Budayakan vote sebelum baca yaa!
Jangan lupa baca Author Notes di bawah.. ada pengumuman sedikit ya;)
Oke happy reading bonchapnya 💝🔥♥
..................
Kamar bernuansa biru mint itu terlihat sangat berantakan dengan alas tilam yang sudah jatuh ke lantai.
Jendelanya tertutup rapat, lampu yang di padamkan dan suara air kran yang mengalir dari kamar mandi menjadi backsound.
Ivanna terduduk di pinggir ranjang dengan rambut yang kusut. Wanita itu menolak untuk ikut ke rumah sakit melihat hasil otopsi korban kecelakaan yang melibatkan Hersa.
Dia memilih tinggal di rumahnya dengan segudang penyesalan.
Air matanya sampai terasa kering karena menangis sepanjang hari.
Tatapan matanya kosong. Ivanna masuk ke kamar mandinya dan berdiri di depan wastafel. Dia membasuh mukanya beberapa kali. Bibirnya menyunggingkan senyum. Senyum getir yang terlihat menyedihkan.
Ivanna mengambil obat antidepresi yang terletak di atas laci wastafel. Menatapnya dengan kosong dan mulai membuka tutup botol obat antidepresan itu.
Air matanya kembali mengalir. Dengan tangan gemetaran, Ivanna mengeluarkan banyak sekali pil antidepresi itu dan meminumnya sekaligus.
Napasnya terasa semakin berat dengan pandangan yang mulai kabur. Samar-samar Ivanna mendengar suara pekikan yang sangat nyaring sebelum semuanya benar-benar gelap.
Mata hazel itu mulai mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke retina matanya.
"Ivanna sayaang, Yaa Allah." Perkataan Risa membuat semua orang yang ada di ruang rawat itu menghampiri tubuh ringkih Ivanna yang terbaring lemah dengan selang infus dan masker oksigen.
"Nak, masih ada yang sakit?" Tanya Dian lembut. Tangannya mengusap pelan lengan Ivanna yang terasa dingin.
Ivanna diam tidak menjawab. Tatapan matanya kosong seperti panah yang melesat tanpa arah.
Badan Ivanna menegang saat netranya bersitatap dengan mata berwarna abu-abu milik seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh.
"Hanna mau ketemu kamu." Seperti mengerti kemana arah tatapan menantunya, Dian menjelaskan dengan lembut.
Hanna berjalan pelan mendekati ranjang yang Ivanna tempati.
"Hai," sapa perempuan cantik yang terlihat pucat itu.
Ivanna terdiam. Matanya enggan menatap Hanna.
Hanna tersenyum tipis melihat Ivanna yang sepertinya berprasangka lain kepadanya akibat dari apa yang di lakukan ibu dan temannya beberapa minggu terakhir ini. Dia bahkan tidak tau ibunya akan bertindak senekat itu untuk dirinya. Sedikitpun tidak terbesit di hati Hanna untuk merebut Hersa dari Ivanna. Bagaimana mungkin dia tega melakukannya pada seorang yang sama-sama wanita.
Hanna sakit, itu benar tapi tidak sekalipun ingin dijadikannya alasan untuk menghancurkan rumah tangga orang lain. Apalagi orang yang begitu ia cintai.
Hatinya biarlah hanya dia seorang yang tau bagaimana sakitnya ketika melihat orang yang disukai bersanding dengan orang lain, bersamaan rasa bahagia bisa melihat orang yang kita cintai tersenyum dan tertawa ceria meskipun kita bukan alasannya tersenyum dan tertawa.
Cinta yang sejatinya adalah merelakan melihat orang yang kita cintai bersama dengan pilihannya yang dia cintai.
"Ivanna, saya mau minta maaf untuk apa yang ibu dan Faris katakan. Saya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang yang mereka lakukan. Dan juga saya turut berduka cita atas---"
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT HUSBAND (Revisi)
SpiritualCinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
