Seingatku kemarin setelah mengompres mata Jeno, kami mengobrol sampai ketiduran.
Sebelumnya dia belum pernah secerewet itu. Jeno menceritakan tentang keluarganya, teman-temannya, kehidupan artis yang melelahkan, kucing-kucing peliharaannya. Anehnya, tumben sekali dia tidak membahas gadisnya. Jinsoo, tidak sekalipun nama itu kekuar dari mulutnya kemarin malam.
Entahlah, mungkin Lee Jeno mulai cemas. Tinggal satu ritual tersisa sebelum dia berubah menjadi werevamp. Kurasa dia ingin menghindar sejenak dari hal-hal yang memicu kecemasan. Termasuk gadis itu. Alasan utama kami bertemu dan masih bersama sampai sekarang.
Ironis kan?
Memang bagaimanapun aku tidak mungkin membenci Jinsoo. Tanpa gadis itu, Jeno juga tidak akan membutuhkanku.
Atau... lebih baik sejak awal harusnya dia tidak ada? Jadi aku tidak usah bertemu Jeno, terlibat urusannya, jatuh hati sepihak juga. Ya... kurasa lebih baik begitu.
Sinar matahari masih redup saat aku membuka mata keesokan paginya. Setelah mimpi pendek tentang diriku sendiri yang tersesat di tengah hutan. Setengah sadar aku mengaduh karena kaget. Ternyata aku tidur di sofa dan berguling sampai jatuh ke lantai yang dialasi karpet bulu tebal.
"Argh," gerutuku, agak sakit jatuh tiba-tiba begini.
Untung badanku dilapisi selimut, jadi benturannya tidak begitu menyakitkan. Sedikit demi sedikit kesadaran dan akal sehatku terkumpul, kulihat Lee Jeno berbaring miring menghadapku. Mungkin jaraknya hanya sekitar dua puluh sentimeter.
"Tsk- hampir aja," decakku.
Ya, andai Jeno berbaring sedikit lebih dekat dengan tepi sofa, barusan aku sudah jatuh menimpanya. Matanya masih terpejam, dia tidur. Setelah kedua bola mata itu berfungsi lagi, sekarang rasa kantuk manusianya juga kembali.
Kuulurkan jari ke memar tipis yang belum juga hilang dari sekitar matanya. Mungkin mata Jeno akan pulih dalam hitungan hari. Walaupun dia tidak mengeluh, tapi aku masih ingat kalau proses penyembuhan ini sakit. Kulit di sekitar mata rasanya berdenyut nyeri dan panas.
Aku tersentak saat tiba-tiba telapak tangan Jeno bergerak memegang tanganku di wajahnya. Tapi matanya masih terpejam. Ia menghela napas tanpa udara seperti biasa.
"Kok tau-tau jadi di bawah sih? Kamu jatuh ya?" gumamnya agak tidak jelas.
"Ahㅡ iya, tadi waktu aku bangun nggak sengaja berguling terus jadinya jatuh," sahutku.
Jeno membuka matanya sambil mengerang. Selama beberapa saat dia mengerjap untuk menyesuaikan diri dengan cahaya di ruangan ini.
"Masih sakit?" tanyaku, mengusap kelopak matanya dengan jempol.
"Masih. Sialㅡ kepalaku jadi ikut sakit," gerutunya.
"Kayaknya kamu butuh asupan darah. Sebentarㅡ"
"Nggak usah," cegah Jeno, mencegah tanganku ditarik dari genggamannya. "Telapak tangan kamu, suhu tubuh alami manusia, rasanya enak di kulitku yang sakit."
Aku bergeming, membiarkan telapak tanganku tetat di sisi kepala Jeno. Dia menatapku, redup dari bola mata yang masih terhalang selaput tipis.
"Oke. Bagus kalau bisa bikin kamu merasa lebih baik," aku tersenyum.
Sebenarnya ini sangat berbahaya, posisi yang sangat berbahaya.
Meringkuk berhadapan, sedekat ini, dengan tanganku dalam genggamannya ㅡsekaligus menyentuh wajahnya. Harusnya tidak kulakukan. Ini semua hanya akan menyakiti diriku sendiri nantinya. Saat Jeno sudah tidak membutuhkanku lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Werevamp ✓
FanfictionBukan cuma manusia yang bisa jadi vampire, vampire juga bisa jadi manusia lagi loh! Tidak percaya? Ikuti aku dan Lee Jeno, kami werevamp ㅡum, maksudnya werevamp dan calon werevamp. ©smallnoona 2018
