas batangan. Gak bakal nolak dia" celetuk Rendi. Alvi yang mendengar itu sudah siap dengan ancang-ancangnya. Takut-takut mereka akan saling memukul lagi seperti kemarin.

Regas diam berusaha menghilangkan pikiran untuk memukul Rendi dan mulut pedasnya.

"Udahlah biar gak buang-buang waktu, lo sekarang cari kado biar urusan tempat gue sama Rendi yang tentuin sekalian dihias. Ya gak Ren?"

Regas menatap Rendi membuat cowok itu lagi-lagi harus ikut dalam urusan yang menyangkut ulat gatal alias Terra. "Gue tunggu lo sama ulet di kafe Mawar Putih. Kalo telat gue acak-acak lagi dekorasinya"

Rendi berbalik disusul Alvi meninggalkan Regas.

🐛🐛🐛

Setelah membeli hadiah untuk Terra, Regas segera berganti pakaian. Seperti Rendi katakan beberapa menit yang lalu lewat telpon, kafe sudah selesai dihias dan tinggal menunggu kedatangan Regas dan Terra. Seperti rencana yang ia buat, Terra akan datang sendiri ke kafe dan saat itulah ia memberi kejutan untuk kekasihnya itu.

Setelah selesai berpakaian, Regas segera turun dari kamarnya namun saat mencapai anak tangga terakhir, suara seseorang membuat langkahnya terhenti.

"Regas? Kamu mau kemana?"

Regas berbalik. Matanya menatap wanita paruh baya itu dengan datar. Mulutnya masih enggan menjawab semua pertanyaan dari Mamanya itu.

"Regas?" Tanya Mamanya sekali lagi sambil tersenyum.

Kenapa senyum itu tidak ada saat menyambut kedatanganku, Ma?

"Regas, Mama mau minta maaf sama kamu"

"Buat?"

Devina mendekati anak satu-satunya itu. Anak yang pernah ingin ia singkirkan. "Regas. Mama benar-benar minta maaf"

Regas tersenyum getir. "Papa udah ngga ada. Niat Mama buat singkirin aku masih ada?"

Devina menunduk. Matanya mulai mengeluarkan air mata. "Jangan terus begini nak. Mama rindu senyum memohon kamu. Rindu ajakan kamu untuk bermain sama Mama" Devina mendongak berusaha menutup akses keluarnya air mata. "Maafin Mama Regas"

"Aku bisa aja maafin Mama. Tapi apa itu berguna kalo hati aku aja gak pernah bilang baik-baik aja karena kesalahan Mama waktu itu"

Devina bungkam. Air mata kembali deras membanjiri wajahnya. "Regas"

Regas berbalik, meninggalkan Devina yang sudah terisak.

💧💧💧

Dulu saat umurnya tujuh tahun, Regas selalu mendengar kata-kata 'surga itu di bawah telapak kaki ibu' dari guru mengajinya. Regas kecil bahkan sering bilang pada Papanya untuk mengajarinya bagaimana cara mendapatkan surga itu dan Papa hanya bilang untuk tidak membuat Mama menangis.

Hari ini cita-cita saat kecilnya mungkin takkan pernah tergapai.

Iya. Mungkin.

SAVVY✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang