Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Giving it up isn't the hard part; it's the living part that everyone struggles with."
×××
Ini ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Aku sudah menyumpal telinga dengan earphone dan mendengarkan Day6 keras-keras, tapi naluriku tidak bisa dibohongi. Ingatan tentang proses transformasiku jadi werevamp kembali datang. Saat itu aku sendirian, kesakitan, mempertaruhkan hidupku. Itu kenangan yang sangat buruk.
Untung saja Jeno membeli rumah yang masih cukup terpencil, jadi rumah yang sudah diredam lapisan kedap suara seadanya ini kurasa akan menyamarkan jeritan kesakitannya. Kami sudah memperhitungkan semuanya matang-matang sebelumnya.
Satu jam terasa sangat lama, aku meringkuk di sofa dengan mata terpejam. Kucoba membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tapi tetap ketakutan yang menyerangku dari segala arah. Berbagai kemungkinan tentang ritual pertama ini terus menghantuiku. Aku takut Jeno gagal.
Misalnya dia gagal, rumah sakit vampir mungkin akan mengira dia kecelakaan dengan air suci. Kalau pun nyawanya selamat, akan butuh waktu lama untuk memulihkan kulitnya. Atau mungkin dia akan jadi vampir jelek dan cacat.
Aku tidak bisa membayangkan seorang Lee Jeno jadi jelek sih.
Kalau dia berhasil, tergantung tingkat keberhasilannya. Dulu aku butuh seminggu untuk pulih sepenuhnya. Mungkin Jeno akan lebih cepat, atau lebih lama. Kita belum tahu sekuat apa dia.
Sayangnya, masa pemulihan itu juga menyakitkan. Rasanya seperti kehabisan energi, dan membutuhkan cukup banyak darah untuk bertahan hidup. Entah bagaimana nanti kalau manager dan teman-teman Jeno tidak percaya skenario yang kami buat.
Yang penting Jeno bertahan hidup dulu.
Tolonglah, Tuhan, dia harus hidup.
Aku takut sekali sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kalau sampai ada apa-apa, pasti aku yang paling direpotkan. Atau mungkin... aku mulai peduli padanya?
Tidak. Aku tidak boleh menaruh perasaan pada Lee Jeno. Kami hanya pura-pura demi tujuan masing-masing.
Aku tidak mau kejadian Jude terulang lagi. Kita tahu tujuan Jeno; jadi werevamp. Jalan pintasnya adalah minum darah keturunan werevamp. Aku takut ㅡaku tidak mau terlena pesona vampir lalu dimanfaatkan demi tujuannya.
Kira-kira apa reaksinya kalau tahu tentang jalan pintas dan adikku adalah keturunan werevamp?
Cukup, mari hentikan pemikiran itu. Bukan waktunya berprasangka buruk.
"Finally!" seruku saat jam menunjukkan tepat tengah malam.
Tenggat waktunya berakhir, saatnya melihat keadaan Jeno.
Dengan detak jantung menderu, aku mematikan TV dan semua sumber kebisingan lain. Sesegera mungkin aku berlari ke depan pintu kamar mandi. Semuanya sama seperti tidak terjadi apa-apa, tidak ada suara atau keanehan apa pun. Tanpa pikir panjang kuputar gagang pintu dan masuk ke dalam kamar mandi yang berkabut.
"Lee Jeno!"
Aku berseru melihat Jeno terkulai lemah di dalam bathub. Matanya sesekali terbuka, kabut bermunculan di sekelilingnya seakan-akan dia sedang direbus. Padahal tadi kami memakai air dingin untuk ritual ㅡitu sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"Jeno? kamu denger aku nggak?" tanyaku sambil menyangga kepalanya. Aku belum tahu pasti keadaannya ㅡtapi setidaknya kulitnya tampak tanpa cacat.
Tatapan lemahnya tertuju pada wajahku, mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sulit. Tak lama kemudian mata itu terpejam.
"Loh? Lee Jeno, bangun!" aku menepuki pipinya.
Usaha itu sia-sia. Jeno tetap pingsan dalam genangan air sisa ritual. Aku langsung bertindak cepat, mengerahkan sekuat tenaga untuk mengangkatnya keluar dari bathub. Dia harus kubawa ke tempat tidur yang layak.
"Tahan sebentar, kita ke kamar," ujarku padanya, tidak peduli dia dengar atau tidak.
Susah payah aku melingkarkan sebelah lengan Jeno ke leherku sementara tanganku berusaha menyangga beban tubuhnya yang lumayan berat. Bajuku sampai basah semua karena merangkul tubuh Jeno yang masih basah kuyup.
Setelah berjuang menyeret Jeno sampai kamar, sisa tenagaku kugunakan untuk membaringkannya di tempat tidur. Kuluruskan tubuhnya lalu aku ambruk di lantai saking lelahnya. Tenagaku habis, aku terengah-engah di sebelah tempat tidur.
"Ternyata kamu berat juga," gumamku sambil menyeka keringat di pelipis.
Aku menatapnya. Dia tidak bernafas ㅡtentu saja, dia kan vampir. Satu-satunya cara untuk memastikan keadaan Jeno adalah dengan melihat secara teliti keadaannya kulitnya sekarang.
"Oke... ini agak aneh," lagi-lagi aku bicara sendiri.
Bagaimana tidak canggungㅡ bayangkan sesosok laki-laki hanya memakai celana renang berbaring di hadapanmu? Dan aku bahkan harus menyentuhnya? Sumpah, aku malu melakukannya.
"Maaf, ini demi kebaikan," ujarku pada Jeno walaupun mungkin dia dengar.
Kuambil handuk yang sudah disiapkan di atas nakas lalu mulai menyeka tubuhnya yang basah dengan mata tertutup. Kulakukan secepat mungkin karena ini memalukan. Setelah selesai, aku menyelimuti Jeno sampai dada.
"Fiuhㅡ ini jauh lebih baik," aku menghela nafas sambil duduk di tepian tempat tidur.
Kuseka wajah Jeno dengan handuk sampai kering. Rambutnya yang basah kubiarkan dulu. Sekarang aku siap memastikan hal yang paling penting ㅡmencubitnya. Ini bahaya, kalau kulit Jeno rupanya belum sepenuhnya kebal, bisa-bisa akan robek kalau kucubit.
"Oke, tahan sebentar. Semoga kamu emang berhasil sampai di tahap ini. Maaf, kulitmu harus kucubit," ucapku pada Jeno yang diam bagaikan mayat.
Telunjuk dan ibu jariku bergerak menekan dalam arah berlawanan, membentuk gundukan kulit di pipinya. Aku memekik tertahan saat merasakan tekstur kulitnya, berharap tidak robek saat kutarik.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Kamu... berhasil," gumamku. "Kamu berhasil!"
Walaupun Jeno tidak bergerak sedikit pun saat aku menghela nafas lega dan penuh syukur, tidak apa-apa. Yang penting sudah kupastikan dia berhasil melewati ritual gila ini. Kugenggam jari-jarinya yang dingin, memberinya selamat secara tidak langsung.
"Sekarang kamu cuma butuh istirahat. Semoga kamu cepat pulih," aku sekali lagi menyeka wajah Jeno dengan handuk.
Setelah itu kubiarkan Jeno terbaring di tempat tidur. Aku juga butuh istirahat, sekarang aku hanya manusia. Dalam hati aku bertanya-tanya, kapan dia akan pulih?
Tapi kita akan segera tahu, rupanya Jeno pulih dengan cara yang di luar dugaanku.
Sangat cepat atau justru lama... bahkan entah kapan terbangun? Coba tebak.