54. april 23 [END]

48.1K 7.5K 3K
                                        

1 M THANK YOU! 💖

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

1 M THANK YOU! 💖






















Bumi terus mengorbit matahari dengan atau tanpa kemauanku. Walau aku kadang ingin waktu berhenti saja, atau hidupku yang berhenti, tapi tidak bisa. Aku sempat bilang pada Renjun, apa sebaiknya aku mati saja? Tapi dia jawab terlalu konyol berpikir sependek itu. Renjun bilang, mati tidak akan menyelesaikan masalah.

Akhirnya aku berdamai dengan kenyataan, sedikit demi sedikit. Kenyataan kalau adik yang kucari seumur hidup sekarang hanya bisa kujumpai dalam bentuk abu kremasi. Dan kenyataan kalau Lee Jeno sudah menganggapku tidak ada. Sudah kubilang, dia yang ingin dianggap tidak ada tapi justru sebaliknya. Di mata dan ingatannya sekarang aku hanya kabut.

Pelan-pelan aku menata kehidupan walau dengan hati berantakan setengah mati. Pertama, aku setuju jadi anak angkat keluarga Pak Nam Jiyoung ㅡdengan satu catatan; aku belum bisa sepenuhnya tinggal bersama mereka karena canggung. Kehangatan mereka di satu sisi membuatku bahagia bisa mengenang Jinsoo, tapi di sisi lain kalian tahu sendiri betapa menyakitkannya mengingat Jinsoo. Mereka memaklumi kalau tiba-tiba aku masih menangis karena melihat foto Jinsoo atau barang-barangnya di rumah mewah itu.

Kedua, aku mulai kuliah sekaligus mengambil pekerjaan translator magang di SM. Lebih sibuk lebih baik, perlahan aku akan menemukan ritme kehidupan baru. Sengaja juga supaya Jeno tahu aku tidak menghindar seperti dirinya. Kalau kebetulan berpapasan atau satu project dengan Jeno, aku bersikap profesional. Kuturuti kemauannya untuk pura-pura tidak kenal, biar aku hanya kenal Renjun dan Chenle saja.

Tapi... di balik semua usaha itu... aku masih sering menangis sendirian sebelum tidur. Meringkuk di rumah yang pernah kutinggali bersama Jeno dan kucing-kucing kami. Aku bisa tiba-tiba sesenggukan di jalan kalau kebetulan berpapasan dengan penjual ubi bakar, atau mendengar lagu Day6. Ya, sekarang aku anti apa pun yang berhubungan dengan Day6. Terlalu menyakitkan, terlalu mengingatkanku pada Jeno yang kukenal.

Aku benci semua hal yang dulu jadi favoritku karena Jeno dulu selalu memberiku semua itu. Gummy bear, macchiato, Day6, aku benci semuanya. Hal terakhir yang jadi pertahananku adalah rumah ini. Daripada tinggal dengan keluarga baruku, aku masih lebih sering pulang ke sini. Harapanku masih sama, suatu saat tanpa kuduga Jeno kembali ke rumah ini dan bilang dia juga sudah berdamai dengan keadaan.

Walaupun aku tahu, rasanya itu semua mustahil. Bodoh kan?

"Oh iya, ulang tahun Jeno ya? Maaf bu, aku harus lembur. Ahㅡ iya, terima kasih. Oke, nanti aku pulang ke rumah secepatnya."

Senyum palsu memudar bersamaan dengan aku memutus sambungan telepon. Dari ibu angkatku, kami baru saja membicarakan makan malam keluargaku dengan keluarga Jeno untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi kalian sudah dengar sendiri tadi? Ya, aku memilih pura-pura lembur untuk menghindari makan malam itu. Aku tidak mau bertemu Lee Jeno.

Werevamp ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang