Tidak berbeda jauh dengan suasana rumah Ivanna, begitulah kesibukan yang juga dirasakan keluarga Hersa.
"Hersa! Baju kamu sudah dicek kan?" Kata Dian saat Hersa berjalan melewatinya.
Hersa membalikkan tubuhnya. "Sudah semua Umii." Jawab Hersa dengan senyumnya yang selalu membuat semua orang yang melihatnya juga ingin tersenyum.
"Alhamdulillah. Oh iya, hantaran untuk Ivanna sudah siap?"
"Itu Ira yang pilih mi. Dia sama Iva kan sama-sama perempuan beranjak dewasa ya jadi mungkin seleranya sama."
"Ya sudah nanti umi yang nanya sama dia. Kamu mau kemana?"
"Masjid, udah mau masuk waktu dzuhur."
"Abi kamu ikut juga?"
"Iya. Sudah menunggu di depan. Hersa berangkat dulu Umi. Assalamu'alaikum." Pamit Hersa kemudian mencium tangan Dian.
Dian kemudian melanjutkan aktivitasnya. Ini adalah pengalaman pertama ia akan menikahkan anaknya. Rasa senang dan tidak sabar pun selalu dirasakan Dian.
"Semoga semuanya berjalan lancar. Aamiin." Gumam Dian dan mengusapkan telapak tangannya ke wajah.
Hersa dan Ridho jalan bersampingan dibawah pohon-pohon yang rindang di pinggir jalan kompleks perumahan.
Mereka berdua sama-sama diam tak bersuara. Hanya suara daun dan ranting jatuh yang menemani.
"Hersa?" Panggil seseorang membuat Hersa dan Ridho sama-sama mencari sumber suara itu berasal.
"Oh Hanna. Sedang apa disini?" Basa-basi Hersa yang otomatis membuat langkahnya yang ingin pergi ke Masjid terhenti begitu juga dengan Ridho.
"Lagi mampir ke rumah saudara disekitar sini. Itu.."
"Oh ini Ayah saya." Jawab Hersa yang mengerti kemana arah pembicaraan Hanna.
"Om." Sapa Hanna dengan senyum terbaiknya. Ridho hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil saja.
"Kamu mau kemana?" Tanya Hanna beralih menatap kembali ke arah Hersa.
"Masjid, sudah mau masuk waktu dzuhur. Kalau begitu kami duluan ya. Assalamu'alaikum."
"Oh iya. Hati-hati. Wa'alaikumussalam." Jawab Hanna.
Hersa dan Ridho melanjutkan langkahnya meninggalkan Hanna yang masih berdiru ditempat.
Tanpa sadar, gadis cantik itu tersenyum dengan wajah yang mulai memerah. Ia memegang dadanya bermaksud memeriksa detak jantungnya yang berdetak tak karuan hanya karena melihat wajah Hersa, rekan kerjanya.
Tak lama Hanna juga kembali berjalan meninggalkan tempat ia bertemu Hersa dan ayahnya itu dengan wajah yang masih berseri-seri.
Matahari terus bergulir hingga tepat di atas kepala dengan bayangan tepat berada dibawah objek masing-masing benda.
Hersa dan Ridho sudah sampai di Masjid beberapa menit yang lalu. Mereka sedang duduk menunggu waktu shalat Dzuhur di shaf paling depan.
Sebelumnya mereka sudah mengambil wudhu dan melaksanakan empat raka'at sholat sunnah Qobliyah, setelahnya mereka hanya duduk sambil beristigfar menunggu waktu Dzuhur berjama'ah dilaksanakan.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.”
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT HUSBAND (Revisi)
SpiritualCinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
