Ivanna tersenyum senang melihat beberapa wahana permainan di depannya. Netra hazelnya berkaca-kaca.
"Makasih mas!" Katanya seraya memeluk lengan Hersa di sampingnya.
Hersa hanya tersenyum geli melihat antusias dari Ivanna. Hersa memang sudah berencana membawa Ivanna ke Dufan. Setidaknya hari ini dia tidak melihat wajah muram istrinya.
"Ivanna mau naik bianglala!" Serunya menarik tangan Hersa. Senyuman di wajah cantiknya tak pernah pudar.
Hersa merasakan hatinya menghangat melihat kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah Ivanna.
Hari ini, esok dan selamanya Hersa bertekad untuk membuat senyuman manis di bibir Ivanna tidak akan pernah hilang lagi. Dia akan terus berusaha membuat bidadarinya itu bahagia selalu. Apapun akan Hersa lalukan demi kebahagiaan Ivannanya.
"Mas, Iva laper." Ucap Ivanna setelah mereka turun dari wahana bianglala.
"Ya udah kita cari makan dulu yuk." Hersa menggenggam tangan mungil Ivanna, dia mengaitkan jari-jarinya ke sela-sela jari-jemari tangan Ivanna.
Hersa dan Ivanna berjalan mengelilingi Dufan, mencari tempat makan yang terlihat meyakinkan untuk dimakan.
Beberapa pasang mata menatap ke arah Ivanna dan Hersa dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada iri, ada gemas, ada juga yang menatap mereka penuh kagum.
Mungkin dipikiran para pengujung itu, Ivanna dan Hersa adalah sepasang muda mudi yang sedang kencan. Karena baik Hersa maupun Ivanna, keduanya masih terlihat seperti remaja.
"Di sana ajaa!" Tunjuk Ivanna ke sebuah kedai rumah makan sederhana.
Ivanna menarik tangan Hersa dengan semangat.
Mereka duduk di kursi dekat jendela yang mengarah ke taman.
Ivanna tersenyum saat melihat anak-anak kecil di taman itu bermain dengan senang. Tertawa bahagia.
"Lucu yaa," gumam Ivanna. Netranya tidak lepas dari taman bermain itu.
Tiba-tiba wajah Ivanna muram. Perempuan itu tertunduk lesu.
"Kenapa?" Hersa menaikan alisnya bingung melihat perubahan drastis sikap Ivanna.
"Maaf mas, Ivanna belum bisa beri anak." Katanya lirih.
"Dek, mas nggak masalah soal itu, yang penting kita tetap sama-sama. Anak itu kan rezeki dari Allah, kalau Allah belum kasih berarti kita belum di beri kepercayaan untuk membesarkan seorang anak. Kita mesti usaha dan ikhtiar lagi. Allah akan kasih di saat yang tepat. Percaya aja sama takdir Allah." Ucap Hersa lembut.
Ivanna tersenyum menatap Hersa. Tangannya terulur menggenggam tangan Hersa di atas meja.
"Thanks a lot baby."
"Everything for you," jawab Hersa membalas genggaman tangan Ivanna.
🌚🌚🌚
"Kita mau ke mana lagi?" Ivanna menatap Hersa yang kini hanya tersenyum penuh arti.
"Rahasia." Jawabnya.
"Mas serius ih!"
"Kan mas udah seriusin kamu."
"Tau ah!"
"Ih gitu aja ngambek," Hersa mencubit pelan pipi kemerahan Ivanna.
"Sakit mas!" Ivanna menyingkirkan tangan Hersa dari pipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT HUSBAND (Revisi)
SpirituellesCinta itu rasa yang tidak pernah bisa diterka pada siapa dia akan berlabuh, yang datang karena terbiasa bersama atau bisa jadi karena hal yang lainnya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari sang maha Pencipta begitupun pertemuan anta...
