19. second step: proceno

31.4K 7.8K 1.4K
                                        

"Aㅡah sakit!"

Aku ikut meringis ngilu melihat Lee Jeno tampak kesakitan. Wajah lancipnya dihiasi beberapa luka yang tampak aneh. Pasalnya, kulit Jeno sudah berfungsi seperi kulit manusia normal tapi dia masih belum punya darah manusia. Jadi luka lebam di wajahnya berwarna kehitaman, membuat Jeno tampak seperti boneka porselen yang rusak.


"Harusnya bukan gini cara pengalihan perhatiannya. Ini sih namanya menyiksa diri sendiri," ujarku sambil membantu mengompres lebam di kulitnya.

Jeno tersenyum miring. "Itu bukan cuma sekedar mengalihkan perhatian. Kamu pikir aku cari ribut cuma biar kamu nggak ketauan?"

"Oke... jadi aku terlalu percaya diri?" tanyaku, merasa sedikit kecewa padahal seharusnya tidak. Aku tidak seistimewa itu.

"Bercanda, sorry," Jeno terkekeh, menyebalkan. "Tadi aku emang liat Joe masih curiga dan pergi ke lorong tempat kamu menghilang, makanya aku langsung mancing Eric biar emosi. Kubilang lotion vampirnya bau kotoran cicak."

"Wow, itu agak... kurang ajar," timpalku.

"Iya, sengaja biar dia emosi. Kalau pun kamu nggak dalam bahaya pun aku bakal tetap memancing keributan sih. Ini bagian dari rencana. Rencanaku," lanjut Jeno.


Dahiku mengernyit mendengar pernyataan itu. Apa? Dia menyusun rencana dalam rencana ㅡtanpa sepengetahuanku? Gegabah sekali.


"Habis ini, kalau udah minum proceno, gigi taringku hilang kan? Selain itu butuh beberapa hari buat berubah dan pemulihan. Intinya, aku harus menjauh dari klan tanpa memancing kecurigaan. Makanya, berantem menurutku cara yang masuk akal," Jeno menjelaskan tanpa kuminta.


Benar juga, setelah ini dia harus lebih berhati-hati supaya tidak ketahuan. Akan makin sulit menjalani hidupnya sebagai vampir karena perlahan tubuhnya mulai terbentuk jadi organ manusia lagi. Seperti hidup di dua alam ㅡaku tahu persis rasanya.


"Hm... Oke. Iya, masuk akal," akhirnya aku menanggapi. "Aku bahkan nggak kepikiran sampai situ."

"Jenous," timpal Jeno, tersenyum sambil menunjuk tempat otaknya berada ㅡmenggunakan kata jenous alih-alih jenius.

"Oke, Jenous, jadi kamu udah siap dengan segala resiko dan rasa sakitnya?"

Lee Jeno mengangguk. "Yahㅡ setelah semua yang udah terjadi malam ini, aku nggak mungkin mundur kan? Makasih ya, udah mempertaruhkan nyawa."

"Sama-sama," jawabku singkat.




Saat menatap Jeno yang tersenyum diterangi cahaya bulan dini hari dari jendela kamarku, perasaan itu muncul lagi.

Seperti ada bagian dari diriku yang masih bertanya-tanya kenapa aku harus melakukan ini semua untuknya? Aku berusaha menganggap ini semua balas budi atas kebaikannya, tapi sudut hatiku yang jujur mengatakan tidak. Ini bukan suatu hal yang boleh terjadi. Perasaan suka sekecil apa pun dilarang di antara kami.

Kucingku masuk dari celah pintu kamar, mengeong penuh harap. Aku baru ingat dia belum diberi makan karena aku terlalu sibuk dengan Jeno sejak kemarin. Langsung kuangkat dia dan kubawa ke sudut kamar lalu mengisi tempat makannya dengan makanan kucing.

"Maaf, aku lupa," ucapku sambil mengelus kepala Kucing. "Makan yang banyak."

Kudengar Jeno menggeliat, di saat yang sama terdengar bel pintu depan berbunyi. Aku terkesiap ㅡsiapa yang datang dini hari begini? Tapi tidak dengan Lee Jeno, dengan santai dia melangkah keluar kamar.

"Biar aku aja," ujarnya.

"Eh tapiㅡ emang kamu tau itu siapa? Hey!"


Pertanyaanku diabaikan. Aku jadi paranoid mendadak. Bagaimana kalau Jeno menipuku dan sekarang teman-temannya datang untuk membunuhku ramai-ramai? Sulit bagiku untuk percaya pada siapa pun, jangan salahkan rasa paranoid ini.

Werevamp ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang