She so Different

24.8K 974 36
                                        

"Mas mau makan apa?" Ivanna menatap Hersa dari cermin di depannya.
Sudah tiga hari yang lalu Hersa sampai di rumah.

"Apa aja yang kamu masak, pasti mas makan honey," goda Hersa seraya mengedipkan sebelah matanya.

Ivanna meringis geli, "serius mas, panggilannya lebay banget, geli Iva dengernya."

Hersa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi muka Ivanna yang terlihat lucu. Sebenarnya dia juga geli mendengarnya, tapi menggoda Ivanna sepertinya sudah menjadi kebiasaan sekarang.

"Very cuties," ucap Hersa seraya mencubit gemas pipi Ivanna.

Ivanna melepaskan cubitan Hersa dan mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah. "Sakit mas!" Katanya dengan lirih.

Ivanna berjalan meninggalkan Hersa.

"Dek!" Interupsi Hersa membuat Ivanna membalikkan badannya.

"Sekalian buatin--"

"Chamomile tea?" Tebak Ivanna yang mendapatkan anggukan langsung.

"Okay! Wait few minutes," Ivanna meneruskan langkahnya lagi menuju dapur.

***
Ivanna menuangkan air panas ke dalam gelas beling itu dengan perlahan.

Keningnya mengernyit bingung saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Ivanna segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari kecil menghampiri pintu.

"Maaf cari siapa ya?" Ivanna menatap heran seorang perempuan yang terlihat pucat berdiri di depan pintu.

"Ivanna Scharletta nya ada?"

Ivanna semakin bingung ketika orang itu menanyai dirinya. Sepertinya dia tidak mengenal orang ini. "Emm Saya sendiri. Apa kita pernah bertemu?"

Perempuan cantik itu mengulurkan tangan dengan senyuman manis di bibir pucatnya.

"Hanna." Ucapnya memperkenalkan diri.

Ivanna menyambut uluran tangan itu dengan perasaan bertanya.

"Mbak Hanna siapa ya?" Ivanna bertanya lagi. Jujur saja ia sama sekali tak mengenali perempuan di depannya itu.

"Temannya Hersa."

"Oh temannya mas Hersa. Emm jadi ke sini nyari mas Hersa?" Entah mengapa ada rasa tak suka hinggap di hati Ivanna.

"Oh bukan, nyari kamu. Kebetulan saya sama Hersa teman dekat. Waktu Hersa nikah, saya nggak sempat hadir jadi karena tadi sekalian lewat rumah Hersa mau mampir sebentar buat kenalan sama kamu." Jelas Hanna masih dengan senyumnya.

"Oh gitu. Yuk masuk kalau gitu, nanti sekalian saya panggilin mas Hersanya." Ivanna membuka lebar pintu rumahnya mempersilakan Hanna untuk masuk.

"Maaf banget saya buru-buru nih, kapan-kapan saya bisa ngobrol sama kamu?" Tanyanya dengan penuh harap dan perasaan tidak enak.

"Kapan?"

"Nanti kita diskusikan."

"Oke InsyaaAllah."

"Boleh minta nomer kamu?"

Ivanna berpikir sejenak, kemudian mulai menyebutkan dua belas digit angka yang langsung di ketik oleh Hanna di ponselnya.

"Terima kasih, kalau gitu saya duluan. Oh iya jangan bilang Hersa ya!?"

Ivanna mengernyit bingung mendengar permintaan Hanna yang menurutnya aneh. "Kenapa emangnya?"

"Soalnya Hersa tuh suka marah kalau saya ke rumahnya tanpa ngasih kabar, apa lagi kalau belum ketemu sama dianya." Hanna menjawab dan diakhiri dengan senyum tipisnya.

MY PERFECT HUSBAND (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang