Perempuan cantik itu lagi-lagi berdiri di balkon kamarnya melihat pemandangan kota Freiburg yang kala itu langitnya dihiasi bintang-bintang.
"Sepertinya kamu sangat menyukai balkon ini ya?" Ucap seorang laki-aki yang tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.
Perempuan itu terkekeh kecil dan mengangkat bahunya. "Maybe. Are you jealous?"
"Of course baby. Apakah pemandangan itu lebih menarik dari pada aku?" Laki-laki itu terlihat kesal. Dia melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh mungil istrinya itu.
"Mas lucu ih! Gitu aja cemburu sih." Perempuan itu tertawa pelan seraya mengulurkan tangannya menyentuh wajah tampan laki-laki itu.
Laki-laki itu hanya terdiam menatap perempuannya yang sedang tertawa. Dia menangkap tangan wanita itu yang masih menyentuh wajahnya.
Bibirnya mencium punggung tangan itu dengan lembut yang kontan membuat pipi wanita itu bersemu.
"Wanginya manis, seperti orangnya." Ujarnya mengedipkan sebelah mata.
Tangan laki-laki itu terulur mengusap rambut panjang istrinya dan menyelipkan beberapa helai di telinga wanita itu.
Selang beberapa detik, laki-laki itu menarik pinggang perempuannya untuk lebih dekat. Jaraknya sekitar sejengkal saja.
"Mas!" Pekik wanita sedikit terkejut.
"Kalau Iva jatuh gimana?" Tanya Ivanna kesal.
Laki-laki itu hanya terkekeh pelan mendengar omelan wanitanya.
"Kan nggak jatuh, sayang." Jawabnya.
"Ini ngapain sih peluk-peluk? Nanti ada yang lihat mas, lepasin ih." Ivanna mulai berontak dalam dekapan Hersa.
"Nggak ada yang lihat, Iva."
"Iss!" Sekeras apapun usaha Ivanna untuk melepaskan pelukan Hersa pada pinggangnya sepertinya percuma saja.
Ivanna kemudian hanya pasrah saja membiarkan suaminya itu berbuat sesuka hati.
Saat mendongakan kepalanya. Mata keduanya bersitatap. Keduanya saling menyelami mata pasangannya masing-masing.
Semilir angin yang dingin membuat Hersa menarik Ivanna lebih dekat lagi hingga jarak diantaranya terhapus.
Entah mendapat dorongan dari mana, Ivanna mengalungkan kedua tangannya pada leher Hersa.
Hersa mendekatkan wajahnya pada Ivanna yang terlihat menahan napas dengan wajah yang sedikit memerah.
Kedua mata Ivanna spontan tertutup rapat saat melihat Hersa semakin mempersempit jarak wajahnya.
Semakin dekat... semakin dekat..
Ivanna mulai bisa merasakan napas hangat Hersa di wajahnya.
Semakin dekat.. semakin dekat..
Dan..
Tok..tok...tok..!
Suara pintu kamar yang di ketuk membuat Ivanna menoleh ke arah pintu.
Ivanna merasakan pipinya memanas saat bibir Hersa malah mencium pipinya.
"Kak Ivaa! Eral kayaknya haus nih." Ucap Ira yang masih mengetuk pintu diiringi suara tangisan bayi.
Ivanna mendorong pelan tubuh Hersa agar menjauh. Menciptakan kembali jarak antara tubuh mereka.
"Gangguin aja!" Gumam Hersa yang masih dapat Ivanna dengar.
Ivanna hanya tersenyum geli dan berjalan mendekati pintu.
"Muka kakak kenapa? Kok merah? Perasaan anginnya dingin deh." Ira menatap Heran kakak iparnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT HUSBAND (Revisi)
SpiritualCinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
