Extra Chapter 2

42.2K 1.1K 74
                                        

"Ummi," suara serak nan imut itu membuat kami semua menoleh ke sumber suara dan menginterupsi kalimat yang akan diteruskan Mas Hersa.

"Eh Sayang Ummi sudah bangun," aku langsung menghampiri gadis kecilku itu dan membawanya ke dalam gendonganku.

"Arin mau sarapan?" tanyaku pada putri bungsuku itu.

Kulihat Arin menggeleng pelan, tangannya terulur ke arah Mas Hersa sepertinya ingin minta di gendong oleh sang Abi.

"Putri kecilnya Abi... Sini, Nak." Mas Hersa mengambil Arin dari gendonganku dengan hati-hati.

Arin mencari posisi nyaman menenggelamkan kepala mungilnya di leher Mas Hersa.

"Tidurnya nyenyak?" tanya Mas Hersa membuka suara. Tangannya bergerak mengusap-usap punggung kecil Arin.

"Alhamdulillah nyenyak, Abi," jawab Arin dengan mata terpejam.

"Kakak mau sekolah ya?" Arin menatap Arla dengan kepala masih menyender di pundak Mas Hersa.

"Iya, Dedek," jawab Arla seraya tersenyum dan mencubit pelan pipi chubby Arin.

"Alin masih mau lanjutkan main yang semalam," katanya dengan suara super menggemaskan.

"Nanti yaa habis Kakak pulang sekolah," ucap Arla lembut.

Aku menaikan alis bingung. "Mainan apa emang?" tanyaku pada Arla.

"Sambung-sambungan surah pendek, Mi." Aku tersenyum bangga pada Arla.

Dia memang sosok yang cerdas dan perhatian pada keluarganya. Yang di mana pada jaman sekarang anak seusia Arla mungkin akan lebih memilih bermain di luar rumah, atau berkutat pada gadgednya tapi tidak dengan putriku itu.

Dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama keluarga atau buku-bukunya.

Charlla Shevazka Pradipta, anak keduaku dengan Mas Hersa. Dia baru saja diterima masuk SMP.

"Surah ke delapan belas dalam Al-Qur'an apa?" tanya Eral tiba-tiba pada Arla.

Arla menaikan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Kakak sedang menguji Arla?"

"Nggak, nanya aja. Tapi kalau Arla nganggapnya gitu yaa nggak salah juga," ucap laki-laki remaja itu dengan menahan senyumnya.

"Surah ke delapan belas dalam Al-Qur'an, surah Al-Kahfi. Kan, Abi?" tanya Arla pada Mas Hersa yang sedari tadi memperhatikan saja denganku.

"Right, Baby," jawab Mas Hersa tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap puncak kepala Arla.

"Yuk berangkat, nanti terlambat." Mas Hersa berdiri dan mengambil tas kerjanya setelah memberikan Arin kepadaku kembali.

"Fii Amanillah, Mas," ucapku ikut berdiri dan mengantar Mas Hersa sampai ke depan pintu. Dia mengecup singkat keningku.

"Kalian berdua juga belajar yang rajin yaa," ucapku kini pada kedua anakku.

Eral dan Arla kompak menganggukkan kepala mereka dan menyalami tanganku.

Mobil yang di kendarai Mas Hersa pun mulai hilang dari pandanganku.

"Arin sarapan dulu ya, terus mandi." Aku mengusap wajah mungil Arin yang berada di dalam gendonganku.

"Na'am Ummi," jawabnya pelan.

🌼🌼🌼

Cuaca mulai mendung saat hari semakin siang.

Aku menatap air yang perlahan turun membasahi bumi.

"Sayang tunggu sebentar ya, Ummi mau angkat jemuran," ucapku pada Arin yang sedari tadi tiduran di atas pahaku.

MY PERFECT HUSBAND (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang