Terlalu banyak hal yang menyerang pikiranku di saat yang bersamaan. Semua berkumpul jadi satu seperti benang kusut. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah melihat sosok Jinsoo di foto keluarga Nam. Dan sekarang saat membuka mata, alih-alih ruangan asing aku melihat langit-langit rumahku sendiri.
Sendirian, berbaring di atas sofa. Hening tanpa ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun. Di mana Renjun? Kenapa aku ada di rumah? Apa aku pingsan? Tanganku masih agak gemetaran saat perlahan duduk. Saat tidak sengaja menyentuh wajah, basah ㅡ air mata.
"Eh? Udah bangun?"
Aku menoleh pada sumber suara yang sangat familiar. Huang Renjun, berdiri di ujung lorong yang menuju ke dapur. Mungkin langkahnya seringan peri sampai tidak terdengar sama sekali. Di tangannya masih digenggam gelas berisi air putih yang tinggal setengah. Renjun segera meletakkan gelas itu di meja lalu menghampiriku.
"Renjun..." ujarku lirih. "Aku kenapa? Kenapa kita di sini?"
"Kamu pingsan tadi," jawabnya, menatapku khawatir.
"Pingsan...?"
"Iya. Kenapa sih? Jangan-jangan masuk angin lagi gara-gara aku?" dia menyentuhkan punggung tangan ke keningku.
Aku langsung ingat lagi pada keluarga Nam. Bahwa Jia Huaning, adikku, diadopsi oleh mereka. Dan kenyataan kalau ternyata namanya diubah lagi menjadi Nam Jinsoo. Gadis rapuh yang menjadi titik awal segala masalah hidupku selama beberapa bulan terakhir.
"Jinsoo... Nam Jinsoo..." gumamku lagi sambil mencengkeram lengan hoodie Renjun. Air mata mulai berlarian lagi menuruni pipiku.
"Jinsoo? Dia Jia Huaning kan? Terus kenapa? Kenapa kamu malah nangis?" tanya Renjun, alisnya bertaut tanda kebingungan.
"Renjun," isakku. "Jinsoo... Nam Jinsoo itu sekarang sakit ㅡdia sakit parah. Adikku, dia sakit dan mungkin nggak akan bisa sembuh..."
Renjun makin bingung setelah mendengar jawabanku. Apalagi isakanku makin tidak terkendali. Dadaku sakit sekali, ingin berteriak tapi tidak sanggup. Kenapa takdir begitu keterlaluan? Aku berhasil menemukan adikku setelah seumur hidup mencari, tapi kenapa orangnya harus Nam Jinsoo? Kenapa harus anak itu dari milyaran orang yang ada di dunia ini?
"Hey, tenang dulu. Aku nggak ngertiㅡ kamu tau dari mana??? Kamu kenal Jinsoo?" tanya Renjun.
"Dia alasan kenapa Jeno mau berubah lagi manusia. Demi Nam Jinsoo, teman masa kecilnya, cinta pertamanya. Jeno nggak bisa ada terlalu dekat sama anak itu sejak diubah jadi vampir. Kamu tau kan kenapa?" aku menatap nanar kedua mata Renjun.
"Karena... bau darahnya..." Renjun balik menatapku.
"Iya. Karena itu," aku mengangguk sambil sedikit menyingkirkan rambut yang basah karena air mata. "Jinsoo sakit ataksia, hidupnya nggak lama lagi. Jeno berharap dia bisa jaga Jinsoo walaupun cuma sebentar, dalam wujud manusia, bukan vampir."
"Berarti selama ini kamu udah tau tentang Jinsoo dari cerita Jeno... tanpa terpikir sedikit pun kalau dia itu adikmu?" ucap Renjun perlahan.
Aku mengangguk dengan hati terluka. Rasa bersalah menggerogotiku karena diam-diam pernah menginginkan Jinsoo mati saja daripada menyusahkan banyak orang. Aku pernah menganggap dia parasit yang membuatku merasa dimanfaatkan oleh Jeno. Menjijikan sekaliㅡ aku benci diriku sendiri.
"Tapi... Kamu yakin nggak salah orang? Nam Jinsoo kan nama yang lumayan umum. Ahㅡ foto yang tadi ya? Siapa tau kan cuma mirip?" kata Renjun.
"Nggak, Renjun," gelengku lemah. "Aku yakin Jia Huaning atau Nam Jinsoo adikku dan Jinsoo yang selama ini Jeno lindungi itu orang yang sama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Werevamp ✓
FanfictionBukan cuma manusia yang bisa jadi vampire, vampire juga bisa jadi manusia lagi loh! Tidak percaya? Ikuti aku dan Lee Jeno, kami werevamp ㅡum, maksudnya werevamp dan calon werevamp. ©smallnoona 2018
