She is Cute.

30K 1.1K 28
                                        

-Hati wanita itu sebenarnya rapuh seperti kayu yang kering, salah sedikit saja kamu menyentuhnya dia akan sangat mudah patah-

________

Pintu kamar telah terbuka, tapi bukan Ivanna yang membukanya.
Itu mbak Siska, sang perias yang ternyata baru menyelesaikan riasan ulang Ivanna.

"Eh si Aa ganteng, pasti teh mau ketemu si eneng kan? Sok atuh, neng Ivannanya teh sudah cantik." Kata mbak Siska dengan logat Sundanya.

Hersa mengangguk tapi tidak menatap lawan bicaranya.

"Terima kasih mbak."

"Sami-sami atuh. Kalau gitu saya teh permisi dulu nya A." Siska menyingkir dari pintu kamar Ivanna dan melenggang pergi.

Tinggallah Hersa yang masih terpaku berdiri di depan pintu kamar berwarna coklat itu.

Hersa pun perlahan masuk ke dalam kamar Ivanna yang pintunya masih terbuka sedikit itu.

"Assalamu'alaikum warahmatullah." Ucap Hersa saat dirinya sudah sepenuhnya berada di dalam kamar Ivanna.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawab Ivanna dengan suara sangat pelan seperti sebuah bisikan tetapi masih bisa terdengar oleh Hersa.

Hersa menutup pintu kamar Ivanna dengan pelan dan menguncinya, hampir tidak menimbulkan bunyi.

Hersa berjalan mendekati Ivanna yang duduk di sisi tempat tidur dengan wajah yang menunduk.

Ivanna yang merasakan pergerakan di sampingnya langsung mengetahui bahwa Hersa sekarang sudah duduk tepat di sampingnya. Ivanna semakin menundukkan kepalanya dan memainkan jari jemarinya diatas pangkuan.

Ruangan yang ber AC itu terasa panas dan sesak sekarang. Sunyi dan sepi, hanya terdengar helaan napas dari dua insan berbeda jenis itu saja.

"Ivanna." Panggil Hersa pelan.

"Hmm." Gumam Ivanna.

"Lihat saya!" Perintah Hersa tegas namun lembut.

Ivanna tetap tidak bergerak, ia tetap menundukan kepalanya.

Melihat Ivanna yang sepertinya tidak akan menuruti ucapan Hersa, membuat Hersa terpaksa yang lebih aktif kali ini.

Tangan Hersa terulur menyentuh dagu Ivanna. Hersa mengangkat dagu itu perlahan dan menolehkannya sampai sejajar dengan wajahnya.

Mata Ivanna dan Hersa beberapa detik bertemu pandang sampai akhirnya Ivanna memutuskannya terlebih dahulu.

Hersa mengusap pipi halus Ivanna dengan lembut. Menatap wajah yang bagaikan mawar itu sepuasnya.

Usapan Hersa terhenti di bibir mungil Ivanna yang berwarna merah karena lipstik itu.

Hersa mendekatkan dirinya kearah Ivanna, ia mengecup kening Ivanna dengan penuh perasaan seakan Ivanna adalah sebuah kaca yang sangat rapuh.

Ivanna memejamkan matanya saat dirasakan bibir lembut nan hangat Hersa mengecup keningnya. Ia merasakan debaran jantungnya semakin menjadi.

Ivanna memang pernah pacaran, tapi tidak sampai cium-ciuman, hanya sekedar berpegangan tangan dan sudah itu saja. Bukan seperti cerita-cerita kebanyakan atau film-film di televisi. Sorry bisa dikatakan Ivanna tak segampangan itu. Mantannya juga tidak banyak.

Hersa menyudahi ciuman itu dengan senyuman yang manis walaupun ia tau Ivanna tak melihatnya karena mata gadis itu yang masih terpejam.

"Ivanna mau ganti baju duluan atau saya duluan?" Tanya Hersa meminimalisir kecanggungan diantara dirinya dan Ivanna.

MY PERFECT HUSBAND (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang