Cinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya.
Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
-Wanita itu sebenarnya makhluk yang sederhana, kamu hanya perlu memahami mereka agar kalian dapat selalu bersama.-
________
Ivanna berulang kali melirik Hersa yang ada di sampingnya. Jika hanya sebatas mimpi, Ivanna memilih untuk tidur sepanjang hari ini.
"Kenapa sih Ivanna sayang?" Hersa yang menyadari tingkah aneh istrinya itu akhirnya menatap Ivanna dengan menaikan alisnya.
Ivanna dengan cepat menolehkan kepalanya kearah lain sambil menggeleng-geleng. "Nggak apa-apa." Jawab Ivanna.
"Ayo itu sudah siap semua di depan. Upacaranya sudah siap." Kata seseorang memberitahu Hersa dan Ivanna.
"Yuk." Kata Hersa berdiri dan melirik lengannya.
Ivanna yang cepat tanggap mengerti arti lirikan mata Hersa. Ivanna pun menautkan lengannya ke lengan Hersa. Jantungnya berdegup dengan cepat lagi.
Alunan musik terdengar dari luar, mengiringi langkah demi langkah sepasang pengantin itu.
Semua mata terpaku pada dua insan itu dengan tatapan kagum. Keduanya terlihat sangat serasi.
Terlihat para tentara berseragam putih lengkap dengan atribut itu berbaris didepan sana.
Hersa tersenyum saat dia merasakan tangan Ivanna yang gemetaran.
"Bismillah." Bisik Hersa pelan yang hanya didengan Ivanna.
Upacara pedang pura berlangsung khidmat. Ivanna juga sudah tidak setegang tadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ivanna menghela napas berat. Rasanya ia sudah sangat lelah berdiri. Kakinya seperti mati rasa dan bibirnya pun kaku karena terlalu lama menahan senyum menyambut tamu yang bersalaman diatas pelaminan.
"Capek ya?" Tanya Hersa berbisik ke telingan Ivanna.
Ivanna hanya mengangguk seraya berulang kali mengatur napasnya.
"Sabar yaa. Sebentar lagi selesai." Kata Hersa lagi dengan tangannya mengusap-usap punggung Ivanna, bisa dibilang mengusap punggung Ivanna sudah menjadi kebiasaan Hersa.
Acara pun selesai pada pukul tiga sore lewat lima belas menit.
Sekarang hanya ada kerabat serta beberapa orang yang berkemas membersihkan sisa sisa makanan.
Ivanna langsung mendudukan dirinya di sofa pelaminan. Hersa pun juga ikut duduk disampingnya.
"Adek mau minum?" Tanya Hersa seraya mengusap pelipis Ivanna yang berkeringat dengan tisu.
Ivanna yang tadinya memejamkan mata langsung membukanya kembali. Ivanna kemudian menegakkan posisi duduknya dan menatap Hersa.
"Kok kakak yang nawarin Iva sih. Harusnya Iva yang bilang gitu. Kakak mau minum?" Tanya Ivanna.