Author's note:
Um... sebagai penulis aku nggak mau manja berharap atau maksa pembaca buat kasih feedback, tapi aku mau kasih tau dikit cara mengapresiasi cerita bikinanku yaaa hehe
Pertama, kalau kamu vote, cerita ini bisa naik rankingnya dan muncul di rekomendasi cerita.
Kalau kasih komentar, bisa bikin penulis tau tanggapan pembacanya dan tentunya bikin cerita ini lebih dikenal kalau notifnya lewat di home wattpad mutual kamu.
Kalau share lebih bantu lagi nunjukin ke orang lain buat mengenal cerita ini.
Nggak maksa sih, cuma semua penulis pasti seneng kalau dikasih feedback. Makasih ya yang udah baca dan kasih feedback sampai sekarang! 💗
*****
"Kadang aku heran, selama ini kamu kerja keras tapi kenapa hidup pas-pasan gini?" tanya Jeno sambil menggeliat-geliat di lantai kamarku.
Sambil menggigit bibir, aku memikirkan jawaban bohong. Walaupun sudah dipersiapkan, tapi kaget juga kalau ditanya mendadak begini. Selama ini uangku kan untuk membayar detektif. Tapi tidak mungkin memberi tahu Lee Jeno. Aku belum bisa mempercayai orang ini sepenuhnya.
"Ohㅡ anu. Buat sekolah kan? Kamu tau sendiri biaya sekolah sebanyak apa," jawabku.
Padahal untuk bisa sekolah di SOPA aku sebelumnya sudah memalsukan berbagai dokumen supaya bisa dapat beasiswa. Yah, aku bukan orang baik-baik. Kehidupan memaksaku melakukan berbagai hal yang melanggar peraturan, tapi sebisa mungkin aku berusaha tidak menyakiti orang lain.
Kenapa memilih SOPA? Entahlah, random. Mungkin karena itu yang paling mahal dan dekat dari rumahku selama tinggal di Seoul. Orang-orang akan mengira aku kerja keras demi pendidikan.
"Biaya mahal tapi aku drop out, mending uangnya buat foya-foya," kelakar Jeno.
"Daripada mikir foya-foya mending kamu bilang sekarang keputusannya," aku menanggapi dengan serius.
"Kok aku jadi kayak mau diputusin gini?" Jeno masih saja bercanda, dia memasang tampang sok sedih.
"Be blind or be silent?" tanyaku, mengembalikan topik yang memang harusnya jadi alasan pertemuan kami.
Tampaknya Lee Jeno berhenti main-main setelah mendengar penekanan serius pada kalimatku. Dia menerawang ke luar jendela kamar. Ya, kami ada di dalam kamar tempat Jeno biasa numpang tidur kalau kami diskusi sampai larut malam. Kucing berbaring di pahanya, bermain dengan jari-jari Jeno.
"Aku bingung. Akhir-akhir ini udah terlalu banyak melanggar peraturan. Kalau mulut atau mataku nggak berfungsi dengan baik, agak susah cari alasan ke manajer dan agensi," kata Jeno.
"Ya udah, nggak masalah sebenernya. Tunggu sampai kamu bisa ambil cuti atau semacamnya aja," kuutarakan ide sederhanaku.
Air muka Jeno berubah dan ia langsung menggeleng. "Nggak. Kita nggak boleh buang-buang waktu. Aku harus segera jadi manusia."
Gotchaㅡ aku tersenyum tipis.
Sebenarnya sudah beberapa kali aku menangkap kalau Jeno punya target. Dia harus berubah secepatnya. Tapi kenapa?
"Ada yang kamu sembunyikan ya? Kenapa harus buru-buru?" selidikku.
"Nggak ada," jawab Jeno setelah sejenak mata vampirnya terbeliak. "Kan aku udah bilang, jadi vampir nggak enak, Ron baby."
KAMU SEDANG MEMBACA
Werevamp ✓
FanfictionBukan cuma manusia yang bisa jadi vampire, vampire juga bisa jadi manusia lagi loh! Tidak percaya? Ikuti aku dan Lee Jeno, kami werevamp ㅡum, maksudnya werevamp dan calon werevamp. ©smallnoona 2018
