Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yang bingung sama penjelasan di chapter sebelumnya, ini ada versi visual wkwkw
Jadi intinya si adek tuh dibikin karena Jude pengen jadi werevamp tanpa ritual, manfaatin mama werevamp. Tapi Jude keburu dibunuh Sharon, makanya adek masih hidup.
Kalau Sharon suka sama Jeno, dia takut dimanfaatin produksi anak kayak ibunya. Sebaliknya, kalau Jeno suka beneran sama Sharon dia takut nggak bisa menahan diri minum darahnya bcs vampir candu ke darah manusia yang dia cintai.
×××
Pertanyaan sederhana Renjun membuatku gelisah diam-diam. Ya, pertanyaan tentang aku menyukai Jeno sungguhan atau tidak walaupun kami hanya pura-pura berpacaran. Mungkin kalian akan menangkap pertanyaan dan sikap Renjun sebagai kode kalau dia mungkin suka padaku.
Oke, aku memang termasuk cantik. Tapi bagiku sikap Renjun bukan berarti sinyal rasa suka, justru malah menimbulkan kecemasan baru.
Pertama, Renjun sangat curiga pada Jeno. Mungkin dia tahu kalau temannya itu vampir? Bahaya kalau dia sampai tahu.
Kedua, diriku sendiri. Kalau aku jatuh cinta pada Jeno... entahlah. Aku takut dia memanfaatkanku untuk menghasilkan anak keturunan werevamp. Walaupun hatiku mengatakan Jeno tidak mungkin sejahat itu, tapi tetap saja aku trauma.
"Rongrong!!!"
Mendengar suara melengking itu aku tersentak dari lamunan. Siapa lagi yang memanggilku Rongrong kalau bukan Zhong Chenle? Aku menatapnya setelah mengerjap beberapa kali. Dia menyodorkan kertas padaku ㅡhasil latihan soalnya barusan.
Aku hanya tertawa garing dan melanjutkan memeriksa jawabannya. "Wow, lumayan. Banyak kemajuan daripada yang sebelum-sebelumnya," ucapku jujur.
"Serius? Whoa," mata Chenle membulat, kagum pada dirinya sendiri.
"Iya. Tapi kamu lama banget, coba lebih cepet kayak Renjun," komentarku lagi.
"Oke," Chenle mengangguk-angguk.
"Um... ngomong-ngomong... kamu nggak apa-apa?" aku memberanikan diri bertanya pada Chenle, tentunya dengan sangat hati-hati.
Raut wajah Renjun yang sedang main game di ponsel tampak langsung kaku mengantisipasi jawaban Chenle, tapi di luar dugaan kami anak itu malah tersenyum lebar.
"Emang harusnya kenapa? Ahㅡ soal yang waktu itu? Nggak apa-apa kok hehe," ujarnya. "Maaf, waktu itu aku cuma kaget, jadi sedih. Tapi sekarang all is well."
Aku ikut tersenyum lega melihat Chenle tampak ceria seperti biasa. "Bagus deh kalau semua baik-baik aja sekarang. Jangan sedih lagi ya."
"Nggak lah," Chenle terkekeh. "Kan ada Renpule sama Rongpule, jadi nggak akan sedih."