Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun juga berganti tahun.
Ini sudah memasuki tahun ke tiga Ivanna tinggal di negara beruang putih itu. Selama tiga tahun pula ia tak pernah pulang ke Indonesia tanah kelahirannya bahkan ia tak mengizinkan Risa dan Awan menjenguknya ke Rusia.
Ivanna bukan tidak merindukan kedua orang tuanya itu. Tapi ia merasa tidak ingin saja, ia masih bisa menahan rindu itu sendiri.
Semua musim sudah ia rasakan disana. Suka dan duka menjadi pelajar asing di negara orang dan sebagainya.
Ivanna menoleh kearah ponselnya yang tiba-tiba menyala itu.
Tertera nama seseorang disana.
Ivanna terseyum menatap layar ponselnya itu, segera ia menggeser tombol hijau dan mendekatkannya ketelinga.
"Assalamu'alaikum warahmatullah." Suara indah yang membuat setiap orang tersenyum jika mendengarnya mengalun lembut diseberang sana.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawab Ivanna juga.
"Ivaaa, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Kirain kamu lupa sama aku." Sindir Ivanna tapi tetap dengan senyumnya walaupun ia tahu orang diseberang sana tak melihatnya.
"Hahaha iyaa maaf ana jarang nelpon soalnya lagi sibuk nih."
"Iyaa tau deh calon doktor."
"Oh iya Ivanna. Ana mau undang anti datang ke walimah ana."
"Ih kok nggak bilang sih mau nikah? Kapan acaranya? Sama orang mana?"
"Nanti ana ceritain. Anti datang sebelum acara yaa. Bermalam dirumah ana saja."
"Ke Suriah gitu?"
"Nggak dong. Ana sama Ibu ana kan tinggak di Mesir. Acara walimahnya di Mesir Iva."
"Oh kirain di tempat kelahiranmu. Jadi kapan acaranya? Biar aku bisa siap-siap juga."
"Acaranya tanggal 16 nanti Va. Kalau bisa ajak ibu bapak anti juga."
"Dua minggu lagi dong?"
"Iyaa sekitar segitu. Undangannya satu minggu sebelum acara baru disebar tapi karena anti teman dekat ana jadi ana beritahu sekarang. Bisa kan datang?"
"Insyaa Allah ya Ra. Nanti aku tanya orang tuaku juga."
"Sip. Alhamdulillah. Yaudah va telponnya ana tutup ya?"
"Okay."
"Wassalamu'alaikum warahmatullah."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Dan telpon pun tertutup. Ivanna meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
Zahra dan Ivanna dua tahun yang lalu memang pernah tinggal bersama, tepatnya saat Zahra yang saat itu sedang melalukan risetnya tentang Islam di negara beruang putih itu selama kurang lebih tujuh bulan.
Tapi setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali lagi ke Mesir. Tanpa melupakan kenangannya selama di kota Moskow itu.
Pertemanan mereka berjalan hingga saat ini, walaupun tidak merubah banyak dari diri Ivanna tapi setidaknya ia sudah memperkenalkan Islam kepada perempuan itu, sisanya biar Ivanna saja yang memutuskan sebab perubahan tidak datang dari orang lain melainkan dari dalam diri sendiri.
Jika tidak ada kemauan dalam diri sendiri, maka semua itu tidak akan terjadi.
Allah SWT berfirman:
......ِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ .......
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT HUSBAND (Revisi)
EspiritualCinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
