Jam lima sore, aku sudah siap di salah satu dari ratusan ruangan di kantor SM Entertainment. Harusnya orang-orang yang akan jadi muridku sudah ada di sini, tapi aku memaklumi kalau mereka telat. Siapa sih yang semangat kalau menyangkut belajar?
Sambil menunggu mereka datang, biar kuceritakan sedikit tentang keluargaku. Kami tinggal di desa kecil di Amerika, kedua orang tuaku vampir. Kalau tidak salah, orang tuaku jadi vampir sejak tahun 1800-an. Sementara aku lahir tahun 1920 sebagai vampir darah murni.
Keluargaku sebenarnya mulai kacau sejak ayahku memutuskan jadi werevamp karena mulai bosan hidup jadi vampir. Otomatis ibuku juga harus jadi werevamp karena vampir dan manusia tidak boleh saling mencintai. Kenapa? Biar kuberitahu satu hal; kalau vampir jatuh cinta pada manusia, dia justru akan semakin candu pada darah manusia tersebut.
Tidak ada yang ingin membunuh orang yang dia cintai kan?
Itu alasan kenapa vampir tidak boleh jatuh cinta pada manusia. Bahaya, sama saja mempertaruhkan nyawa orang yang dia sayangi.
Sialnya, ayahku meninggal sepuluh tahun setelah jadi werevamp. Sialnya lagi, ibuku bodoh. Aku tahu dia kesepian dan hidup kami pas-pasan, jadi entah sejak kapan dia pacaran dengan vampir. Ya, bodoh kan?
Nama si brengsek itu Jude. Ibuku menganggap cinta Jude terlalu dalam sampai lelaki itu sanggup menahan godaan meminum darah ibuku sampai habis. Padahal fakta sebenarnya sangat jelasㅡ Jude tidak pernah mencintai ibuku!
Dia punya tujuan lain, sesuatu uang sangat jahat. Jude ingin jadi werevamp dengan cara instan ㅡminum darah keturunan werevamp.
Ohㅡ kalian belum mengerti juga? Jude ingin menikahi ibuku lalu membunuh anak mereka demi keinginan biadabnya.
Ya, dia setega itu.
Untung ibuku akhirnya cukup waras untuk mempercayai kata-kataku. Dia sudah hamil, tapi belum terlambat untuk menyelamatkan bayi tidak berdosa dari Jude yang sinting. Akhirnya dia kabur ke Asia sementara aku menghalangi Jude mengetahui pelarian itu.
Kami sempat berkirim surat beberapa kali sebelum kabar ibuku menghilang di Shanghai. Selanjutnya kacau, aku berkelahi dengan Jude sampi dia... mati. Ya, aku pembunuh ㅡsekarang kalian tahu.
Wah, sepertinya ada yang datang. Kita lanjut cerita tentang keluargaku lain kali ya?
"Hai," ucapku sambil meremas pinggiran modul bahasa Mandarin.
"Hai," sapa makhluk yang baru datang. Dia tampak mengantuk.
"Kamu Renjun atau Chenle?" tanyaku to the point.
"Wow, kamu serius nggak tau?" tanya anak itu.
"Ngㅡ sorry. Harusnya aku tau, iya kan? Tapi maaf, aku nggak tau," jawabku tidak enak.
Raut mengantuk di wajahnya secara drastis berubah jadi jahil. Ia dengan antusias duduk menghadapku.
"Coba tebak, aku Renjun atau Chenle?" tanyanya.
Apa-apaan lagi ini? Aku menatapnya bingung. Dari mana coba aku bisa tahu? Tanya Jeno sekarang juga? Tidak bisa. Tadi dia bilang baru bisa dihubungi setelah jam enam.
"Kok diem? Aku nggak mood belajar nih. Lagian kamu nggak denger bahasa Koreaku udah lancar gini?" ujarnya.
"Ck- kamu ini aneh. Kalau bahasa Koreamu udah lancar, kenapa masih disuruh belajar? Pasti belum sefasih itu," aku berkilah, berusaha professional walau sebenarnya tidak minat juga jadi guru.
Anak itu tertawa sarkastik.
"Beneran kok, yang belum lancar itu Chenle! Aku jauh lebih cerdas makanya udah fasih duluan."
Setelah mencerna kata-katanya, aku tidak bisa menahan tawa. Jadi ternyata dia Renjun? Belum pernah aku bertemu orang yang kebodohannya tampak di saat dia mengaku cerdas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Werevamp ✓
FanfictionBukan cuma manusia yang bisa jadi vampire, vampire juga bisa jadi manusia lagi loh! Tidak percaya? Ikuti aku dan Lee Jeno, kami werevamp ㅡum, maksudnya werevamp dan calon werevamp. ©smallnoona 2018
