Aku sudah lengkap dengan pakaian senyamannya dan sepatu beserta satu buah koper kecil disisiku dan satu lagi disisi Marvel. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa was-was ku saat ini. Penerbangan yang seharusnya dilakukan pukul 1 dini hari ini mengalami delay hingga waktu yang belum ditentukan karena cuaca buruk.
"Oh!!" teriakku frustasi lalu membanting bokongku ke tempat laintai. Biarlah orang-orang mengiraku orang gila. Aku tidak pernah se frustasi ini sebelumnya.
"Hey! jangan perlakukan dirimu seperti ini Julia, percaya padaku semuanya akan baik-baik saja. Kita akan tiba sebelum mereka mengikat janji" Marvel sedari tadi memang berusaha untuk menenangkanku. Kami hanya berdua disini tanpa mom Evelyn. Aku dan Marvel sepakat untuk tidak mengijinkannya ikut.
Badanku mengikuti kedua tangan Marvel yang menuntunku untuk duduk di kursi tunggu. Aku bisa mellihat dari ekor mataku kalau beberapa orang yang berlalu lalang melihatku aneh. "Tidak Marvel, kita terjebak disini dan tidak tahu kapan akan bisa sampai disana" ujarku penuh dengan kepiluan. Aku kini menangis asal kalian tahu.
Jika aku adalah Julia, aku bisa saja menggunakan jet pribadi untuk pergi ke suatu tempat. Tapi kini ada seseorang yang sedang mengaku sebagai diriku, aku tidak memiliki kekuatan apapun sekarang. Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya menangis, berdoa, dan mengikuti Marvel karena hanya dia sandaranku saat ini.
Aku mati-matian berusaha untuk berdiam diri, sabar menunggu pengumuman kalau pesawat kami sudah bisa berangkat. Tak ada satupun diantara aku dan Marvel yang berbicara, kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
"Oh c'mon, it's fucking at 6 and we still here. Are you kidding me?!" aku melampiaskan kekesalanku pada Marvel. Mavel yang juga terlihat frustasi kemudian menuju ke departemen informasi untuk mencari informasi tentang keberangkatan kami. Bahkan tidak hanya aku yang mengeluh, penumpang lainnya pun banyak yang mengeluh bahkan marah-marah.
Tapi secercah harapan mulai muncul kembali untukku. Tepat setelah Marvel pergi, terdengar sebuah pengumuman kalau pesawat yang kami tumpangi sebentar lagi sudah bisa lepas landas. Berkali-kali ku ucapkan sujud syukurku pada Tuhan. "I hope there is still a happy ending for me" ucapku kemudian segera menggiring koper di tangan kananku menuju ke bagian keberangkatan disusul oleh Marvel.
******
Selama dua jam keberangkatanku, aku menangis dalam diam. Mataku sudah sangat sembab karena terus menangis sejak tadi malam. Aku harap ini bukan akhir dari hidupku.
Saat sampai di London, Marvel langsung menggiringku menuju ke arah mobil jemputan kami. Marvel menyetirnya langsung, ya dia tiba-tiba mengaku sebagai 'mantan raja jalanan' karena katanya dia dulunya sering menjuarai balap liar.
Aku tidak peduli sama sekali, pikiranku dipenuhi dengan bayang-bayang Niall yang akan menikah dengan orang lain yang dia kira adalah diriku.
Tepat saat baru saja keluar dari bandara, entah kenapa jalanan tiba-tiba saja macet. "Oh fucking shit! Apa yang manusia-manusia ini lakukan disini? Ayolah! Aku bahkan tidak pernah mengumpat seumur hidupku!" Aku benar-benar frustasi saat ini.
"Julia, ada baiknya kau lari dari sini dan coba mencari taxi di depan sana. Aku tidak jamin kemacetan ini akan segera berakhir" aku menyetujui ucapannya dengan anggukan. "Ini! bawa tasmu dan beberapa uang. Berhati-hatilah, aku akan segera menyusul" Setelah itu aku hanya mengucapkan 'bye' alakadarnya lalu berlari sekencang yang aku bisa. Aku tidak oleh terlambat sama sekali."Aku rasa sudah sangat lama aku berlari disini hingga aku bisa melihat penyebab kemacetan hari ini. tabrakan beruntun yang terjadi menutup akses jalan keluar dari bandara.
KAMU SEDANG MEMBACA
2. FRIEND or MORE ?!
RomanceAku dapat berbohong di depan semua orang kalau aku baik-baik saja, tapi sebenarnya hatiku tidak baik-baik saja. Pria yang aku cintai telah pergi. Ini semua yang merubah hidupku. Adakah pasangan hidupku diluar sana? Atau tuhan memang menciptakanku u...
