Ijab Qobul

29K 1.1K 13
                                        

-Cinta karena Allah adalah rasa cinta yang selalu membuatmu taat pada sang pencipta dan membuatmu merasa dekat pada syurga-

_________

"Ra, wajar nggak sih kalau aku takut hari ini?" Ivanna bertanya kepada Zahra yang duduk di sampingnya.

Saat ini mereka sedang didalam kamar berdua, yang lain sedang menyaksikan acara sakral yaitu ijab qobul yang akan Hersa ucapkan beberapa saat lagi.

"Wajar sih Va, karena dengan menikah kamu berarti akan sepenuhnya terikat pada sebuah komitmen yang benar-benar suci. Semua konsekuensi yang nantinya akan muncul harus kamu hadapi dengan dewasa."

"Tapi itu jangan terlalu dipikirin. Yang harus kamu pikirin itu gimana caranya jadi istri yang baik dan sholehah nanti. Ingat, saat wanita sudah menikah, surganya telah berpindah pada suaminya. Dia penentu surga dan nerakamu. Dan ibadah yang paling lama ada menikah." Lanjut Zahra.

Di tempat lain, tepatnya di ruang tamu yang sudah dihias itu, Hersa sedang bersiap-siap melancarkan ijab qobul.

"Bisa kita mulai?"

"Insyaa Allah" jawab Hersa.

Tidak dapat dipungkiri, Hersa merasa detak jantungnya bekerja lebih cepat sekarang.

"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Hersa Pradipta, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Ivanna Scharletta dengan mas kawin seperangkat alat sholat, cincin emas dan tiga puluh tujuh dinar bahrain dibayar tunai." Ucap Awan dengan lantang.

"Saya terima nikah dan kawinnya Ivanna Scharletta binti Hendrawan Alarikh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Hersa dengan lantang pula.

"Bagaimana para saksi?"

"Sah!" Ucap semua orang yang ada disana.

Semua orang pun mengucapkan puji syukur kepada sang maha pengasih dengan suasana yang haru biru.

"Pengantin wanitanya sudah boleh turun."

Risa pun bergegas pergi keatas, tepatnya ke kamar Ivanna.

Tok..tok..tok..

Risa mengetuk pintu kamar Ivanna kemudian memutar knop pintunya.

Ivanna dan Zahra yang sedang mengobrol pun menolehkan kepala mereka ke arah pintu di sebelah kiri.

"Ivanna, ayo turun." kata Risa kepada Ivanna yang kini telah melepas masa lajangnya.

"Dah Va." Zahra berdiri terlebih dahulu dan memegang lengan kanan Ivanna.

Zahra menahan tawa saat menyadari gementar tubuh Ivanna.

"Tenang Va. Bismillah." Tenang Zahra mengusap-usap bahu Ivanna yang dibalas senyum tipis.

Risa berjalan terlebih dahulu diikuti Ivanna dan Zahra yang menuntun Ivanna di belakangnya.

Ivanna menarik dan mengembuskan napas pelan saat kakinya sudah mulai menapaki tangga dengan iringan tatapan dari para tamu serta keluarganya yang sekarang terfokus menatapnya.

"Rasanya aku mau pingsan Ra." Bisik Ivanna pelan, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

"Anggap aja kamu lagi jadi artis hari ini."

Ivanna hanya bergumam tak jelas. Kepalanya makin ia tundukkan, bahkan sekedar melihat ke samping saja Ivanna tidak berani. Baru pernah rasanya Ivanna merasakan yang seperti ini.

Akhirnya langkah Ivanna sampai pada anak tangga yang paling akhir. Ia sudah berada di bawah saat ini.

Ivanna dapat merasakan tatapan penuh kagum diarahkan kepadanya, tapi ntah mengapa ia malah merasakan semakin gugup. Padahal biasanya tidak seperti ini.

MY PERFECT HUSBAND (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang