Bab 7

1.4K 70 2
                                        

Alula memejamkan matanya. Ia tidak tau kenapa air matanya tidak mau berhenti keluar. "Ssshhh, kenapa lemah banget sih Alula?" Alula mengutuk dirinya sendiri, ia seharusnya tidak menangisi hal yang tidak benar. Tapi mengapa hal itu sangat menyakiti hatinya?

Alula melangkahkan kakinya lebih cepat agar segera sampai ditaman belakang sekolah. Ini kali pertamanya ia bolos pelajaran dan ia sangat tau sikap itu hanya dimiliki seorang pengecut, tapi mau bagaimana pun ia berusaha terlihat kuat tetap saja cibiran dan hinaan dari semua orang membuatnya lebih terlihat lemah.

Saat sepuluh langkah lagi menuju tikungan yang terhubung langsung dengan taman sekolah, langkahnya otomatis terhenti saat melihat Regas yang datang dari tikungan menuju arahnya. "Regas?" Ucap Alula. Tangannya langsung menghapus jejak air mata dipipinya.

"Regas aku mau ngomo___" tubuh Alula berputar 180°. Matanya mengerjap saat melihat Regas melewatinya tanpa mau mendengar ucapannya.

Alula menghela nafas lelah. Kakinya kembali melangkah. Ia merasa ingin mengeluarkan beban ini lewat tangis dengan se-segera mungkin.

⚽⚽⚽

"Ini Alula beneran gak masuk sekolah?!" Teriak Ira heboh hingga semua mata tertuju padanya. Tresa yang disampingnya merasa malu luar biasa. Sudut mata cewek itu menatap teman-teman sekelasnya yang kembali melanjutkan aktivitasnya. "Gila! Suara lo kek toa, babi!!"

"Eh berisik lo! Gak liat gue lagi panik-panik manjah nih? Hah? Gak liat? Apa pura-pura gak liat?"

Tresa memukul bibir sahabatnya. "Please deh Ira-ku sayang. Semua juga tau Alula gak masuk, jadi lo gak perlu repot-repot teriak kek lagi kampanye"

Ira mendelik tajam. "Heh Tresa! Muka lo santai aja kayak di pantai? Ini Alula lagi jadi perbincangan panas disekolah ini? Lo gak tau apa?!"

Tresa mulai kesal. Tangannya kembali mendarat, kini tepat di kepala Ira. "Pikiran lo sempit banget sih? Gue tau dan gue gak alay kayak lo. Dasar cabe peyot!"

"Heh emaknya cabe nyolot amat?" Ira menyilangkan tangannya didada. Matanya menatap Tresa sinis.

"Eh songong yah lo? Bener-bener minta digampar lagi tuh mulut" Tresa sudah melayangkan tangannya, namun tangannya tak kunjung mendarat dibibir sahabatnya itu. Tresa menoleh, mendapati Alula dengan wajah yang ingin marah tapi tidak bisa.

"Kalian kenapa berantem sih?" Alula melepas cekalannya di tangan Tresa. Ia memandang kedua sahabatnya itu dengan tajam. "Kebiasaan banget sih. Kalo ngga ada aku, kalian pasti masih adu mulut sampai jam istirahat abis. Kalian gak lapar apa?"

Tresa memandang Ira lalu Ira seketika mengangguk saat mendapat tatapan penuh arti dari Tresa.

"Aduhhhh, arghhhh.. Ira! Tresa! Apa-apaan sih?" Ira sedikit memperkuat cubitannya di lengan kiri Alula, sedangkan Tresa mencubit di lengan kanan Alula. "Bagus yah lo! Kenapa bolos pelajaran pertama?"

Ira mengangguk setuju. "Hobi banget bikin orang kelabakan khawatirin lo! Oh iya, lo tanya gue lapar apa ngga? Gue lapar banget dan pengen makan lo"

Alula menekan dahi Ira saat gadis itu mendekatkan wajahnya ke lengannya. "Iraaaaa ihhhhhh"

"Gue lapar! mana yang harus gue makan nih?" Ira terus mendekatkan wajahnya ke lengan Alula dan Alula terus menekan dahi Ira untuk menahan sahabatnya itu. "Iraaaaaa ihhh jorokkkk"

"Eh kok jadi kalian yang berantem?" Tresa menarik telingan kedua sahabatnya. "Berhenti gak? Atau putus nih telinga lo pada?!"

Ira dan Alula menjauhi diri. Matanya saling menatap tajam. Namun sedetik kemudian tatapan itu berubah, senyum langsung menghiasi bibir kedua cewek itu. "Ahahaha dasar kampret!" Teriak Ira dengan tawanya yang keras.

"Ira nakal!" Alula tersenyum kecil, kemudian matanya menerawang tak tentu. "Kalian selalu ada untuk aku kan?"

Mendengar itu mata Tresa dan Ira mulai berkaca-kaca. "Aku gak tau harus kuat karena siapa lagi kalo bukan karena kalian"

Tresa segera menghapus air matanya yang siap jatuh lalu segera memeluk Alula disusul Ira. "Lo gak sendirian, Al. Ada gue sama Ira"

Ira mengangguk. Pipinya sudah basah karena air mata. "Gue gak akan ninggalin lo, La. Sampai kapanpun"

Alula mengangguk kecil. Tangannya memeluk erat kedua sahabatnya. "Makasih. Makasih banget"


🔎🔎🔎


Bab 7 selesai. Selamat membaca😊


Salam dari bininya Seokjin❤

Kamis, 4 Oktober 2018

SAVVY✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang