Ivanna berjalan kembali memasuki rumah Putri, dengan sedikit tergesa-gesa.
"Eh Put, gue pulang duluan yaa, maaf banget nih nggak bisa lama-lama. Guys gue duluan ya?!" Ivanna menatap satu persatu teman-temannya.
"Dih gitu masa! Ngapain sih buru-buru? Mau kemana emang? Siapa tadi yang nelpon?" tanya Dina beruntun.
"Nyokap gue, dia bilang ada tamu dari bokap dan bokap suruh gue pulang sekarang. "
"Udah nggak usah dateng sih, biasa juga lo nggak dengerin kata nyokap lo kan?" celetuk Putri memutar bola matanya.
"Eh gila, nggak! Udah insaf gue, terakhir kali waktu lo masih di Pelita Bangsa terus kita bolos sama-sama pergi ke Gancit gara-gara ada gala premier. Terus nyokap gue tau habis itu gara-gara itu gue harus ke sekolah pake angkot yang sesek gitu selama 3 bulan! Najiis tralala trilili sih, nggak lagi gue! " Ivanna bergidik ngeri ketika kembali mengingat kejadian sekitar 2 tahun yang lalu.
"Lah masih sampai sekarang?" tanya Putri agak terkejut.
"Waah nggak tau dia! Kasih tau Din, Mel, Ra! Sorry nih duluan yaa, daah." Ivanna menghampiri temannya satu persatu dan kemudian cipika-cipiki.
Ivanna berjalan agak tergesa-gesa keluar dari rumah Putri dan segera masuk ke mobil BMW Sportnya.
Mobil sport milik Ivanna berhenti di garasi rumah berwarna cream dengan pagar menjulang tinggi. Ia pun memasuki rumahnya dengan langkah pelan.
"Eh neng Iva sudah pulang," kata salah seorang pembantu rumah tangganya.
Ivanna hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis menanggapinya.
"Itu neng sudah ditunggu Ibu sama Bapak di ruang tamu, " kata pembantunya lagi.
"Oh iya bi, mobil di depan tuh punya siapa? Ada temannya papa ya? Relasi bisnisnya kan?" Ivanna akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya itu.
"Aduh bibi teh kurang tau ya neng, mendingan teh neng langsung masuk aja atuh."
Ivanna hanya mengagguk kecil kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Ivanna melihat ada beberapa orang didalam rumahya.
"Eh itu Iva!" kata seorang wanita paruh baya yang pertama kali melihat kedatangan Iva.
"Sini Va,"
Ivanna pun duduk disamping wanita yang tadi memanggilnya.
"Masyaa allah makin cantik yaa Ivanna," puji seorang wanita setengah baya yang umurnya terlihat sama dengan mama Iva.
Iva hanya tersenyum tipis mendengar pujian yang dilontarkan untuknya.
"Ivanna, ini tante Dian. Ingat tidak?" tanya Risa kepada Iva. Ivanna hanya menggeleng kecil menjawab pertanyaan mamanya.
"Yaa lupa lah dia Sa. Itu sudah lama sekali." wanita bernama Dian itu kembali berbicara.
"Ah yasudah lah."
"Nah yang itu anaknya, namanya Hersa," kata Risa sambil mengalihkan pandangannya kearah seorang laki-laki muda sedari tadi hanya diam menunduk.
Ivanna mengalih ke orang yang ditunjukkan mamanya itu.
"Ivanna, mama sama papa setuju ingin menikahkan kamu dengan Hersa setelah kamu lulus sekolah!"
"Uhuk...uhuk...." Ivanna yang tengah meminum lantas tersedak. Ia menatap ke arah papanya yang berbicara tadi.
"Nikah? Kenapa Ivanna? Iva selesai sekolah aja belum! Pokoknya Iva nggak mau!" Iva langsung bangkit berdiri dari duduknya dan naik ke lantai dua masuk kekamarnya dengan gebrakan pintu yang terdengar kuat membuat orang yang mendengarnya beristigfar.
"Maaf ya Yan, Dho," ucap Ayah Iva dengan perasaan tak enak.
"Iya nggak apa-apa Wan," jawab laki-laki yang umurnya juga sama dengan Ayah Ivanna.
"Ya sudah kalau gitu kami permisi dulu ya Wan, Sa." Kemudian mereka pun bangkit dari duduknya untuk berpamitan pulang.
"Risa!" panggil Awan kepada istrinya itu saat melihat ia hendak pergi menuju kamar Ivanna.
"Biar mas saja yang bicara dengan dia."
"Jangan dimarahin ya mas, kasihan Iva."
"Iyaa tenang saja."
Awan, kemudian berjalan menuju kamar anak bungsunya itu dan mengetok pintu berwarna coklat mudanya.
"Iva, Papa mau bicara! Buka pintunya nak."
"Nggak! Papa sama Mama jahat! Nggak pernah mikirin perasaan Iva! Kalian egois!" ucap Iva dari dalam kamarnya.
"Bukan begitu nak, buka dulu pintunya nanti Papa jelaskan ya," bujuk Awan.
Ivanna tak menjawab lagi, hanya terdengar isakan kecil didalam itu.
"Iva sayang?"
Masih tak ada jawaban dari dalam kamarnya. Awan hanya menghembuskan napas pelan dan memijit pangkal hidungnya.
"Gimana, Mas?" Risa menghampiri suaminya itu dengan pandangan bertanya. Awan hanya tersenyum lembut menatap Istrinya itu.
"Nggak apa, biarkan Iva sendiri dulu." Setelah berkata demikian, Awan pergi meninggalkan kamar putrinya itu diikuti Istrinya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah mobil berwarna hitam juga membicarakan hal yang serupa dengan yang dibicarakan keluarga Ivanna.
"Kenapa Ummi sama Abi mau jodohin Hersa dengan Ivanna?" tanya Hersa bermaksud ingin mengetahui apa yang dipikirkan kedua orang tuanya.
"Kami sudah berteman lama, Ummi sangat mengenal keluarga Risa, mamanya Ivanna itu. Dia sahabat Ummi waktu Ummi kuliah di Mesir dulu. Ummi hanya percaya saja, selain itu Ummi ingin ada ikatan diantara Ummi dan Risa. Kami benar-benar dekat dulu bahkan sampai sekarang," jelas Umminya mengingat kenangan dulu.
"Tapi Hersa pikir Ummi mau jodohin Hersa sama perempuan yang berkerudung atau lulusan ponpes gitu."
"Ivanna memang tidak berkerudung bukan juga lulusan ponpes atau sebagainya tapi bukan berarti tidak baik kan? Lagian setelah menikah kamu kan bisa membimbing dia menjadi yang lebih baik?"
"Insyaa Allah, Mi. Tapi apa tante Risa nggak mengajarkan anaknya menutup aurat?"
"Bukan tidak mengajarkan, hanya saya karakter orang kan beda-beda. Contohnya Sofia Inessta kakaknya, dia berkerudung kok. Ivanna ya gitu, tapi sebenarnya dia anak yang baik."
"Ummi tau dari?"
"Nebak saja. Tidak mungkin kan dia sangat buruk? Ibunya saja baik. Pokoknya Ummi percaya sama Ivanna."
"Berdebatnya nanti saja. Sekarang kita mau langsung pulang atau mau kemana dulu nih?" lerai Abinya Hersa yang dari tadi hanya memperhatikan perdebatan kecil antara Istri dan anaknya.
"Kan Ummi jadi lupa! Kamu sih!"
"Kita ke supermarket dulu Mas, mau belanja keperluan dapur. Sudah habis."
Mobil hitam itupun pergi menuju supermarket terdekat.
Getaran hp membuat Hersa mengalihkan perhatiannya ke smartphone yang dia genggam. Tertera sebuah nama dilayarnya yang menyala.
'Ameera'
Hersa hanya terseyum menatap nama dilayar hpnya.
***
Maafkeun jika tidak mendapat feel teman-teman 😅😢 Idea ku sedang naik turun. Kadang bingung mau ngelanjutinnya. Maaf yang merasa digantung, aku tau kok perasaan digantung tuh gimana 😂😂😂 tapi itu kalau ada yaa ..
Cocok ga sih karakternya?ada yang mau kasih saran? Huft aku sangat bingung.
Special thanks buat yang udah baca dan vote dicerita gajeku inii wkwk..
Oh iyaa mungkin aku akan lama update soalnya akan ada UUB nanti 😅
Ok seeyouu..sekali lagi makasiih yang udah baca dan vote 😍😙
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakuh..
Salam manis,
Secretwrite12
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT HUSBAND (Revisi)
SpiritualCinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
