Akhir dari Awal

37.2K 1.3K 87
                                        

WARNING!!

Budayakan vote sebelum baca yaa 😉

PLEASE BACA AUTHOR NOTES!✔

Tulis di sinii jam berapa kamu baca ending MPH??

Dari semuaaa part(1-49), ada ga nih quotes kesukaan kalian? Yuuuk tulis di komeen sayang 😉😉

Btw ada yang mau tau IGku ga sih?😂😂

Oke terakhir..

Happy reading the end chapter😥


^^^

Setelah kabar Ivanna telah siuman, para kerabat, saudara serta teman-teman dari Ivanna datang menjenguk perempuan cantik itu.

Ivanna bersyukur ternyata banyak sekali orang yang peduli dan sayang kepadanya. Ivanna juga mengucap syukur nyawanya masih bisa di selamatkan, jika tidak mungkin sekarang dia benar-benar kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, untuk menjadi istri yang shalehah dan ibu yang baik untuk anak yang sedang di kandungnya.

Ivanna kadang menyesali perbuatannya yang memang tidak dipikirkan terlebih dahulu. Susah memang mengubah sikap yang sudah mendarah daging dalam hidup kita.

"Ivanna, kita pamit dulu yaa! Istirahat yang cukup, jangan bertindak tong kosong nyaring bunyinya lagi yaa!" Ucap Audina yang mendapat tatapan sinis dari yang lainnya.

"Bercanda yaelah, pada baper semua. Daah!" Audina yang terus ditatap akhirnya memilih keluar terlebih dahulu.

"Syafakillah Ivanna, ana pamit dulu yaa! Jam besuknya sudah habis. Padahal rasanya baru beberapa menit yang lalu deh di sini." Kali ini Zahra berucap mewakili semuanya.

Ivanna tersenyum tipis dan mengangguk.

"Makasih semuanya, hati-hati baliknya ya." Kata Ivanna dengan suara pelan.

"Okee sipp! Daah, Va!"

Ruangan kembali sepi, hanya ada Ivanna dan Hersa yang saling berdiaman.

"Mas udah makan nasi?" Tanya Ivanna yang bosan dengan suasana awkward.

Hersa menggeleng disusul dengan jawaban, "Belum."

"Aduh, dek sakit!" Hersa meringis pelan saat Ivanna mencubit pinggangnya.

"Lagian sih nggak makan. Makan dulu sana mas!" Ivanna menatap garang suaminya itu yang malah terkekeh geli.

Senangnya melihat Ivanna kembali seperti dulu.

"Kan abang jagain adek tersayang." Jawab laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya.

Kontan pipi Ivanna memerah karena malu.

"Apaan sih mas, nggak lucu deh." Ujarnya mengalihkan wajahnya ke arah lain.

"Kan abang lagi nggak ngelucu sayang,"

"Apaa sih abang, abang! Abang tukang baso emang?"

"Ivanna nggak bisa di romantisin nih." Kata Hersa yang pura-pura merajuk.

"Ya udah nanti lagi deh romantis romantisnya. Sekarang mas makan dulu sana di kantin. Kalau Ivanna bisa jalan sih udah Ivanna beliin." Ivanna mendorong-dorong tubuh atletis Hersa yang tidak berpengaruh apapun.

"Tak nak!" Jawab Hersa yang tetap duduk.

"Subhanallah, mas! Nanti mas sakit." Ivanna tetap memaksa suaminya itu untuk segera mencari makan.

MY PERFECT HUSBAND (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang